#4ObrolanMalam

“Bagaimana hari ini?” Hana membantu Sehun melepaskan coat sepanjang lutut yang dikenakannya.

“Melelahkan. Seperti biasa.” Pria itu menoleh pada istrinya sembari tersenyum, meski Hana tidak melihat senyuman itu. “Kau sendiri? Bagaimana harimu hari ini?”

“Membosankan dan melelahkan.”

“Membosankan kenapa?” Sehun mulai duduk ketika Hana menggantungkan coat-nya. Melepas satu persatu sepatu yang dikenakannya, kedua mata pria itu mengikuti tiap gerak-gerik istrinya.

Eomma-mu mendaftarkanku untuk mengikutikursus memasak. Kau tidak tahu tentang itu?”

“Oh. Benarkah?” Pria itu hampir tertawa kencang andai wajah masam Hana tidak lebih dulu sampai dalam penglihatannya. Berdehem, Sehun bertanya. “Lalu?”

“Mau bagaimana lagi? Eomma-mu sudah mendaftarkanku, mana bisa aku berkata tidak?”

“Mungkin kau harus katakan pada eomma bahwa kau tidak bisa menyentuh beberapa bahan tertentu.”

“Oh!” Hana mengerang hingga kedua matanya terpejam dan tangannya meremas rambut pendeknya. Duduk pada sofa memanjang yang tidak jauh dari ranjang, wanita itu jelas sedang frustasi jika dilihat dari bagaimana sikapnya saat ini. “Jangan ingatkan aku tentang itu.” Ucapnya hampir tidak terdengar.

Sehun membuang nafas panjang. Dirinya tidak lagi tersenyum apalagi tertawa untuk kemalangan istrinya. Ikut duduk disisi Hana yang masih duduk meringkuk sebagaimana tadi, pria itu mengusap punggung istrinya pelan.

Aku benar-benar tidak bisa menyentuh benda-benda itu.”

“Kau tahu? Cara terampuh untuk mengatasi ketakutan adalah mendekati ketakutan itu. Phobiamu pada beberapa bahan masakan, kau harus mengatasinya dan mungkin dengan cara seperti ini.”

“Aku benar-benar membenci tomat, wortel, cabai, bawang, mereka semua menjijikkan. Aku bahkan tidak bisa membayangkan saat mereka semua basah. Oh…..” Hana mengacak rambutnya sendiri. “Apa aku harus kabur saja? Kelasnya dimulai minggu depan.” Tolehnya dengan wajah kacau.

Sehun menaikkan kedua bahunya bersama kedua alis terangkatnya. “Atau kau harus pindah kelas. Jika yang kau masuki adalah kelas memasak masakan sehari-hari, mungkin kau harus masuk ke kelas yang hanya mengajari tentang kue. Kau tidak memiliki masalah dengan bahan-bahan kue, bukan?”

“Ya.” Hana merengut. Bayangan tentang eomma Sehun ketika siang tadi menemuinya di kantor dan langsung mengatakan tentang sudah di daftarkannya ia masuk dalam kursus memasak, kembali muncul. “Tapi wajah eomma-mu.” Sesalnya sambil menidurkan dirinya, menjadikan paha Sehun sebagai bantalnya. “Mungkin eomma-mu khawatir karena aku hanya memberikanmu sayuran dan buah. Mungkin eomma-mu khawatir tentang makananmu maka memasukkanku dalam kursus memasak.”

“Tapi darimana eomma tahu bahwa kau tidak bisa memasak?”

“Minggu kemarin, saat kita berkunjung ke rumah orang tuamu dan eomma-mu mengajakku ke dapur, aku bahkan tidak mengetahui nama satu persatu bumbu yang ada disana.” Hana mengerang untuk kesekian kalinya dengan ingatan itu. “Rasanya benar-benar bodoh.”

“Harusnya aku katakan pada eomma bahwa kau tidak bisa menyentuh beberapa bahan masakan yang belum di olah dan kau seorang vegan.” Sehun menyisir rambut istrinya perlahan. “Kau ingin aku mengatakannya pada eomma?”

“Tidak perlu.” Hana bangkit perlahan dan menghadap Sehun. “Biar aku yang mengatasinya sendiri.”

“Kau yakin?” Sehun masih menawarkan diri andai Hana menginginkan itu. Tapi nyatanya wanita itu mengangguk.

“Ya. Aku akan mengatasinya sendiri.” Yakinnya pasti.

“Baiklah jika memang begitu.” Sehun menepuk sekali pahanya dan bangkit, menuju kamar mandi. “Oh, hei…” Pria itu berbalik dengan sebelah tangannya yang terangkat.

Mendengarnya, Hana yang hendak mengambil laptopnya kembali menoleh pada Sehun.  “Kenapa?”

“Besok aku harus bangun pagi-pagi sekali. Kau ceritakan tentang sebuah film, ya? Untuk pengantar tidurku.”

“Film yang seperti apa? Romance? Comedy? Action?”

“Cinta yang kuat.”

“Cinta yang kuat?” Hana mengulang ucapan Sehun dengan kerutan di antara alisnya sementara sosok suaminya sudah menghilang dari balik pintu kamar mandi.




***

“Ini film India, judulnya Ae Dil Hai Mushkil.”

“Oh….” Sehun sudah memutar matanya malas. Selimut tebalnya makin ia rapatkan pada tubuh kurusnya. “India lagi? Menyedihkan lagi? Terakhir kau menceritakan tentang film India, itu membuat hari-hariku buruk karena kau terus mengomel tentang kemanusiaan.”

“Tidak-tidak.” Hana menggeleng dengan kedua mata terpejam. “Ini bukan kisah nyata seperti sebelumnya, dan ini sesuai dengan definisi cinta yang aku anut.”

Well….” Sehun menarik nafas panjang. “Ceritakan jika begitu. Aku akan mendengarkan tentang definisi cintamu.”

Hana tergelak untuk kalimat terakhir Sehun dan menggosok hidungnya sebelum memulai kisahnya. “Ada 2 tokoh utama dalam kisah ini, dan beberapa tokoh lain yang memiliki posisi penting dan diisi oleh aktor dan aktris yang lumayan terkenal juga. Pemeran utama pria bernama Ayan, dan pemeran utama wanita bernama Alizeh. Selain mereka, ada beberapa pemeran lain yaitu Saba, dan Ali. Ayan dan Alizeh bertemu secara tidak sengaja pada sebuah club, dan dari sana mereka mulai berteman. Awalnya mereka saling menggoda satu sama lain, hingga akhirnya Ayan dan Alizeh saling bersaing tentang pasangan siapa yang lebih baik. Akhirnya mereka melakukan double date, pada saat itu… mereka berdua mendapati bahwa pasangan mereka saling berselingkuh. Ayan digambarkan sebagai sosok yang manja, mungkin karena pertama kalinya dia diselingkuhi maka dia menangis dan dia sama sekali tidak malu untuk melakukan itu. Akhirnya, untuk menghilangkan kesedihan Ayan, Alizeh menyarankan untuk bersenang-senang. Ayan adalah anak orang kaya, tidak sulit untuknya pergi kemanapun yang dirinya mau. Maka, mereka berdua melakukan liburan bersama ke Paris. Seminggu setelah mereka berada di Paris, Ayan yang memang sejak awal tampak tertarik pada Alizeh, menyatakan isi hatinya. Namun Alizeh, dia tidak menerimanya karena dia hanya melihat Ayan sebagai seorang sahabat. Kemudian, ketika mereka memutuskan untuk memperpanjang liburan mereka, Alizeh bertemu dengan mantan kekasihnya, Ali. Tidak membutuhkan waktu lama, Alizeh menikah dengan Ali dan Alizeh meminta Ayan untuk datang, karena keluarga Alizeh dan teman-temannya tidak ada yang datang. Ali adalah seorang DJ dan dia beberapa kali selingkuh, mungkin karena itu keluarga dan teman Alizeh yang lain tidak setuju. Meskipun Ayan adalah anak orang kaya, dirinya sebenarnya bercita-cita menjadi seorang penyanyi. Namun seperti yang Alizeh katakan, hati Ayan tidak pernah hancur dan terluka, karena itu dirinya tidak bisa menyanyikan sebuah lagu. Hanya karena kau bernyanyi mengikuti musik, bukan berarti kau bisa menjadi seorang penyanyi, begitu kata Alizeh. Maka ketika dia datang ke pernikahan Alizeh dengan hati hancur, disana Ayan mulai bernyanyi dan Alizeh terkejut. Terkejut karena Ayan benar-benar bernyanyi dan pantas untuk menjadi penyanyi. Alizeh menarik Ayan ke dalam kamar pengantinnya, memuji Ayan atas suara dan nyanyiannya, serta menyarankan Ayan untuk benar-benar menjadi seorang penyanyi karena Ayan pantas untuk itu. Tapi kemudian, Ayan mengatakan kebenarannya. Bahwa dia benar-benar mencintai Alizeh dan hal itu yang membuatnya bisa bernyanyi. Tapi kembali, Alizeh menolak karena dia hanya melihat Ayan sebagai seorang sahabat. Setelah itu, Ayan pergi dan bertemu dengan seorang penulis wanita bernama Saba. Mereka menjalin hubungan, namun hati dan cinta Ayan tetap hanya untuk Alizeh meskipun dilihat dari sisi manapun Saba lebih baik dibanding Alizeh. Pada suatu hari, ketika Ayan menemani Saba untuk memenuhi undangan sebuah pameran lukisan, mereka berdua bertemu dengan Shah Rukh Khan.”

“Oh, haha.” Sehun tergelak kala itu juga hingga menghentikan cerita panjang Hana.

“Kenapa kau tertawa?”

“Aku ingat pria itu. Suho hyung pernah menceritakannya ketika dia pergi ke India dan semua orang India mengaguminya.”

“Aku juga mengaguminya.” Hana mengangkat sebelah tangannya bagai tidak ingin ketinggalan.

“Apa?” Wajah Sehun masam seketika. “Suka atau kagum?”

“Suka dan kagum.”

“Di atas atau dibawah Eric Bana?”

“Di atasnya.”

Sehun meringis dengan wajah yang mulai serius. “Di atas atau dibawah Channing Tatum?”

“Kenapa memangnya?” Hana justru bertanya.

“Aku harus tahu urutannya dan aku ingin menegaskan itu. Di atas atau di bawah Channing Tatum?”

“Shahrukh Khan punya aura yang kuat.”

“Di atas atau dibawah, Hana-ya?”

“Setara, tapi sebenarnya di atasnya sedikit.”

“Oh.” Sehun memijat keningnya bagai mendengar istrinya tengah berselingkuh dan mengakui itu. “Ya. Duduk.” Pria itu bangkit dari posisi tidurnya dan kembali menghidupkan lampu kamarnya.

Jujur, Hana tidak mengerti tentang apa yang Sehun inginkan. “Ada apa, sih?”

“Coba urutkan aktor favoritmu?”

“Hanya aktor?”

Sehun mengerang dalam hati dengan wajah frustasi yang tadi Hana tunjukkan ketika mengatakan tentang terdaftarnya ia dalam kursus masak. “Semua, semua idola priamu. Katakan padaku sesuai urutan mereka dalam hatimu.”

“Bukankah sebelumnya kau tidak ingin tahu?”

“Ya. Tapi malam ini aku ingin tahu. Siapa saja?”

“Vanness Wu, Brad Pitt, Shahrukh Khan, SHINee, Adam Lambert, Adam Levine, Channing Tatum, Hyun Bin, Eric Bana, Kim Nam Gil, Jet Li,”

“Astaga. Sehun memotong bahkan ketika Hana masih akan kembali menyebutkan beberapa nama. “Lalu aku? Bagaimana denganku? Aku ada di urutan keberapa?” Tanyanya panik sembari memukul dadanya bagai drama TV.

“Kenapa harus ada di urutan? Kau kan satu-satunya suamiku, kau tidak membutuhkan urutan karena kau adalah satu-satunya.” Hana menjawab cepat dan cukup, untuk membuat raut kesal Sehun menghilang, tergantikan oleh senyum yang berusaha disembunyikannya namun tetap nampak.

“Benarkah? Itu artinya aku ada di urutan paling atas dari mereka semua, bukan?”

Hana menatap Sehun tidak percaya dengan gelak tawa sinis. “Aku bukan fans yang berkeinginan untuk menjadi wanita dari idola-idolaku, Tuan.” Wanita itu berucap dan turun dari ranjangnya sekedar untuk mematikan kembali lampu kamar. “Kau tahu kenapa?”

“Tidak.” Sehun menggeleng. “Setauku semua fans memiliki keinginan untuk kencan dan memiliki hubungan dengan idolanya.”

“Aku takut merusak itu.”

“Merusak?” Sehun memiringkan tubuhnya menatap Hana ketika istrinya itu sudah kembali merebahkan diri disampingnya. “Merusak bagaimana?”

“Aku berpikir, saat kau mulai berhubungan dengan seseorang yang awalnya tidak dekat menjadi dekat, sedikit banyak pasti akan ada konflik. Sedikit banyak, pandanganmu tentangnya akan berubah dan aku tidak ingin ada dalam keadaan seperti itu. Karena itu, ketika aku mengidolakan seseorang aku hanya ingin tetap dalam posisi itu meskipun ada kesempatan untuk lebih dekat. Misal seperti aku yang menyukai Donghae Super Junior. Meskipun aku ada kesempatan untuk mengetahui tentangnya lebih banyak, dan bahkan mengenalnya lebih dekat berkatmu, aku tidak ingin melakukannya. Aku tidak ingin melewati garis batas seorang fans terhadap idolanya. Untukku, jika aku mengidolakanmu maka aku ingin berada pada posisi tidak terlihat itu untuk selamanya. Bukan berarti aku tidak ingin lebih tau dan dekat, jujur saja dan tidak perlu munafik aku senang andai itu terjadi. Namun andai itu benar-benar terjadi, dan kami makin dekat, hal yang sebelumnya tidak aku tahu tentangnya pasti akan terungkap dan bisa saja aku tidak menyukainya karena itu, atau seperti yang aku katakan sebelumnya, bisa saja karena kami dekat maka kami akan memiliki sedikit masalah, atau karena kami sudah dekat maka dia tidak tampak berharga lagi untukku.”

“Apa kau tahu kelemahanmu, Hana-ya?” Sehun bertanya pelan dan Hana menggeleng dengan katupan bibir rapat. “Kau terlau banyak memikirkan hal buruk yang bahkan belum terjadi dibanding memikirkan hal baik untuk suatu alasan yang sama.”

“Tapi aku anggap itu sebuah kelebihan.”

“Kenapa?”

“Jika kita sudah memikirkan hal buruknya, andai hal buruk itu benar-benar terjadi maka kita sudah tahu bagaimana harus bersikap dan mengambil keputusan.”

Sehun tersenyum dan mengusap kepala istrinya. “Kadang aku merasa seperti menikahi seorang wanita dari planet lain.”

“Aku hanya memiliki pemikiran yang sedikit berbeda dibanding orang-orang yang sering kau temui, Sehun-ah.”

“Ya,maka dari itu aku segera menikahimu karena sejauh ini hanya kau wanita yang seperti ini.”

“Seperti ini yang kau katakan itu, seperti menghinaku.” Hana meringis dan Sehun tertawa.

“Lajutkan kisahmu yang tadi, bagaimana setelah bertemu Shahrukh Khan?”

“Shahrukh Khan mencintai Saba tapi Saba tidak. Kemudian Ayan bertanya, bukankah cinta sepihak itu menyakitkan? Dan Shahrukh Khan menjawab tidak.”

“Tidak? Kenapa?” Sehun tampak mulai tertarik.

“Karena dalam cinta sepihak, kau memiliki cinta itu secara utuh, tidak berkurang oleh apapun.”

“Maksudnya?” Sehun mengernyit.

“Jika kau mencintainya tapi orang itu tidak mencintaimu, maka cinta itu adalah sepenuhnya milikmu. Tidak akan rugi, berkurang, atau menyedihkan untuk itu karena itu adalah cintamu yang utuh dan penuh. Dia seperti menjelaskan pada Ayan bahwa cinta sepihak bukanlah sesuatu yang menyakitkan karena cinta sepihak lebih indah dan kuat dibanding jenis cinta lainnya. Mendengar itu, Ayan langsung teringat pada Alizeh dan dia langsung menelfonnya. Tidak lama kemudian, Alizeh datang ke apartment Ayan dan Saba tinggal untuk makan malam. Saat itu, Saba melihat dan menyadari bahwa cinta Ayan pada Alizeh tidak pernah redup, malam itu juga…. mereka mengakhiri hubungannya dan Ayan pergi menemui Alizeh, untuk mengatakan bahwa dia masih mencintai Alizeh dan berharap agar Elizeh pergi bersamanya. Tapi Alizeh menolak dan sekali lagi, Ayan pergi dengan tangan kosong. Dari sana, Ayan benar-benar menjadi seorang penyanyi namun tentu saja, semua lagunya berisikan tentang cinta sepihak. 2 tahun kemudian, Ali mendatangi Ayan dalam salah satu konsernya dan mengatakan tentang kepergian Alizeh serta sudah berpisahnya mereka. Ayan yang mengetahui itu, tentu saja terkejut. Dirinya sama sekali tidak berpikir bahwa Alizeh akan berpisah dari Ali jika mengingat bagaimana wanita itu sangat mencintai Ali dan kemudian menghilang, dari keluarga juga teman-temannya. Saat mencari kemanapun dan tidak menemukannya, Ayan mengingat tentang satu tempat yang dulu Alizeh katakan sebagai tempatnya jika dia merasa sedih. Itu sebuah atap gedung, tapi aku tidak tahu apakah itu gedung apartment, atau kantor, atau hotel. Yang jelas selama 2 atau 3 hari Ayan menunggu Alizeh disana tanpa bisa pergi untuk sekedar makan, minum, bahkan ke kamar mandi sebab takut jika pergi, Alizeh muncul dan akan langsung pergi. Saat itulah, ketika Ayan hampir menyerah dan lagi salju mulai turun, Alizeh muncul dengan tampilan mengejutkan.”

“Kenapa? Dia menjadi wanita malam?”

“Bukan!” Hana hampir berteriak dengan pelototan sempurna pada Sehun. “Dia terkena kanker.”

“Oh….” Sehun kembali menunjukkan raut malasnya. “Pasti wanita itu akan mati dan disaat-saat terakhir dia menyadari cintanya pada Ayan.”

“Tidak, Tuan. Makanya kenapa akhir-akhir ini aku sering menonton film India adalah karena mereka berani mengambil kisah yang benar-benar nyata dalam dunia nyata dan tidak peduli pada alur ataupun ending yang biasanya dimiliki film lain.” Hana mengusap pipi Sehun dan masuk dalam dekapan hangat pria itu. “Bahkan ketika Ayan ikut menggunduli kepalanya seperti Alizeh yang tidak memiliki sehelai rambutpun di kepalanya, Alizeh tetap berkata bahwa hatinya hanya menganggap Ayan sebagai seorang sahabat. Maksud dari aku yang berkata bahwa film inisesuai dengan definisi cinta yang aku anut adalah ini, Sehun-ah.”

“Cinta tidak bisa dipaksakan?”

“Ya.” Hana mengangguk dengan dada bidang Sehun dihadapannya. “Cinta bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Seingin apapun kita mencintai orang itu,jika hati kita berkata tidak maka tetap tidak. Begitupun saat kita mencintai seseorang, setidak ingin apapun kita mencintai orang itu namun jika hati kita sudah mengukir namanya, kita tidak akan bisa mengelak. Seperti Ayan yang sempurna namun tidak kunjung mendapatkan balasan cinta Alizeh hingga wanita itu tiada, seperti Alizeh yang mencintai Ali hingga tiada meskipun sering diselingkuhi, dan seperti Shahrukh Khan yang mencintai Saba sepihak dan kemudian menyalurkannya melalui sebuah karya. Cinta bisa datang dalam hitungan detik, tapi menghilangkannya….belum tentu secepat itu. Seperti Jet Li pada istri pertamanya, seperti itulah cinta yang aku tahu dan percayai. Cinta datang karena terbiasa, aku tidak bisa menganut paham itu.” Kata Hana, mengakhiri kisahnya dengan hembusan nafas teratur dan tenang Sehun yang menyisir puncuk kepalanya.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. osehn96 says:

    Cinta dtg krna terbiasa. Lama2 kebiasaan. Dibiasain. Dan rasanya jadi biasa aja. Hahahah.

    Liked by 1 person

  2. finavi says:

    Cintaku pada sehun adala cinta sepihak ahaahhaha

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s