#2ObrolanMalam

“Ini menyedihkan.”

Sehun yang mendengar suara melemah istrinya menoleh.  Menutup buku tebal yang dibacanya, pria itu meletakkannya asal dan membuka selimutnya agar Hana ikut bergabung bersamanya, menghangatkan diri didepan perapian.  “Apa lagi?”

Mengenakan jacket kulit berwarna hitam, Hana melepasnya dan melemparkannya asal pada sofa berwarna coklat yang punggungnya tertutupi oleh bulu binatang.  Ikut bergabung dengan Sehun, merebahkan dirinya pada karpet bulu yang langsung berhadapan dengan perapian, tangan terbuka Sehun agar ia masuk dalam pelukannya—wanita itu sambut dengan senang hati.

“Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan.”

“Aku akan mendengarkannya seperti biasa.”

“Hanya mendengarkan?”  Hana mendongakkan kepalanya dari dada Sehun yang dijadikannya bantal.

“Juga menjawab dan bahkan berdebat, mungkin?”  Sehun tersenyum tipis dan mengecup kening Hana bersamaan dengan tangannya yang mengusap puncuk kepala wanita itu.  “Jadi?”

“Sebenarnya ini tentang film lama, tapi aku baru menontonnya.  Awalnya aku tidak mau menontonnya, tapi karena pemainnya cukup familiar dalam mata dan penglihatanku, dan menurutku mereka bagus, maka aku menontonnya dan aku sama sekali tidak menyangka bahwa itu adalah nyata.”

“Wow!”  Sehun menepuk pelan lengan istrinya dan bangun dari tidurnya kala wanita itu kembali mendongakkan kepalanya.

“Kenapa?”

“Bisakah kau menceritakannya dengan perlahan, Nyonya?”

Hana tergelak dan ikut duduk.  “Oke, maaf.  Aku terlalu bersemangat.”

“Lagipula kau itu lucu, pengamat film sepertimu, mana ada kata pemain tidak cukup familiar dalam mata dan penglihatanku?”

Hana terkekeh lucu dan mengusap hidung runcingnya.  Mengikat rambut sebahunya, Hana bangkit.  “Kau ingin aku buatkan kopi?”

“Tidak.  Kau saja.”

“Sebentar ya.”  Pamit wanita itu dan berlalu menuju dapur.

Sehun membuang nafas panjang dengan pandangan pasrah dan gelengan kecil melihat istrinya yang mengambil kopi instan dari dalam kulkas dan langsung meminumnya, dan membawanya bersama ia.

“Aku menonton 3 film hari ini.”  Wanita itu memulai ceritanya dan kembali duduk dihadapan Sehun dengan sebotol kopi instan di tangannya.  “Yang pertama judulnya The Other Boleyn Girl. Karena hampir semua film yang minggu ini keluar sudah selesai aku berikan nilai, dan aku tidak ada pekerjaan di kantor, dan pulang-pun kau tidak mungkin di rumah… jadi aku mencoba peruntungan dengan menonton film yang ada pada folder lama.  Awalnya aku tidak mau menonon film ini, hanya… karena, kau tahu kan? Aku suka style-style kerajaan dengan gaun-gaun besar dan lebar, mahkota, mutiara, dan lain-lainnya… maka aku mencoba.  Hanya mencoba.”  Hana menekan kalimat mencoba yang ia maksudkan.

“Lalu kau lanjut menontonnya?”

“Ya.  Setelah aku tahu siapa yang memainkan peran dari karakter dalam film tersebut.  Natalie Portman, Scarlett Johansson, Eddie Redmayne, dan Eric Bana.”

“Fuh!”  Sehun membuang nafasnya sekali lagi dengan anggukan kepala dan mata membulat pada Hana.

“Kenapa?”

“Berapa ratingnya?”

Hana terkekeh.  “Karena itu aku penasaran.  Ratingnya tidak mencapai angka 7 padahal pemainnya adalah aktor dan aktris besar.”

“Jadi?  Kau menonton itu karena Eric Bana?”  Tanya Sehun persis seorang guru mendapati muridnya yang tengah mencontek kala ulangan lengkap dengan kedua tangannya yang menyilang.

“Oh….”  Hana mencoba berdalih meski tahu itu tidak mungkin.  Menghindari tatapan Sehun, wanita itu meminum seteguk kopi-nya  “Tapi Eric Bana memang tampan, bukan?”

“Hah!”  Sehun mendengus.  “Aku tidak mau mendengar tentang kisah film itu.  Yang lain!”

“Oh yang benar saja?  Aku sudah menyiapkan diri seharian untuk menceritakan ini padamu, Sehun-ah.  Kumohon, dengarkan dulu setidaknya.  Aku tidak akan membawa-bawa nama Eric lagi.  Hm?”

Sehun melirik Hana malas sambil menghela nafas panjang.  “Ya, lanjutkanlah…”

“Jadi ini tentang King Henry VIII, dan beberapa istri juga wanita-wanitanya.”

“Dia itu bukannya Raja yang memfitnah dan kemudian membunuh istrinya?”

“Ya.”

“Maka aku sudah tahu kisahnya.  Tidak perlu kau ceritakan.”

“Tck!”  Hana berdecak kesal.  “Tapi film ini mengambil kisah dari sisi yang berbeda.  Selama ini kita hanya tahu bahwa King Henry VIII memfitnah Anne telah melakukan perselingkuhan dengan mantan tunangannya dan tidur dengan saudara laki-lakinya sendiri, dan bahkan mengikuti ajaran setan hingga menjadikannya penyihir.  Tapi di film ini, Anne diceritakan bahwa dia telah menikah dengan tunangan wanita lain, dan dia tidak tidur dengan saudara laki-lakinya itu.”

“Sudah, kubilang.  Aku tidak tertarik mendengarkan cerita dari film Eric Bana yang sangat kau suka itu.  Next!”

Giliran Hana  yang menghela panjang menatap suaminya kesal.  Memutar kedua matanya malas, toh wanita itu melakukan apa yang suaminya inginkan.  “Untuk pertamakalinya dari bertahun-tahun aku melihat seorang Julia Roberts, akhirnya aku sepaham bahwa dia sangat cantik.”

“Oh…”  Sehun langsung tertawa sementara pandangan tajamnya pada Hana langsung memudar.  “Kau?  Akhirnya…”  Pria itu nampak lega.  “Aku masih ingat ketika kau selalu bertanya padaku tentang, dimana letak kecantikan seorang Julia Roberts?”

“Hei, lupakan itu.”  Hana menarik tangan Sehun yang melambai didepan matanya, dan menggenggamnya hangat.  “Aku sedang mendengarkan musik ketika tiba-tiba sampai pada lagu Richard Marx, right here waiting.”

“Kau tidak menangis, bukan?”

“Mana mungkin?”  Wanita itu langsung memotong dengan pelototan mata sempurna pada Sehun.

“Kau selalu diam dan mendengarkan lagu itu seolah kau ada di dalamnya dan terkadang menangis, apa aku salah?”

“Aku tidak pernah melakukan itu….”  Elaknya.

“Baiklah.  Terserahmu.  Lanjutkan ceritanya…”

“Karena aku sering mendengarkan lagu itu, tapi tidak pernah tahu seperti apa rupa Richard Marx, aku membuka youtube dan menontonnya.  Tidak lama setelah itu, aku sampai pada lagu Michael Bolton, a time for letting go.  Aku tidak tahu apakah lagu itu merupakan soundtrack film dari Sleeping With Enemy atau bukan, tapi karena video klipnya begitu maka mungkin begitu.”

“Dan akhirnya kau menonton Sleeping With Enemy?”

“Yup.  Betul sekali.”  Hana menjetikkan jarinya untuk pertanyaan Sehun itu.  “Pemeran wanitanya adalah Julia Roberts dan sepanjang aku menontonnya, aku tidak berhenti berkata bahwa wanita itu benar-benar dan sungguh-sungguh cantik luar biasa.  Tapi bukan tentang film itu yang ingin aku ceritakan padamu?”

“Maksudmu?”

“Film itu di angkat dari sebuah novel karangan Nancy Price, dengan judul yang sama, Sleeping With Enemy.”

“Ya, lalu?”

“Apa kau tahu tentang fanfiction?”

Sehun merengut, tidak menemukan kata sambung yang cocok antara kalimat yang istrinya sebutkan, dan pertanyaan yang baru saja ditanyakannya.  “Ya, itu semacam fiksi yang dibuat oleh fans untuk menyalurkan ide mereka tentang seorang idola, bukan?”

“Lalu, apa kau pernah membaca sebuah fanfiction, atau pernah menonton sleeping with enemy ini, atau pernah membaca novelnya langsung?”

Sehun menggeleng.  “Tidak.”

“Aku pernah membaca satu tentangmu, dan banyak tentang Kyuhyun sunbae-nim, ataupun anggota Super Junior yang lainnya, ataupun idola senior yang lainnya.”

“Kau gila?  Untuk apa?”

“Aku penasaran tentang apa yang mereka tulis tentang Sehun EXO, suamiku.”

“Oh, yang benar saja?”  Sehun menggeleng tidak percaya.  “Lalu?  Apa hubungannya dengan semua itu?”

“Sleeping with Enemy menceritakan tentang pasangan suami istri, suaminya dikatakan agak lumayan gila, tapi menurutku tidak.”  Ya, Sehun mengangguk untuk pernyataan Hana itu.  Bahkan seorang pembunuh belum tentu pembunuh, menurutnya.  “Mereka tinggal di bibir pantai, untuk film tahun 1991, aku sangat menyukai rumahnya.  Oh, itu berarti aku lahir setahun kemudian, dan kau lahir 3 tahun kemudian.”  Hana bertepuk tangan semangat seolah itu memang pantas untuk dibanggakan.

“Kau bangga?”

“Tentu, aku lahir dan sudah bisa menikmati film itu.”

“Kau baru menikmatinya hari ini, setelah film itu muncul selama 25 tahun.”

“Siapa yang perduli, yang jelas aku bisa menikmati film itu.”

“Ya… ya, lanjutkan sajalah aku sudah mulai mengantuk.”  Sehun menguap dan kembali merebahkan tubuhnya.

“Si suami ini, aku tidak tahu siapa nama aktornya, yang jelas si suami ini… dia sangat mencintai istrinya kurasa.  Mereka memiliki rumah dibibir pantai yang bagus.  Awalnya aku pikir mereka adalah pasangan yang bahagia, tapi ternyata tidak.  Suaminya ini melarang istrinya untuk sering keluar, apapun di dalam rumah sampai isi lemari makanan harus rapi, tidak boleh berantakan dan semuanya harus tegak lurus, menghadap kedepan, tidak boleh miring.  Suaminya ini juga mudah marah dan sampai memukul ketika seorang pria, tetangga baru mereka datang dan berucap bahwa ia melihat istrinya ini.”

“Lalu?”

“Lalu Julia Roberts, dia berperan sebagai Laura, dan Laura ini kabur.  Tapi bukan itu yang mau aku katakan padamu.”

“Maka katakan saja, aigo….”  Sehun menarik tangan Hana yang masih memegang sebotol kopi.  Mengambil kopi itu dan meletakkannya persis di samping tubuhnya, Sehun membawa Hana masuk dalam pelukannya.  “Lalu apa yang ingin aku ceritakan?”

“Aku beberapa kali membaca sebuah fanfiction tentang pria yang sudah menikah dan dia begitu otoriter pada istrinya.  Tidak mengijinkan istrinya keluar, bahkan untuk bertemu keluarganya, seperti Sleeping with Enemy ini.  Apa mungkin, mereka mencontoh sebagian dari kisah novel ini?  Jika di novelnya Laura membunuh suaminya, maka jika di fanfiction pasti akan ada scene dimana istrinya hamil, suaminya berubah, dan akhirnya istrinya memaafkan.”

Sehun terkekeh geli.  “Apa fanfiction tentangku seperti itu?  Aku menikah dan aku sangat jahat pada istriku?”

“Beberapa.”  Hana tergelak saat itu juga mengingat beberapa kisah yang dibacanya dan melirik Sehun.  “Jika kau memperlakukanku buruk, aku akan meninggalkanmu, ini bukan fanfiction.”

Sehun mengangguk dengan senyum lebar.  “Aku tahu.  Lagipula kenapa aku harus memperlakukanmu buruk?  Itu menyakitiku.”

“Ah…”  Hana mengejek meski bibirnya tersenyum dan hatinya berdebar.  “Lalu yang selanjutnya, sebenarnya ini bukan tentang film. Ini tentang anak dari temanku,”

Sehun sudah menarik nafas panjang.  Mengelus dada-nya, pria itu nampaknya harus bersabar dan semakin bersabar untuk cerita Hana yang kembali menceritakan seorang anak, seolah hasutan untuknya agar tidak mendengarkan permintaan masing-masing dari orang tua mereka untuk seorang cucu.

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. osehn96 says:

    Ngebayangin muka datar sehun pas hana bilang yg sebenarnya ahahahah. Duh pengen daah di posisi hana. Eeh iya kan visual hana aku yaak ahahhahahahahahahabahahahahahaha 😅😅😅

    Liked by 1 person

  2. osehn96 says:

    sebenarnya ini bukan tentang film. Ini tentang anak dari temanku.. ngebahasnya anak lagi ahhaha

    Liked by 1 person

  3. hanhana12 says:

    i’ve read & really love the way you wrote this story. anyway the oc name as like as my name lol

    Liked by 1 person

  4. hanhana12 says:

    will wait the other series of this story, aku suka night conversation mereka TT

    Liked by 1 person

  5. finavi says:

    Aaaaakk ka vidya aku baru buka notes dan menemukan blog kk setelah mencari dimana forgiven tercintakuu …
    Akhirnya aku baca ini dan aku baper hahahahah

    Liked by 1 person

    1. Mrs. Bi_bi says:

      Ehhhei…. fina toh ini😂

      Like

  6. KenDi says:

    hahhahaa. sumpah ngukuk ama kelakuan hana. dia drama lover banget, keknya gajauh ama yang nulis nih sifat si hana. hahahahaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s