#8ObrolanMalam

Sehun bergelayut manja pada lengan kurus Hana yang sebenarnya bisa patah jika ia terus menerus menggantungkan dirinya disana.  Tapi dengan tampilan wajah lelah bercampur ngantuk dan rambut acak-acakan yang entah bagaimana membuatnya makin tampan, Hana biarkan saja tangannya patah karena Sehun jika pria itu terus menggelayutinya seperti saat ini.

“Aku lelah.”  Sehun mengeratkan kalungan tangannya pada leher Hana dan meletakkan kepalanya pada bahu runcing istrinya.  “Dan kau kurus sekali.  Rasanya tulangmu akan melukai pipiku.”

Hana melirik Sehun yang masih memejamkan matanya seolah ingin tidur dalam keadaan berdiri dengan dirinya yang pria itu jadikan bantal-guling.

“Kita bahkan tidak melewati natal dan tahun bersama,”  Keluhnya.  “Seminggu kemarin kau ada di Itali untuk pekerjaanmu, dan aku juga mondar mandir kesana kemari untuk tampil di acara musik akhir tahun.  Kau baru tiba pagi tadi dan aku baru bisa memelukmu malam ini.  Lalu kau bilang besok akan ke Jepang untuk menemui appa-mu selama dua minggu?  Bunuh saja aku.”  Sehun melanjutkan keluhannya.  Melepaskan pelukannya pada Hana, Sehun berbalik dengan langkah gontai yang tampak.  “Aku ingin bersamamu,”  Katanya, sambil memeluk bantal sofa dan menidurkan dirinya disana, masih dengan kedua mata ngantuknya yang terpejam meski beberapa kali ia paksa untuk terbuka.

Hana menghela panjang saat melihat Sehun.  Memasukkan makanan terakhirnya ke dalam kulkas, wanita itu mendekat dan duduk di lantai beralaskan karpet lembut yang langsung menghadapkannya pada wajah kusut Sehun.

“Hanya dua minggu yang pendek,”  Ucapnya, mengusap pipi pucat Sehun.

“Tapi ini tahun baru, tahun pertama kita melewatinya sebagai suami-istri juga.”

“Aku sudah memasukkan beberapa makanan dan minuman kedalam kulkas yang bisa kau konsumsi untuk 5 hari kedepan.  Setelah hari itu jangan makan apapun yang tersisa disana jika tidak mampu kau habiskan dalam waktu 5 hari, dan tinggallah di dorm—.”

“Aku tidak mau,”  Sehun merengek, melepas tangan Hana dari pipinya dan membalik badannya hingga wajahnya menatap punggung kursi sementara punggung lebarnya menatap wajah Hana yang tidak kalah lelah dibandingnya.  “Kau bahkan tidak bilang akan pergi ke Jepang padaku dan baru mengatakannya tadi.  Tahu begini, lebih baik kau ikut aku saja tiap pergi ke Jepang jadi appa-mu tidak mengambil jatah liburan kita.”

Appa memintaku untuk berkunjung secara mendadak, baru tadi dia menghubungiku dan memintaku datang karena rindu.”

“Lalu aku?  Bagaimana denganku?  Kau tidak rindu?”  Sehun meloncat dari tidurnya dan langsung duduk masih dengan posisi Hana yang berada dibawah kakinya.  Pria itu bahkan menepuk dadanya sendiri dengan kedua mata melotot merah.

“Kau mengantuk, matamu merah.”

“Selalu begitu, kau anggap aku anak kecil?  Peduli apa dengan mataku yang merah karena mengantuk?”  Ketusnya.  “Kenapa kau tidak paham dan sama sekali tidak peka, sih!”  Kesalnya hingga dua alis rapinya tersambung.  “Selalu mengganti topik tiba-tiba,”  Gumamnya.  Berdiri dan kembali melangkahkan kakinya, Sehun masuk ke dalam salah satu dari dua kamar dalam apartment-nya dan Hana mengikuti ia dari belakang.

“Baiklah,”  Hana membuka pintu kamar yang tadi tertutup kencang karena Sehun membantingnya.  “Apa yang kau inginkan?”  Tanyanya, ikut duduk disamping Sehun yang masih membuang muka darinya.  “Kau tidak ingin aku pergi?  Tetap disini bersamamu?”

Sehun diam, tidak menjawab ataupun merespon Hana yang mengambil tangannya namun pria itu tepis.  Jendela besar pada sisi kamar dengan tampilan malam Seoul yang masih menyisakan keramaian untuk tahun baru, seolah Sehun jadikan pengalih perhatian.

Ia kesal, tentu saja.  Seminggu kemarin dirinya bahkan tidak bisa bertemu Hana karena wanita itu harus menghadiri pertemuan dengan beberapa pengamat film yang sebenarnya tidak begitu ia pahami untuk apa pertemuannya jika hanya membicarakan sebuah film.  Hana bahkan tidak bisa dihubunginya karena wanita itu sedang melakukan terapi untuk menjauhkan diri dari ponsel.  Melewati malam natal, akhir tahun, dan tahun baru tanpa Hana yang bahkan untuk sekedar dihubunginya saja tidak bisa, dan kini, saat dirinya berencana untuk melewati malam kedua tahun baru bersama, wanita itu justru berkata bahwa 2 minggu kedepan akan pergi ke Jepang?  Oh, seolah dirinya kembali melajang jika begini.

“Apa yang kau inginkan?  Aku tidak akan tahu dan akan selalu salah jika kau tidak mengatakannya.”  Hana menarik wajah Sehun agar berpandangan dengannya.  Raut kesal itu jelas memenuhi wajah suaminya yang biasanya selalu menenangkannya.  Mungkin Sehun lelah, Hana berpikiran begitu jika melihat tingkah suaminya saat ini.  Lagipula bagian bawah mata Sehun yang menghitam menjelaskan segalanya.

Mengusap bagian bawah mata Sehun yang menghitam, wanita itu bertanya, “Kau sangat lelah, ya?”

“Aku kelelahan dan membutuhkanmu,”  Ucapnya.  “Jangan pergi.”

“Aku akan memundurkannya jika begitu.”

“Jangan dalam waktu dekat ini.”  Sehun mengiba dengan pandangan sendunya yang sebenarnya untuk hal sepele.  Menjadikan pundak Hana sebagai tumpuan kepalanya lagi, pria itu melingkarkan tangannya longgar pada pinggang istrinya.  “Aku ingin bersamamu.”

“Iya,”  Hana menyisir rambut lebat Sehun perlahan.  “Aku akan memundurkan kepergianku ke Jepang hingga kau memberikan ijin.”

“Sungguh?”  Sehun mendongakkan kepalanya dengan sambutan berupa anggukan kepala Hana.  “Janji?”

“Iya.”

“Leganya.”  Pria itu akhirnya tersenyum.  Makin mengeratkan pelukannya pada Hana, Sehun menggumam.  “Aku sangat merindukanmu.”

“Iya, aku tahu.”

“Kau merindukanku juga, tidak?”

“Tentu aku merindukanmu, mana mungkin tidak?”

“Aku tidak bisa menghubungimu karena kau tidak bawa ponsel.”

“Aku sedang menjauhkan diri kecanduan ponsel, bukankah kau sudah tahu itu?”

“Tapi sebaiknya jika bepergian kau bawa saja karena aku ingin mengetahui kabarmu, dan mendengar suaramu, dan mengetahui apa saja yang kau lakukan.”

Hana tergelak.  “Baiklah.  Tapi lebih baik sekarang kau tidur saja.”  Hana mendorong tubuh Sehun darinya.  “Kau tampak lelah dan mengantuk.”

“Ya, memang.”  Sehun menggaruk kepalanya sendiri sambil menguap.  “Tapi aku punya kado natal dan tahun baru untukmu.”

“Apa?”

Sehun hanya tersenyum simpul tanpa mengatakan apapun seolah ia benar-benar menyiapkan ini.  Turun dari ranjang, pria itu berjalan menuju satu ruang dalam kamarnya dimana terdapat banyak tumpukan tas miliknya dan milik Hana yang sebenarnya, jika boleh jujur, tumpukan tas-nya-lah yang paling banyak.  Mengambil salah satu tas-nya yang tidak terlalu besar, Sehun kembali dengan membawanya.  “Karena kau unik dan kepribadianmu cukup mengejutkan,”  Sehun terkikik saat mengatakannya dan Hana menoleh sambil tersenyum.

“Apa yang kau bawa itu?”

“Aku sempat berpikir, apa yang harus aku berikan pada istriku yang sedikit tidak masuk akal ini?”  Ucapnya setelah kembali duduk berhadapan dengan Hana.  “Aku tidak bisa memberikanmu kalung atau cincin mahal ataupun perhiasan berkilau lainnya karena aku yakin kau pasti akan jarang memakainya bahkan sebenarnya kemungkinan besar tidak akan pernah memakainya dan itu akan menyakitiku sebagai seseorang yang membelikannya dengan harapan agar kau memakainya selalu.”

“Hei,”  Hana menyela dengan senyum yang ia tutup dengan salah satu tangannya.  “Aku juga wanita, tentu aku suka perhiasan mahal dan berkilau.”

“Iya,”  Sehun mengangguk dengan mata terpejam, bahkan tubuhnya ikut membungkuk sedikit.  “Tapi aku yakin itu hanya sebatas melihatnya dengan pandangan berkilau dan setelah itu kau akan menyimpannya, tidak pernah memakainya, dan melupakan itu semua setelahnya.  Dan ketika aku memintamu memakainya, kau akan menggunakan berbagai macam alasan aneh yang benar-benar aneh.  Bahkan hingga saat inipun kau tidak mengenakan cincin pernikahan kita kecuali pada pertemuan keluarga atau pertemuan yang ada eomma disana.”

Hana tersenyum kaku dengan jari mengusap tempat kosong dimana harusnya cincin pernikahannya dan Sehun berada disana.  “Anggap saja aku suka memilikinya, tapi tidak suka memakainya.”  Dan kemudian Hana berjalan menuju meja riasnya, menarik salah satu laci disana kemudian mengeluarkan satu kotak kecil berwarna putih dimana ada sepasang cincin disana, keduanya ia ambil dan salah satunya langsung ia kenakan.

17f126b4e99dbb3e853a173c88dccaf4

“Ini, sudah aku kenakan.”  Hana menunjukkan tangannya yang sudah dihiasi oleh cincin pernikahan mereka.

“Ya,”  Sehun melihatnya malas.  “Yang kecil dan penting begitu saja baru kau kenakan beberapa kali ini, bagaimana yang lain?”

“Jangan bilang begitu.  Sini, aku pakaikan cincinmu yang juga baru kau kenakan untuk kedua kalinya ini.”  Hana mengambil sebelah tangan kiri Sehun dan melingkarkan kembali cincin pernikahan mereka pada jari manis suaminya.  “Rasanya seperti kita menikah lagi.”

Sehun tersenyum tipis melihat cincin polos di jari manisnya berikut ucapan terakhir Hana.  “Jadi, ini kado natalmu dariku.”  Sodoran tas kecil yang sejak tadi Sehun pegang mulai berpindah tangan pada Hana.  Selagi Hana membukanya dan masih menebak apa yang hendak Sehun berikan, pria itu kembali berucap.  “Kupikir kau akan suka itu.”

Headphone?”  Hana mengambilnya dari dalam tas Sehun dengan tatapan bertanyanya.  “Kenapa headphone?”

“Karena jika aku memberikanmu baju mahal, itu hanya akan menjadi penghuni lemari.  Begitupun sepatu, dan tas.  Kau hanya mengenakan benda yang itu-itu saja dan tidak mau menggantinya jika belum rusak.  Sepatu yang kau pakai bekerja bahkan sepatu yang sama dengan yang kau pakai selama dua tahun ini tanpa mau menggantinya karena kau bilang belum rusak, begitupun dengan tas.  Kau hanya punya dua pasang sepatu dan tas untuk bekerja untuk jaga-jaga jika salah satunya rusak tiba-tiba.  Lalu aku berpikir untuk membelikanmu lipstick, karena kau sangat suka lipstick dan melihat benda kecil itu lebih berharga dibanding apapun,”

“Ya, tentu.”  Hana tertawa polos.  “Aku sangat mencintai lipstick dan akan tukar apapun untuk itu.”

“Ya, setidaknya kau seperti wanita lain jika menyangkut lipstick.”  Sehun memanggutkan kepalanya beberapa kali dengan pandangan sekilasnya pada koleksi lipstick Hana yang hampir memenuhi lemari setinggi satu meter pada sisi meja riasnya.

“Aku bisa meninggalkan semuanya tapi tidak bisa pada lipstick.  Tidak memakainya benar-benar neraka, bahkan lebih baik dompetku ketinggalan dibanding keluar tanpa lipstick.”

“Oh, beruntungnya si lipstick itu.”  Sehun memberengut saat nada bersemangat Hana langsung terdengar begitu membicarakan lipstick.  Sehun ingat betul, Hana selalu membeli lipstick tiap kali mereka keluar dan bahkan tidak ragu untuk membeli seluruh produk dari merk yang disukainya.  Setidaknya untuk satu hal, Hana boros seperti wanita-wanita lainnya.  “Lalu aku?”  Sehun menunjuk dirinya.  “Kau lebih baik tidak bertemu denganku selama seminggu atau tidak memakai lipstick selama satu hari penuh?”

“Tentu saja tidak bertemu denganmu selama seminggu.”

“Kejamnya.”  Sehun berdecak.  “Kau bahkan tidak ragu dan tidak berpikir lama untuk itu.  Untungnya aku tidak jadi membelikanmu lipstick sialan itu.”

Hana hanya tertawa lucu dan memperhatikan seksama headphone yang sejak tadi dipegangnya.  “Ini baru atau bekas?”

“Tentu saja baru,”  Wajah Sehun mulai masam.  “Kau pikir aku pria macam apa yang memberikan istrinya barang bekas?”

“Kupikir—.”

“Karena kau tidak suka hal-hal seperti kado yang dibungkus, aku sudah mengeluarkannya dari kotaknya dan tidak membungkusnya dengan apapun.”

“Kau terdengar ketus, Oh Sehun.”

“Memang.”  Sehun kembali melempar pandangannya dari Hana.  Rengutan pada wajahnya kembali muncul dan Hana langsung meletakkan headphone pemberian Sehun dengan corak indah itu pada nakas samping tempat tidurnya.

0a443e515b94597d98d4dd36e1a72817

“Kenapa lagi?”  Hana bertanya.

“Aku tidak lebih berharga dibanding lipstick.”  Pria itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan Hana mulai tertawa hingga memegangi perutnya sementara telinga Sehun tampak memerah, entah karena malu atau marah.  “Setidaknya…..”  Pria itu melepaskan tangannya dan menatap Hana berikut wajah sendunya.  “Setidaknya kau berpikir sebentar jadi aku tahu bahwa kau berencana untuk membodohiku, atau berbohong padaku.  Tapi kau langsung menjawabnya?  Dan aku lebih rendah dibanding lipstick-lipstick-mu?!”

“Oh, sayang.”  Hana menarik Sehun dalam pelukannya dan meletakkan kepala pria itu pada dadanya.  “Aku tidak tahu kau akan sekekanakan ini malam ini.”

“Kau masih bercanda?”  Sehun melepaskan pelukan Hana dan langsung merebahkan dirinya dengan posisi meringkuk.  “Aku bahkan memikirkan kado untukmu dengan hati-hati.  Apa kiranya yang akan benar-benar kau pakai dan gunakan setiap hari.  Kau suka menonton film di laptopmu menggunakan headphone dan karena itu aku membelikannya.  Tapi karena kau juga tidak mau mengenakan barang baru jika barang lamamu belum benar-benar rusak, jadi headphone lamamu aku saja yang akan aku gunakan.  Lalu ini?!”  Sehun menoleh dengan raut memelas.  “Kau melihatku lebih rendah dibanding lipstick dan hubungan ini seolah hanya aku yang memiliki cinta.  Jika kau lebih mencintai lipstick-mu kenapa kau tidak menikah dengan benda sialan itu saja!”

“Aku pikir lelahmu sudah mencapai tingkat akut.”

“Terus saja kau bersikap dan bicara begitu.”  Sehun makin menggerutu.  Di ambilnya bantal tidak jauh dari tangannya dan ia gunakan itu untuk menutup wajahnya.  “Kau akan bagaimana jika aku sudah begini padamu sekarang?”

Hana menggeleng pelan masih dengan senyum lebarnya.  “Aku juga membelikanmu kado natal di Itali kemarin.”

“Bohong.  Mana ingat kau untuk membelikanku sebuah kado?”

“Sungguh.”  Hana kembali melangkah menuju meja riasnya dan mengambil sebuah kotak kecil seukuran telapak tangan Sehun kemudian membawanya.  “Aku juga memikirkan untuk membelikan benda apa yang kiranya akan suamiku kenakan dan pegang setiap hari.”

“Benarkah?”

Hana tersenyum dengan anggukan pelan yang bisa Sehun lihat melalui celah bantalnya.  “Kau tidak ingin melihat apa yang aku belikan padamu?”

Sehun beringsut perlahan.  Melepaskan bantal seukuran tubuh Hana yang masih dipeluknya, pria itu duduk masih dengan rambut acak-acakannya.  “Apa itu?”  Tanyanya dengan mata menunjuk kotak kecil pada tangan Hana.

“Benda kecil biasa tapi aku menyukainya.  Sebuah dompet.”  Hana membuka kotak pembungkusnya, kemudian memberikannya pada Sehun.

672dceb5cfe0d3a2267739c5ac259968

Sebuah dompet kulit dengan bentuk sederhana.  Mirip Hana, yang mahal dan sederhana.  Samar, senyum Sehun tampak ketika tangannya mulai membolak balikkan dompet pemberian istrinya.  Rengutannya tidak lagi nampak, begitupun kesalnya yang sempat membuat wajahnya memerah tadi.

“Kau suka?”  Hana bertanya.

“Apa yang kau pikirkan hingga memberikan ini padaku?”

“Aku hanya langsung suka dan tidak bisa melepasnya ketika pertama kali melihat.  Kupikir kau juga akan merasa begitu ketika pertama kali melihatnya, makanya aku memberikanmu itu.  Tapi berhubung selera kita berbeda dan saat di Itali aku tidak bisa menghubungimu, makanya aku tanya, apa kau suka?”

“Toh hanya dompet, yang penting bisa dipakai, bukan?”  Sehun tersenyum berikut kalimat yang selalu menjadi ciri Hana ketika dihadapkan pada suatu pilihan.  Beralih pada sisi lain ranjang, laci tempatnya selalu meletakkan dompet ia tarik.  Mengambil dompet lamanya, mengeluarkan seluruh isinya—Sehun memindahkan semua hal dari dompet lamanya pada dompet baru yang baru saja Hana berikan padanya.

“Lalu bagaimana dengan dompet lamamu?”

“Kau mau?”  Sehun menawarkannya, menyodorkannya pada Hana tanpa ada niatan untuk benar-benar menawarkannya.

“Boleh.”

“Apa?”  Kaget Sehun seketika, ditambah dengan Hana yang langsung mengambil dompet lamanya tanpa sempat ditariknya.

“Hana-ya,”

“Aku akan memberikannya pada satpam kantor, mungkin?”  Wanita itu tersenyum.  “Kenapa?  Kau pikir aku akan menggunakannya?  Dompetku masih belum rusak.”  Jelasnya dan kembali meletakkan dompet itu pada laci tempatnya semula.

“Sebenarnya kau itu makhluk dari mana, sih?”

“Entah,”  Hana menaikkan kedua bahunya berikut raut acuh.  “Kau juga, menemukanku dimana?”

“Di tempat yang rahasia,”  Sehun tersenyum dan kembali menidurkan dirinya tanpa melepaskan bantal yang entah kapan akan berhenti dipeluknya.  “Apa harapanmu tahun ini, Hana-ya?”

“Harapanku?”  Hana menggumam dengan kedua tangan saling terkepal, melihat itu—Sehun kembali mendudukkan dirinya hanya untuk menarik tangan Hana agar ikut merebahkan diri bersamanya di ranjang.

“Mm,”  Pria itu mengangguk samar.  “Harapanmu.  Apa harapanmu untuk tahun ini?”

“Hanya, bahagia.  Bahagia untuk kita, dan orang di sekitar kita.”

“Kau berkata begitu seolah bahagia adalah sesuatu yang langka.”

“Memang langka, bukan?”  Hana memiringkan tubuhnya dengan sebelah tangan menopang wajahnya yang menghadap Sehun.  “Tadi kau tidak bahagia karena aku berencana untuk pergi ke Jepang besok, tapi akhirnya aku batalkan dan karena itu kau kembali bahagia.  Lalu kau, apa harapanmu untuk tahun ini?”

Sehun menarik nafas panjang dan melihat Hana dengan sebelah alisnya yang terangkat.   Sempat berpikir selama beberapa waktu, pria itu akhirnya membuka mulutnya, “Harapanku tahun ini, adalah kebahagiaanmu.”

“Oh, benarkah?  Manisnya.  Kupikir kau akan meminta anak seperti kemarin-kemarin.”

“Karena kau tidak memasukkannya dalam daftar keinginanmu tahun ini.”  Sehun mendesah pelan dengan pandangan lurus pada langit-langit kamar mereka.

“Karena kita masih terlalu muda, Sehun-ah.”  Jelas Hana, bersama sapuan jemari lembutnya yang menyapa kulit wajah Sehun. “Kau bahkan tergolong dini untuk seorang pria, apalagi member boyband—,”

“Menikah maksudmu?”  Sehun memotong dan Hana menganggukinya.

“Ya.  Kau baru 22.”

“23.”  Sehun menginterupsi.  “Dan 24 April mendatang.”

“Ya, baiklah.”  Hana mulai merebahkan dirinya lurus disamping Sehun.  “Tahun ini kau 24, dan aku 26.  Setidaknya, 7 atau 10 tahun lagi.”

“Kau akan sangat tua untuk melahirkan jika selama itu.”

“5 tahun kalau begitu?”

“5 tahun?”  Sehun terlihat berpikir, dan Hana berharap bahwa kali ini pria itu akan setuju.

“Kau tahu aku sama sekali tidak memiliki keinginan menikah, apalagi menikah muda.  Kau saja yang tiba-tiba datang ke rumah dan menemui appa, berkata bahwa aku tidak memiliki keinginan untuk menikah.”

Sehun langsung tergelak saat itu juga menatap Hana dengan ingatan beberapa bulan lalu saat dirinya menemui orang tua Hana dan berkata bahwa Hana tidak memiliki keinginan untuk menikah sama sekali, hanya ingin tinggal bersama seorang pria dan memiliki anak tanpa ikatan.

“Ya, ya, baiklah. 4 atau 5 tahun lagi.  Tapi jika kita mendapatkannya dalam waktu dekat ini, kau tidak boleh menolaknya, oke?”

“Oke.”

“Janji?”

“Janji.”  Hana mengambil tangan Sehun dan menautkan kelingkingnya pada kelingking Sehun.  “Janji.”  Ulangnya lebih yakin dengan tatapan yang saling beradu dengan Sehun dan pautan kelingking yang makin erat.

 

 

obrolan-malam-copy

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. KenDi says:

    kadang cara pemikiran sangatb realistis kalo menurutku yang emang kalo sepaham. berharap oh sehun lain yang bisa menyetir keadaan kalo gitu. masih bertanya apa arti sebuah ikatan? termasuk seorang munafik kah?

    Like

    1. Mrs. Bi_bi says:

      Apa??? Gimananya kak?? Aku pusing gapaham😳😳

      Like

      1. KenDi says:

        hahhaha. cukup aku aja yang paham, bacanya dikit” supaya paham

        aku typonya haahah

        Like

  2. hanhana12 says:

    knp dr 50 langsung dilompat ke 80? kupikir akan lanjut 60

    Liked by 1 person

    1. Mrs. Bi_bi says:

      ada masalah sama part 6&7 haha

      Like

  3. hanhana12 says:

    im being in love with hana’s freak personality lmao

    Like

  4. hanhana12 says:

    will wait the next

    Liked by 1 person

  5. Fatin says:

    Hana beda sama wanita lain. Sehun bayi bukan sih ngambek2 mulu dianya.

    Like

  6. MrsA says:

    Karakter hana bener2 membingungkan yah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s