My Coffee Girl: Cafe Shop

Saat pertama kali melihatnya di salah satu cafe milik sahabatnya, Jong In, Sehun sudah merasa bahwa ada yang aneh dan salah dengan gadis itu.  Gadis dengan rambut pendek yang panjangnya bahkan tidak mencapai pundak, kulit seputih salju hingga apa yang kulitnya selimuti hampir nampak, hidung kecil runcing yang hampir bisa untuk membelah apapun, bibir mungil namun penuhnya, serta segala hal yang ada pada diri gadis itu—entah bagaimana, menghipnotis kedua matanya untuk tidak teralihkan sedikitpun jika sudah menemukan sosoknya.  Belum lagi, bayang wajah gadis itu yang merasuki segala sisi pikirannya hingga bermimpipun wajah gadis itu yang muncul, dan sialnya… entah bagaimana… dirinya yang selalu disebut lady killer, kini merasakan apa yang gadis atau bahkan wanita-wanita diluar sana rasakan ketika melihat gadis itu.  Diam, kaku, bingung, tidak bisa berkutik.  Sedikitpun.  Mungkin.

 

Sehun bukannya tidak pernah berhubungan dengan wanita sampai-sampai merasa kaku dan tidak berkutik jika sudah melihat gadis itu.  Ia tentu tidak disebut sebagai lady killer begitu saja, bukan?  3 minggu lalu, sebelum 2 minggu kemudian ia datang ke cafe baru Jong In yang bertempat di kawasan Myeongdong ini dan tidak bisa tidak kembali, dirinya bahkan baru saja mencampakkan seorang wanita yang sudah dikencaninya selama 1 bulan.  Oh!  Jangan anggap itu adalah waktu yang sangat amat singkat.  Berhubungan dengan 1 wanita yang sama selama 1 bulan merupakan rekor terlama Sehun hingga saat ini.  Gadis dengan waktu terlama di sisi Sehun itu bahkan sudah besar kepala dibuatnya.  Mengumbar hubungannya dan Sehun akan abadi sebab waktu satu bulan itu yang nyatanya, hanya-lah satu bulan.

Sehun tidak pernah sendiri dan tidak perlu penjelasan untuk itu karena semua oran tahu alasannya.  Pria dengan segala kelebihannya itu, memanfaatkan semua yang ia miliki dengan baik hingga apapun yang diinginkannya menjadi kenyataan.  Menggandeng lebih dari satu wanita berbeda dalam suatu acara, atau bersama dengan wanita berbeda-beda setiap harinya—adalah Oh Sehun sebelum bertemu gadis itu.  Gadis dengan pandangan datar yang bahkan tidak mengurangi kecantikannya, gadis yang dipanggillnya nona kopi karena selalu memesan kopi tanpa berniat untuk memesan hal lain, dan gadis itu—gadis dengan berbagai macam deskripsi yang hanya ada dalam kepala Sehun.  Entah harus dimulai sejak kapan, namun dunia lady killer harus berbesar hati menerima lambaian tangan dari salah satu penghuni berharganya jika nona kopi Sehun benar-benar berhasil menjeratnya sampai akhir nanti.

 

“Uh!”  Kai, sahabat Sehun yang memiliki nama lahir Kim Jong In… pemilik cafe tempat Sehun selama satu minggu ini selalu muncul tiap jam makan siang, mengipas bibirnya sendiri dengan mata menyipit serta lidah yang dijulurnya beberapa kali, tidak suka dengan rasa yang baru saja dicecapnya.  “Kopimu sudah dingin, bung!  Rasanya benar-benar tidak enak.”

Menaikkan sebelah tangannya, seorang pegawai cafe yang bertugas mencatat menu pesanan pelanggan, mendekat.  Memakai atasan kemeja berwarna putih, celana bahan berwarna hitam, serta apron berwarna coklat yang melilit tubuhnya—tampilan pegawai cafe Jong In tidaklah berbeda jika dibandingkan dengan pegawai cafe-cafe lainnya.

“Bawakan Cappuccino, dan Espresso Con Panna.”  Sebutnya.  “Dan bawa juga ini.”  Pria itu menunjuk cangkir kopi Sehun yang isinya tidak berkurang setengahnya meski sudah hampir satu jam berada di hadapan sang pemesan.

Menoleh kembali pada Sehun, Jong In menggelengkan kepalanya heran.  Wanita cantik banyak, wanita anggun banyak, wanita… entahlah… yang jelas banyak jenis wanita yang hampir atau bahkan justru benar-benar sama, bukan?  Entah dari fisik, maupun sikap.  Wanita sekarang ini, bagi Jong In tidak ada bedanya.  Mereka semua sama, se-tipe, se-jenis.  Maka ketika Sehun yang juga berpikiran sama dengannya terjerat hingga tidak bisa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari gadis berwajah boneka yang bahkan sebelum-sebelumnya wanita Sehun adalah mereka yang ber-wajah boneka, Jong In terkejut.  Pasti.  Apa bedanya gadis berwajah boneka ini dibanding gadis berwajah boneka lainnya?

“Sebenarnya aku tak paham dengan beberapa hal.”  Jong In membuka pembicaraan ketika kopi pesanannya baru saja datang.  Menyesap cappucino-nya yang ber-asap…. pria itu melirik Sehun.  “Kau sedang jatuh cinta jika aku tebakanku benar.”

Sehun melirik Jong In dengan salah satu ujung bibirnya yang tertarik.

“Kenapa?”  Tanya Jong In lagi.  “Maksudku, kenapa dia?  Apa yang membedakannya?  Banyak gadis berwajah boneka sepertinya, bahkan hampir semua gadis hingga wanita yang kau kencani memiliki kecantikan di atas rata-rata, yang menurutku mereka semua memiliki wajah boneka sepertinya.  Lalu ada apa dengannya?”

Sehun menaikkan kedua bahunya.  “Entah.”  Menyesap Espresso Con Panna-nya saat asap pekatnya tidak semengepul tadi, Sehun memberengut, dan Jong In tergelak.

“Kau tidak suka kopi.  Jangan memaksakan diri.”  Ujarnya menarik cangkir yang Sehun pegang namun pria itu menolaknya.

Melihat cairan hitam pada cangkir yang tangannya pegang, kedua alis Sehun berkerut hingga wajah serius yang hanya tampak ketika berhadapan dengan kertas hingga kanvas, muncul.  Mencicipinya sekali lagi, mencari arti dari sebuah kopi yang begitu disukai nona kopi-nya, gadis berambut pendeknya, Sehun terpaksa menyerah dengan meletakkan kembali cangkir tersebut saat indra perasanya benar-benar menolak.  “Katakan pada pelayanmu untuk menyisakan satu kursi kosong disamping meja ini.”  Ucapnya pelan masih merasakan tidak enaknya kopi yang menyentuh lidahnya sebanyak apapun dirinya berusaha untuk bersahabat.

Jong In tersenyum geli, ditolehnya seorang pelayan yang berada dibalik counter, menggerakkan sedikit kepalanya pada arah kursi kosong disamping mejanya dan Sehun duduk—pelayan itu sudah mengerti apa yang bos-nya maksud dan beberapa gadis yang hendak duduk disana kembali ia halangi seperti biasa.  “Maaf, meja ini sudah ada yang memesan.”  Katanya.

 

“Lalu?”  Jong In kembali melirik Sehun.  “Kau tidak akan lakukan apapun padanya?”

“Entah…”  Sehun kembali menaikkan kedua bahunya lengkap dengan kata pendek yang familiar dalam pendengaran Jong In.  Setelah itu, tidak ada percakapan lanjutan diantara mereka.  Sehun sibuk melihat pintu masuk cafe Jong In, sementara Jong In sendiri memperhatikan pelanggannya yang mulai berdatangan.

Tidak lama kemudian, ketika cappucino milik Jong In sudah tidak bersisa, dan Sehun sudah lelah menghitung menit yang berlalu, gadis berambut pendek itu, yang hari ini mengenakan mini dress berwarna abu-abu pendek dengan padanan blazer hitam sepanjang dress-nya, muncul, memasuki cafe Jong In dengan pandangan menyisir deretan bangku yang mulai penuh.

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. hanhana12 says:

    dilanjut ya ya? ini bagus bgt story nya baru chapter awal udh bikin mood buat baca cerita ini selanjutnya! sehun & coffee girl must be a beloved

    Liked by 1 person

  2. hanhana12 says:

    i will wait the next^^

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s