Dazzling Girl: Fire

Kupikir kau harus membawa Jung Eun pada seorang psikolog.

 

 


Naa Mi tersenyum samar dengan riak terkejut dari kedua mata membulatnya.  Rembesan air matanya bahkan telah menganak sungai di pipinya tanpa bisa ia kendalikan.  “Kau.”  Naa Mi mengucap terbata.  “Apa katamu?  Psikolog?  Jung Eun?  Anakku?  Op—ppa?”

“Percaya padaku, anakmu, Jung Eun terutama, dia tidak baik-baik saja.”

Oppa mau bilang bahwa anakku gila?”

“Ayolah, Naa Mi-ya.”  Jaejoong mendesah panjang.  “Kau bukan wanita desa yang akan berpikir bahwa konsultasi pada psikolog hanya dilakukan oleh seorang yang gila.”

Naa Mi menarik nafasnya panjang.  Air mata tersisa di pipinya segera ia hapus dan rengutan keningnya berikut pandangan makin menajam dilemparnya pada Jaejoong.  “Kenapa oppa menyarankan itu?  Jung Eun baik-baik saja, oppa?”

“Mudah tersinggung, sering bicara kasar dan membentak itu kau bilang baik-baik saja?”

“Bukankah anak seusia Jung Eun memang sulit di atur?”

“Apa kau buta, Naa Mi-ya?”  Sindir Jaejoong dengan nada prihatin.  “Anakmu tidak baik-baik saja.  Dia tinggal di rumah yang kedua orang tuanya selalu bertengkar jika bertemu.  Kau pikir itu tidak mempengaruhinya?  Terlebih ketika dia melihat appa-nya membawa wanita lain ke rumah dan memasuki kamarmu.  Entah apa yang anak itu lihat.”

Naa Mi terdiam, sibuk memikirkan tentang ucapan Jaejoong dan perilaku Jung Eun yang dipikirnya wajar namun ternyata tidak.  Oh, sungguh buruknya ia jika memang apa yang selama ini terjadi menjadi alasan dari sikap Jung Eun.

“Apa kau tahu bahwa Jung Eun sering membuat masalah di sekolah?”

“Masalah?”  Alis Naa Mi langsung berpautan.  Pandangan putus asanya begitu tampak dan wanita itu benar-benar merasa buruk sebagai eomma, juga pilihan yang selama ini di ambilnya.  “Masalah apa?  Aku tidak tahu apapun.  Kenapa guru Jung Eun tidak mengatakannya padaku?  dan oppa tahu dari mana?”

“Dia sering tidak mengerjakan tugas dan membantah ucapan gurunya.  Bukan hanya itu, dia juga sering bertengkar dan bahkan berkelahi dengan teman-temannya.  Emosinya mudah terpancing, dia sangat mudah marah.”

“Tapi, bagaimana bisa?  Kenapa tidak satupun gurunya atau orang tua teman-temannya mengatakan itu padaku?”

“Jung Eun adalah cucu dari pemilik sekolah, dia anak dari pewaris sekolah itu, dan tentunya suatu saat sekolah itupun bisa jadi adalah miliknya.  Kau pikir, mereka berani untuk mengatakan itu?  Ditambah kenyataan tentang kacaunya hubunganmu dan Kyuhyun yang tersebar, siapa yang tega menegurnya atau sekedar memberinya pelajaran?”

Naa Mi memejamkan matanya rapat-rapat dengan kepalanya yang mulai terasa pening.  Menutup wajahnya dengan kedua tangannya, wanita itu tertunduk lemas.

“Lalu oppaOppa tahu darimana?”  Tanyanya, menoleh dan membuka sedikit tangkupan tangannya dengan sebagian matanya yang tampak.

“Saat aku menjemput Jung Eun, aku sengaja datang lebih awal dan melihat pertengkarannya dengan seorang murid.  Sedikit memaksa, akhirnya kepala sekolah mengatakan semuanya.”

“Oh Tuhan.”  Naa Mi makin menunduk lemas dengan suara isaknya yang tidak lama kemudian terdengar—menarik Jaejoong untuk sekedar menepuk pundak bergetar wanita itu yang kemudian di peluknya.

 

 

 

***

Kyuhyun melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dengan waktu yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.  Cukup baginya untuk sekadar muncul di rumah tanpa perlu berlama-lama.

“Kau hanya sebentar, ‘kan?”  Wanita yang merangkul sebelah lengan Kyuhyun kemudian meletakkan kepalanya nyaman pada bahu pria itu padahal yang sedang diperlakukannya seperti itu tengah menyetir mobil—bertanya.

“Ya, tentu.”  Kyuhyun mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan mulai ramai dihadapannya.  “Hanya menyapa anak-anak seperti biasa.  Kau juga tahu itu, ‘kan?”

“Tapi Naa Mi sudah datang.”

“Apa bedanya?”  Kyuhyun sedikit tergelak.  “Wanita itu bukan siapa-siapa selain eomma dari anak-anakku, dan menantu kesayangan eomma-ku.”

“Aku iri padanya,”

“Untuk?”  Kyuhyun menoleh sebentar pada Mi Rae yang justru tengah menatap lurus kedepan.

“Dia lahir dari keluarga berpengaruh, menjalin pertemanan dengan orang berpengaruh, menikah dan berkeluarga dari pria juga keluarga paling berpengaruh di Asia, memiliki putra dan putri dari pria itu, memiliki bisnis yang sukses, bahkan mendapatkan cinta dari semua orang yang hanya mengetahuinya sebatas nama.”

Kyuhyun tersenyum tipis dengan kecupan singkat yang diberikannya pada puncuk kepala Mi Rae.  “Jangan berkata seperti itu.  Aku sedih mendengarnya.”

“Tapi aku memiliki sesuatu yang dia tidak bisa miliki, dan aku juga sudah mengatakan itu padanya ketika terakhir kali dia mengajakku bertemu.”  Suara Mi Rae tiba-tiba saja berubah semangat.  Rangkulan tangannya pada lengan Kyuhyun terlepas dan wanita itu langsung duduk tegak menatap Kyuhyun dengan binar bahagia.  “Saat aku bertanya tentang apa lagi yang dia inginkan sementara kehidupannya telah begitu sempurna, dia berkata bahwa dia menginginkan hatimu.  Yang sayangnya, itu adalah milikku seorang, bukan?”

Kyuhyun mengernyitkan keningnya samar saat Mi Rae menyelesaikan kalimatnya.  “Apa?”

“Ya, aku berkata padanya bahwa dia lahir dari keluarga terpandang, menikah dengan pria yang semua wanita inginkan, bahkan memiliki sepasang anak dari pria itu, lalu apa lagi yang kau inginkan?  Aku bertanya begitu padanya.  Dan kemudian, dia berkata bahwa dia menginginkan suaminya, hati suaminya.  Kupikir dia terlalu serakah.  Benar bukan, Kyu?”  Mi Rae mencari pembenaran dari Kyuhyun, kembali mengalungkan tangannya pada lengan pria itu—kecupan singkatnya mendarat pada leher Kyuhyun yang langsung menghilangkan raut mengeras pria itu.

Menoleh, Kyuhyun mengangguk.  “Ya,”

 

 

 

***

Kyuhyun menyampirkan jas mahal berwarna biru gelapnya pada salah satu pundaknya dengan kemeja berwarna putih kusut yang ia kenakan dimana beberapa bagiannya keluar dari dalam celana bahannya.  Sungguh, sama sekali tidak menunjukkan satu kerapian apapaun ditambah rambut acak-acakannya.  Entah pekerjaan apa yang pria itu lakukan dan jadikan alasan, hampir semua orang rumahnya tahu bahwa kekacauan dirinya itu bukan berasal dari kantor apalagi pekerjaan.

Melangkah santai begitu kakinya menginjak lantai marmer halaman depan rumahnya, Kyuhun berjalan begitu saja melewati beberapa tukang kebun juga pelayan yang tengah bekerja seperti biasa ketika pagi datang.

Menaiki satu persatu anak tangga yang kemudian membawanya pada pintu utama rumah yang sudah terbuka lebar sebagaimana biasa, Kyuhyun bahkan tidak perlu mengabarkan kedatangannya.

Pemandangan biasa yang selalu terjadi jika Naa Mi berada di rumah dan ia pulang sebagaimana hari ini adalah, wanita itu menunggunya di ruang tamu utama—duduk pada salah satu sofa hanya untuk membuat paginya di awali dengan pertengkaran.

16051101_5

 

“Kenapa tidak tinggal saja disana?”

Kyuhyun memutar matanya malas, Naa Mi selalu memiliki bahan pertengkaran baru selama beberapa tahun belakangan ini.  “Duduklah, ada yang ingin kusampaikan.”

Suara wanita itu yang melembut dan tidak setinggi, semenyakitkan, juga semenusuk biasanya—menghentikan langkah pertama Kyuhyun menginjak anak tangga yang akan membawanya menuju lantai dua rumah.  “Tentang anak kita, Jung Eun.”

Naa Mi memperjelas, mampu membuat Kyuhyun yang akan kembali melangkah dan tidak peduli langsung berbalik, mendekati Naa Mi yang sekali itu tampak lebih kacau dibanding pagi dimana wanita itu tahu perselingkuhannya dengan Mi Rae beberapa tahun lalu.

“Ada apa dengan Jung Eun?”  Alis Kyuhyun tersambung di antara dua garis tipis yang seolah hendak menjadi pemisah namun tidak bisa.  Wajah pria itu begitu serius, jelas—ini mengenai putrinya.  “Dia sakit?”  Tanyanya tidak sabar saat sudah berdiri dihadapan istrinya dan wanita itu tidak segera menjawab, masih menudukkan kepalanya dengan tangan meremas rambut panjangnya.  “Song Naa Mi.  Jangan bercanda tentang anak-anak!”

“Apa yang sudah kau lakukan, Cho Kyuhyun?”  Naa Mi mendongak, matanya berkaca-kaca.  “Kau jahat.  Kacau!  Brengsek!  Gila!  Kau binatang Cho Kyuhyun!”  Naa Mi membentak di antara tangisnya yang terdengar, berikut pukulan tangannya pada Kyuhyun yang sekali itu kembali membuat Kyuhyun muak.

“Lanjutkan makianmu.  Aku tidak peduli.”  Ucapnya santai dengan tangan melepas kasar cengkraman Naa Mi pada bajunya yang memang sudah terkoyak.  Hendak melangkah, ucapan Naa Mi kembali menghentikannya.

“Kau merusak Jung Eun!  Ini semua karenamu!  Mentalnya kacau dan dia harus mendatangi psikolog setiap minggu!  Kau!  Kau dan anjing itu—,”

“Apa katamu?”  Kyuhyun kembali berbalik dengan cengkraman kedua tangannya pada lengan Naa Mi dan membawa wanita yang tengah menangis itu agar berdiri, menatapnya balik untuk segala ucapannya barusan.  “Ulangi.  Jung Eun kenapa?  Ada apa dengannya!”

“Apa yang kau lakukan bersama anjing itu disini!  Jung Eun melihat semuanya bodoh!”  Naa Mi mengumpat.  Melepas kasar kedua tangan Kyuhyun yang meremasnya, wanita itu mengusap air matanya kasar meski tetes lain kembali meluncur.  “Beraninya kau bawa anjing itu kemari?  INI RUMAHKU!”

“Kau pikir ini hanya salahku?!  Kau!  Kau juga bersalah!”  Kyuhyun menunjuk begitu sadar dari keterkejutannya.  “Jika kau eomma yang baik kau tidak akan biarkan hal buruk itu menimpa Jung Eun!”

“Lalu kau!  Apa kau pikir kau sudah menjadi appa yang baik, huh!  Apa yang kau punya selain kekayaan dan rupa menarik?  Tidak ada!  Kau brengsek!  Tukang selingkuh!”

“DIAM!”  Kyuhyun membentak kencang, bersambung dengan teriakan lain yang lebih panjang dan itu terdengar dari lantai dua rumah mereka.

 

“Jung Eun!”  Keduanya memekik bersamaan menghentikan seketika pertengkaran yang bahkan belum sepenuhnya dimulai.  Melangkahkan kaki lebar bersamaan, keduanya seolah beradu tentang siapa yang lebih dulu sampai dan melihat apa yang terjadi pada Jung Eun hingga berteriak seperti tadi.

 

“Jung Eun-ah, kau baik-baik saja, nak?”  Baik Kyuhyun dan Naa Mi menanyakan pertanyaan serupa begitu langkah mereka hampir mencapai pintu kamar Jung Eun.  Berusaha mendobrak paksa pintu kamar terkunci itu, teriakan lain Naa Mi agar salah seorang pelayannya membawa kunci cadangan sebab Kyuhyun yang tidak juga berhasil membukanya, berakhir dengan bulatan mata keduanya begitu melihat keadaan Jung Eun.

Duduk meringkuk tepat dibawah meja belajarnya, tundukan dalam anak itu hingga menyentu lututnya berikut kedua tangannya yang berada di kedua telinganya—menghentak batin Kyuhyun dan Naa Mi sebagai orang tua.

 

Kami gagal.  Naa Mi membatin ketika pertama kali melihat Jung Eun yang bersikap seperti itu sementara Kyuhyun yang lebih bisa mengontrol diri langsung duduk di lantai, tepat dihadapan putrinya yang meringkuk sambil berusaha menarik Jung Eun agar keluar dari sana.  Sayangnya, usaha Kyuhyun berakhir dengan tangannya yang terluka sebab anak itu menusuknya menggunakan ujung bolpoin.

“Pergi!  Aku benci appa!  Aku benci eomma!  Aku benci kalian berdua!”  Teriakan Jung Eun berlanjut, melemaskan kedua kaki Naa Mi hingga ikut terduduk di lantai bersama tubuh kaku Kyuhyun, dan tubuh bergetar Jung Eun.  “PERGI!  AKU TIDAK MAU MELIHAT KALIAN!  PERGI SANA!”

Kyuhyun tersadar dari keterkejutannya begitu alas kaki berbentuk kelinci manis yang tadi putrinya kenakan telah berubah fungsi menjadi alat pukul, mengenai tubuhnya tanpa satupun cegahan—pria itu berdiri dari duduknya dengan wajah bingung sekaligus pucat yang tercetak jelas.  Dibelakangnya, Naa Mi mengekor meski langkah tertatih wanita yang terpaksa ikut meninggalkan kamar putrinya itu harus dibantu oleh salah seorang pelayan rumah yang ikut masuk dan menjadi saksi mata atas semua hal di rumah itu, tawa yang berubah tangis.

“Mari kita bercerai, Kyu.”  Sambil menangis tersedu tanpa berani menatap punggung Kyuhyun dihadapannya, Naa Mi berucap begitu pintu kamar putrinya kembali tertutup dengan tangisan menyayat yang belum juga usai dari dalam sana.  “Cukup beruntung Jung Woon baik-baik saja.  Kita bercerai saja, aku tidak mau anakku menjadi gila karena melihat kita bertengkar setiap hari.  Percuma saja mempertahankan rumah tangga ini jika hanya karena nama baik, hubungan kerja, atau apalah itu.  Alasan demi kebaikan anak-anak bahkan tidak bisa dikatakan baik lagi.  Kau pergilah bersama wanita itu, aku yang akan membujuk eomeonim agar menyetujui perceraian ini.”

Kedua tangan Kyuhyun mengepal kuat dengar getaran marah yang ikut mengiringi.  Melirik kesamping dimana Naa Mi sudah berjalan menuju kamar mereka, Kyuhyun mengedipkan mata memerahnya beberapa kali—berusaha untuk menahan air matanya dengan tangis putrinya yang masih terdengar dan itu melukainya.

Menelan ludahnya paksa, Kyuhyun sedikit mengusap wajahnya keras sebelum melanjutkan kembali langkahnya.  Niatnya untuk pagi yang sempurna dengan membersihkan badan dan berganti baju di rumah, kemudian sarapan bersama kedua anaknya berantakan.  Tidak ada salah satu dari beberapa hal itu yang kini bisa dilakukannya.  Rumahnya telah benar-benar berubah menjadi neraka.

 

Appa,”

Suara ringan dengan sosok berusia 10 tahun yang tingginya sudah mencapai pundaknya, menolehkan kepala Kyuhyun seketika.

13181381_1698444380429298_246082348_n

 

“Jung Woon-ah?”  Kyuhyun mengusap cepat titik air di kedua sudut matanya dan segera menghampiri Jung Woon, bocah yang entah bagaimana langsung tertawa dan memeluknya bagai ia adalah seorang appa yang baik.  Sedikit membungkukkan tubuhnya, pria itu tampak lebih tenang begitu melihat putranya yang terlihat lebih baik dibanding putrinya.

“Kau darimana?”  Tanya Kyuhyun sambil memberengut melihat putranya yang justru muncul dari teras depan rumah.  “Menginap di rumah Jaejoong lagi?  Sikumu kenapa?  Kau jatuh?  Apanya lagi yang terluka?  Bagaimana bisa terluka?”

“Aku baik-baik saja, appa.”  Jung Woon melepas tangan Kyuhyun dari tubuhnya sebab pria itu membuatnya berputar-putar dengan pandangannya yang meneliti seluruh hal pada tubuhnya setelah melihat luka kecil di salah satu siku tangannya.  “Ini hanya luka biasa.  Kemarin lusa aku dan seluruh teman-teman sekolahku pergi ke kebun binatang dan aku tidak sengaja terpeleset.”  Anak itu menjelaskan santai.  “Dan aku tidak menginap di rumah Jaejoong samchon, aku tidur di rumah.  Tadi aku keluar untuk mengambil beberapa daun dan bunga di taman depan untuk praktek kesenian hari ini saat appa dan eomma ada di kamar Jung Eun noona.”

“Kau,—”  melihat dan mendengar semuanya juga?  Kyuhyun membisu dengan pertanyaan yang hanya ia lanjutkan dalam hati.

“Jangan terlalu dipikirkan, Jung Eun noona akhir-akhir ini memang sering marah.”  Senyum di wajah Jung Woon kembali tampak dan Kyuhyun seperti ingin menangis ketika mendengar kalimat menenangkan putranya itu yang sungguh, tidak pantas ia terima.  Bahkan ketika sebelah tangan Jung Woon mengusap pipinya lembut, Kyuhyun baru ingat tentang—sudah berapa lama ia tidak menggenggam tangan anak-anaknya?  “Maka jangan sedih, oke?”

Kyuhyun tersenyum getir saat mendengarnya dan segera mengangguk.  Kembali menegakkan tubuhnya meski pandangannya masih tertuju pada Jung Woon, pria itu mulai memikirkan tentang salah satu rencana paginya yang mungkin bisa terlaksana.  “Ayo masuk, kita sarapan.”  Ajaknya.

“Aku sudah memiliki janji bersama teman-temanku untuk sarapan bersama di sekolah.  Karena itu kami berangkat lebih pagi dan membawa 2 bekal.  Apakah appa bisa mengantarku ke sekolah?”

Kyuhyun langsung tersenyum dan hendak mengangguk sebelum—sebelum ia sadar bahwa di mobilnya ada Mi Rae dan tidak mungkin baginya mempertemukan Jung Woon pada Mi Rae.

“Ayo appa,”

“Jung Woon-ah.”  Cegah Kyuhyun memegang tangan Jung Woon erat hingga bocah yang sudah hampir berlari menuju mobil appa-nya itu, kembali berbalik.

“Ya?  Ada apa?”

“Itu, appa—,”  Kyuhyun sekali lagi mendudukkan dirinya hingga bisa sejajar dengan Jung Woon meskipun setelah melakukan itu ia sedikit mendongak.  Sekali lagi, Kyuhyun tersadar—kapan terakhir kali ia berhadapan dengan Jung Woon dalam posisi ini?  Seingatnya dulu, dirinya belum mendongak ketika duduk untuk mensejajarkan pandangannya bersama bocah laki-lakinya ini.

“Ya?  Kenapa, appa?”  Jung Woon mengulang saat dirasanya Kyuhyun terlalu lama terdiam setelah mendudukkan dirinya.  “Appa tidak bisa mengantarku?”

“Itu—yya.  Ap—ppa tidak, bisa.  Maaf.”  Sesalnya, mengusap beberapa kali pundak kecil anaknya yang tidak sekecil dulu.

“Kenapa?”  Jung Woon bertanya dengan kepala sedikit meneleng.  “Karena ahjumma itu?  yang ada di mobil appa?”  Seringan kalimat yang keluar dari bibirnya, tangan Jung Woon bahkan tidak terhalang apapun saat menunjuk sosok yang duduk di samping kursi kemudi mobil appa-nya. “Aku ingin bertemu dengannya.”

“A—apa?  Apa?  Apa katamu?”

“Aku ingin bertemu dengannya, appa.”  Jung Woon sekali lagi berucap ringan.  Melepas kedua tangan Kyuhyun yang berada di pundaknya, anak itu langsung melangkah santai menuju mobil appa-nya dimana Cha Mi Rae, wanita yang sama sekali tidak menyembunyikan dirinya mulai menyesal karena tidak lakukan itu.

“Oh astaga, Jj—jung Woon-ah…. Jung Woon-ah!”  Kyuhyun mengacak rambutnya kasar begitu tersadar bahwa putranya itu—entah bagaimana sudah berada di sisi mobilnya dan mengetuk beberapa kali kaca depan mobil dimana Mi Rae berada disana, meminta wanita itu untuk keluar entah untuk maksud apa.

Ahjumma, bisakah kau keluar?  Sebentar saja,”  Jung Woon berucap saat ketukan tangannya tidak membuat wanita itu membuka pintu mobil, atau sekedar menurunkan jendelanya.

 

“Apa yang kau lakukan?”  Kyuhyun langsung membalik tubuh putranya agar berhadapan dengan ia dan memunggungi mobil dimana Mi Rae ada disana.

“Aku hanya ingin berkenalan dengan ahjumma itu, apa tidak boleh?”  Jung Woon memutar sedikit kepalanya dengan Kyuhyun yang sudah bertingkah bingung—begitupun Mi Rae yang tidak memiliki niatan sama sekali untuk muncul dihadapan salah satu anak Kyuhyun namun tidak memiliki cara untuk menghindar kecuali Kyuhyun segera masuk ke dalam mobil dan langsung melajukannya.

Sayang, harapan Mi Rae untuk kali ini tidak tercapai.  Bukannya membuka pintu kemudi untuk kemudian segera pergi dari kediaman mewah yang sering dipangilnya neraka ini, Kyuhyun justru membuka pintu disampingnya.  Memaksa ia untuk turun, keluar, dan berhadapan dengan putra Kyuhyun yang menurutnya sangat menakutkan itu.

“Turunlah,”  Kyuhyun berbisik ketika Mi Rae tidak juga segera turun meski ia sudah membukakannya pintu mobil.  “Jung Woon bilang dia ingin berkenalan denganmu.”

Sungguh, Cha Mi Rae tidak percaya dengan itu.  Namun karena Kyuhyun terus memaksanya, maka mau tidak mau ia akhirnya turun dari mobil, dan berhadapan dengan bocah yang memiliki sebagian darah Kyuhyun dan Naa Mi dalam tubuhnya.

“Namanya Cha Mi Rae, Jung Woon-ah…”  Kyuhyun memperkenalkan, bukannya membungkukkan tubuhnya sebagaimana yang biasa orang Korea lakukan untuk sebuah salam, Jung Woon justru mengulurkan tangannya—hendak menyalami wanita yang terlanjur membungkukkan tubuh padanya itu.

Melirik Kyuhyun dengan raut cemas seolah memiliki firasat buruk, anggukan kepala Kyuhyun agar Mi Rae membalas uluran tangan putranya benar-benar berbuah petaka.

Menarik cepat tangan Mi Rae saat ujung jarinya baru saja menyentuh tangannya, Jung Woon menggigit keras jemari Mi Rae bagai ia menggigit daging alot hingga teriakan sakit wanita itu mengalahkan teriakan eomma dan noona-nya tadi.

 

“Jung Woon-ah!”  Kyuhyun langsung berteriak kaget dan menarik mundur tubuh anaknya dari Mi Rae yang sudah mengaduh meratapi jemarinya yang mulai memerah.  “APA YANG KAU LAKUKAN!”  Pria itu membentak, sayangnya Jung Woon justru tertawa seperti ketika tadi bertemu dengannya didepan pintu rumah.

“Sekarang appa boleh pergi dengannya.”  Anak itu berucap santai tanpa satupun sorot takut atau khawatir.  Mengeratkan tas gendongnya, ia langsung berbalik dan melangkah—masuk ke dalam rumahnya sementara Mi Rae masih mengaduh kesakitan dan pandangan Kyuhyun tidak teralihkan sedikitpun dari sosok Jung Woon dengan degupnya yang seolah terhenti sebab kejadian barusan.

 

 

 

 

 

karena kemarin ada yang komen bingung tentang nama tokoh cewenya yang hampir sama, di part ini dan seterusnya namanya aku ganti.  Na Mi jadi Naa Mi, Mi Ra jadi Mi Rae.  Semoga nama itu gak bikin bingung lagi ya ^^

Advertisements

126 Comments Add yours

  1. mychococinno says:

    Aku bener” setuju bgt klo mereka cerai..abis tu Naa mi pergi bwa anaknya cari bapak baru dan hidup bagaia kkkk~ tinggalkan Kyu biar dpt karma hahaha~ #ketawasetan

    Jung Woon ganteng bgt…
    sikap nya sih biasa aja ke Kyu tp siapa yg tau isi hati sma perasaannya kan?
    Sikap nya manis bgt ke Mi Rae tp ujung” nya sih mematikan..
    rasain tuuu.. harusnya tu tangan di gigit ampek berdarah …

    Liked by 1 person

  2. kimmie says:

    Kesel bener sama kyuhyun ini. Si mi rae juga gk tau malu. Kasian si jung eun. Buat si Jung woon Sip deh. Pinter banget

    Like

  3. cho kh says:

    Kyuhyun bener bener keterlaluan
    Egois banget…kan kasian anak anak nya….

    Like

  4. Ichachaniago says:

    Kyuhyun nya egois bnget

    Like

  5. gyuhae says:

    Yaa CERAI ajaa. Karakter kyuhyun disini bikin kesal bangett yaa. Gak nyangka ff nya bisa semenarik ini. Semangat buat adminnya yang buat ff ini.
    Penasaran sama si jung woon, kyk.a dia punya gangguan juga deh sama kayak kakaknyaa. Emmm….semakin penasarannn

    Like

  6. Hahaha itu jung woon cerdas sekali 👍👍 aku setuju dengan keputusan naa mi.. semoga kyuuu menyesali perbuatannya~~

    Like

  7. nay's says:

    Itu kyu punya hati gak sih? Masa demi anak aja dia gak mau bertahan? Sumpah nie orang pengen gue penggal…dia gak pantes jadi bapak…masa nganter anak kesekolah aja malah gk mau…malah lebih milih selingkuhannya…bener2 gak punya otak…tp salut banget ama authornya yg bisa maksimal mainin emosi readers…thanks udah bikin karya yg bagus ini…jd nyesel lama gk baca fanfict…tp saat baca ini berasa dsambut gtu…kyaknya bakal betah baca ff lg kek 2tahun lalu 🙂

    Like

  8. wulandari200 says:

    aku setuju mereka cerai..daripada tetap sama2 tapi kerjaannya kalau ketemu tiap hari cuma bertengkar n saling maki satu sama lain n itu nggak baik banget buat jung eun sama jung woon yg masih dalam masa pertumbuhan buat ngedengerin mereka ribut tiap hari..sampai2 mentalnya jung eun keganggu n disuruh bawa ke psikolog lagi…mending mereka pisah aja dengan bigitu mereka bisa melakukan apa yg mereka mau supaya bisa buat mereka bahagia tanpa saling nyakitin diri sendiri n orang lain…nami yg sibuk sama kerjanya n kyu yg lovely dovely sama cinta masa lalu tanpa mikirin anaknya…ya mending gitu aja..
    aku sukanya ff yg punya happy ending tapi untuk mereka sad ending pun nggak masalah deh thor…

    Like

  9. dndaiii says:

    nah loo kyu naa mi minta cerai *onpcgakbisakasihemot* makanyaa jangan selingkuh kyu, kasian tu noonanya jong woon jadi kaya gitu ngeliat kalian berdua bertengkar, suka ah sama jong won pintar ngegigit si mi rae wkwkwkw

    Like

  10. rusnimialatief says:

    aku jd bingung sendiri…kok aku belum baca part ini? pantas saja terasa ada yg miss ketika membaca part berikutnya. ahhh…

    Like

  11. Hanlin says:

    Bagus tuh gigit aja.. Klo prlu gantung aja.. Haduhhh ampe kesel sndri ya baca nya wkwkwk

    Like

  12. Andi rosmada says:

    Hahaha lucu banget sih jung won

    Like

  13. nadira says:

    eonni maaf yaa baru muncul ke sini lagii maaf juga baru komen. ini ceritanya ngefeel bgt asli 😦 setuju kalo merrka cerai aja
    baca next nya duluu

    Like

  14. celara says:

    Cerdas boy, buat naa mi juga harusnya dari dulu

    Like

  15. gasukosuji99 says:

    Hahaha bagus jung woon,biar tau rasa cewe nggak tau malu kaya gitu mah harus dikasih pelajaran

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s