#1ObrolanMalam

“Aku tidak bisa membayangkan tentang seorang ibu yang meninggalkan anaknya.”

“Maksudmu?”  Sehun menutup buku di tangannya dan menoleh pada Hana, istrinya.

“Tadi aku menonton drama.”

“Oh.  Kau mulai lagi.”  Sehun memutar mata malas dan kembali membuka bukunya pada lembar terakhir yang ia baca.

“Dengarkan aku dulu.”  Hana mengambil buku di kedua tangan suaminya, berikut kaca mata baca yang Sehun kenakan.  “Lagipula kau umur berapa sampai pakai kaca mata model tua begini.”

“Sudah.”  Sehun mengangkat kedua tangannya menyerah.  “Jadi, apa yang tadi ingin kau ceritakan, istriku?”

Pria itu memutar tubuhnya hingga menghadap Hana lurus.  Selimut yang tadi menutup kakinya hingga pinggang, ia singkirkan dan Hana yang menyandarkan tubuhnya pada dashbord ranjang nampak begitu santai.

Menarik rambut pendeknya ke belakang telinga, Hana menoleh pada Sehun sambil tersenyum.  “Aku tidak bisa mengerti tentang seorang ibu yang meninggalkan anaknya.”

“Memangnya, apa yang ibu itu lakukan hingga meninggalkan anaknya?”

“Bercerai.”

“Jadi anak itu bersama ayahnya?”

“Tidak juga.”

“Lalu?”  Sehun merengut.

“Dia meninggalkan hati anaknya.”  Ujar Hana pelan.  Rautnya nampak sedih dan wanita itu benar-benar memasuki kisah dari drama yang ditontonnya tadi siang.  “Dia menyakiti hati anaknya untuk menenangkan hati dari anak orang lain.  Dia bercerai untuk membuat anak orang lain nyaman, sementara tanpa ia sadari… hati anaknya terluka.”

“Hana?”  Sehun mengusap pelan pipi istrinya dan membalik wajah lurus wanita itu yang sebelumnya tidak menghadapnya.  “Kau, baik-baik saja?”

“Tidak.”

Sehun membuang nafas panjang.  “Itu hanya drama.”

“Karena itu adalah drama, dan drama mewakili cerita-cerita yang tidak pernah kita ketahui kisahnya.  Tidak seharusnya kau berucap, itu hanya drama, Sehun-ah.”

“Ya.”  Sehun mengangguk.  “Lalu?  Apa yang kau inginkan?”

“Aku membenci anak kecil.”

“Hei!”  Kaget Sehun saat itu juga.  “Apa maksudmu? Mana boleh kau berkata seperti itu?  Kita masih belum memiliki seorang anak-pun, jangan sampai ucapanmu itu membuat Dewa marah.  Lagipula apa hubungannya ibu yang meninggalkan anaknya untuk anak orang lain dan kau yang membenci seorang anak?”

“Cinta tidak cukup berharga, Sehun-ah.”  Hana melanjutkan kalimatnya dengan pandangan sayu dan bibir hampir tidak terbuka.  “Aku banyak melihat sebuah pernikahan yang bertahan hanya karena anak, dan aku juga banyak melihat pernikahan hancur karena anak.  Karena kita sudah memiliki anak, kita harus bertahan demi anak kita.  Karena kita memiliki anak yang harus kita jaga emosi dan jiwanya, kita harus bercerai dan berhenti bertengkar.  Bagaimana menurutmu alasan seperti itu?”

“Kau menakutiku.”  Sehun memegang dadanya sendiri dengan pandangan meringis pada Hana.  “Hentikan ocehan malammu itu dan kita tidur.”

“Aku serius.”  Hana menepis tangan Sehun yang hendak menariknya untuk tidur.  “Cinta tidak seberharga yang drama atau film tunjukkan.  Cinta, hanya sebuah kata.  Tanpa arti, tanpa makna,”

“Oh baiklah…”  Sehun memegang kepalanya dengan kedua tangan.  “Sekarang katakan padaku, kenapa kau mau menikahiku?  Jika bukan karena cinta, lalu karena apa?”

Hanya berdecak sinis.  “Apa kau lupa kau yang memaksaku untuk menikah?!”  Sungutnya dengan kedua tangan memegang pinggangnya seolah menunjukkan bahwa dirinya tangguh.  “Jika kau tidak mengejar-ngejarku dan langsung mendatangi appa, mana mau aku menikah denganmu?”

“Oh.  Kejamnya?”  Sehun menampakkan wajah terkejut yang dibuat-buatnya dengan kedua tangan memegang wajahnya sendiri.  “Itu menyakitiku.”

“Oh…. dan kau yang kali ini berdrama.”

Tertawa konyol, Sehun berbalik sekedar mematikan lampu tidur dibelakang tubuhnya dan langsung merebahkan diri tepat disamping Hana.

Mengulurkan tangannya untuk memeluk Hana, pria itu kembali berucap.  “Aku mencintaimu seperti aku mencintai diriku sendiri.  Memberikanmu yang terbaik seperti aku memberikan yang terbaik untuk diriku sendiri.  Memperlakukanmu dengan sempurna seperti aku yang ingin diperlakukan sempurna oleh semua orang.  Apakah itu cukup?”

Hana tergelak dalam suasana remang yang senyumnya tidak begitu bisa Sehun lihat.  “Aku belum sampai pada tahap itu.  Aku hanya sampai pada tahapan dimana aku bahagia untukmu, dan sedih untukmu.  Apakah itu setingkat?  Atau milikku yang lebih tinggi?”

Sehun hanya terkekeh geli mendengar nada bertanya Hana pada kalimatnya dan dirinya rasa cukup untuk perbincangannya dengan Hana malam ini.  Obrolan tentang anak selalu membuatnya ngeri karena Hana selalu melontarkan kata-kata menakutkan agar mereka tidak memiliki anak.

“Hei.  Tidurlah.”

Advertisements

8 Comments Add yours

  1. osehn96 says:

    Seru kali mereka punya anak ya kaaaan.

    Liked by 1 person

  2. hanhana12 says:

    sehun looks like he is really understanding about hana’s feel & he such a good hubby whom i imagine so much

    Liked by 1 person

  3. hanhana12 says:

    jadi inti dari konflik cerita apa hana nggak pgn punya baby trus sehun coba mengerti hana

    Liked by 1 person

  4. hanhana12 says:

    dilanjut dong yg obrolan malam ke 3:)

    Liked by 1 person

  5. angelkim393 says:

    Hana g pingin punya baby tp sehun pingin….terus gmn donk

    Like

  6. finavi says:

    Utututututkttututuk manisnyaaaaa aahhhh sehunaa

    Liked by 1 person

  7. Uchie vitria says:

    Segera punya baby aja kalo gitu ntar kan ngerti

    Like

  8. husnul says:

    Singkat tapi seru
    Ijin baca yaaaaa
    New nihhh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s