New Time, Sequel of Time Chapter 2

newtime1-copy

PERHATIKAN KETERANGAN WAKTU.  Alur maju-mundur

 

Blue = past

2008

14052263_337308453267965_769063946_n

Duduk seorang diri pada salah satu sudut ruang kerja yang hanya digunakan ketika ada rapat pribadi dan harus dilakukan di rumah, berkas laporan dari salah satu cabang perusahaan yang baru didapatnya beberapa menit lalu menjadi fokus Siwon hingga ketika kedua matanya melirik jam tangan berbentuk bulat dengan detail emas yang melapisi pinggirannya serta batu mulia sebagai pengganti angka, hela nafas panjangnya menjadi tanda lain dari sudah teralihkannya perhatian pria itu.

“Permisi, Tuan.”  Song Joong Ki, asisten pribadi Siwon, menyela lamunan Tuan-nya tentang kemana perginya penghuni lain rumah itu.

Menutup laporan dari anak perusahaan dihadapannya, Siwon menoleh pada pria berpakaian rapi yang sudah bersamanya hampir 10 tahun itu.

“Ada apa?”  Tanya Siwon.

“Ini yang anda minta untuk saya cari kemarin.”  Menyodorkan sebuah map berwarna hitam kehadapan Siwon, Joong Ki meletakkannya pada sisi berkas pekerjaan Siwon dan atasannya itu hanya memberikan sebuah tanggapan berupa lirikan kosong pada map yang ia bawa.  “Namanya adalah Cho—.”

“Biarkan.”  Siwon memotong kalimat Joong Ki.  Masih menatap map dari Joong Ki, Siwon kembali membuka bibirnya  “Aku akan mendengarkannya sendiri dari bibir adikku.  Kau boleh pergi, terimakasih.”

Maka jika sudah begitu, Joong Ki yang paham tentu mengangguk.  Membungkukkan sedikit tubuhnya dan berjalan mundur hingga mencapai ujung pintu, barulah saat itu ia berbalik dan pergi—meninggalkan Siwon seorang diri seperti semula.

Merapikan semua berkas pekerjaannya di meja, menyusunnya rapi—Siwon menarik nafas panjang.  Sekali lagi matanya melirik jarum jam pada pergelangannya yang sudah menunjuk pukul 11:00 malam.  Tidak terlalu malam memang, namun bagi Siwon, itu sudah sangat malam dan melewati batas perjanjiannya bersama Joon Ae untuk jam pulang malam.

Tidak lama kemudian, saat Siwon akan mengambil ponselnya untuk menghubungi Joon Ae, deru mobil yang memasuki halaman depan rumahnya terdengar.  Bangkit perlahan dan berjalan menuju arah jendela yang langsung menampakkan area depan rumah, Mercedes SLR McLaren berwarna silver sampai dalam pandangan mata Siwon ketika tirai hadapannya ia pinggirkan.

Adiknya, Joon Ae, yang sejak tadi ia khawatirkan keberadaannya, keluar dari dalam mobil itu sesaat setelah seorang pemuda asing  yang baru kali ini Siwon lihat lebih dulu keluar dan kemudian membukakan pintu mobil untuk adiknya.

“Katakan pada Isabelle untuk menemuiku segera.”  Siwon memerintah, pada orang yang berjaga didepan pintu masuk ruang kerja pribadinya.  Membalik badan dan kembali duduk pada tempatnya semula, pria itu menghitung detik sembari menunggu kedatangan adiknya.

 

 

Oppa memanggilku?”  Joon Ae muncul dari arah belakang Siwon dengan riangnya dan segera memeluk tubuh tegap pria yang sudah bersamanya semenjak kecil itu dari belakang.  “Ada apa?”  Tanyanya makin mengeratkan kalungan tangannya pada leher Siwon.

“Duduk.”  Singkatnya hingga membuat Joon Ae memberengut.

Melirik Siwon dengan sedikit menolehkan kepalanya, wajah dingin juga kaku oppa-nya adalah apa yang Joon Ae dapat.  Merasa bahwa apa yang akan dibicarakan begitu serius, senyum Joon Ae memudar perlahan.  Melepas pelukannya, gadis itu segera duduk di kursi samping oppa-nya dengan raut tidak kalah serius seperti milik Siwon.  “Ada apa, oppa?  Apa aku sudah lakukan salah?”

“Ingin ceritakan sendiri, atau aku harus dengar dari orang lain?”  Siwon menunjuk map hitam yang tadi Joong Ki berikan padanya.

Terusik dengan map yang Siwon tunjukkan hingga keningnya sedikit berkerut, tanpa membuang waktu segera saja Joon Ae mengambil dan membukanya.

Membalik dan melihat satu persatu lembar kertas yang ada dalam map, hela nafas Joon Ae terdengar ketika paham tentang apa yang Siwon maksud dan inginkan.  Berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlihat gugup, sebelah tangan Siwon ia ambil dan digenggamnya erat.   “Namanya Cho Kyuhyun.  Usianya di atasku 2 tahun, dia lahir tanggal 3 Februari 1988 yang artinya tahun ini usianya 20 tahun.  Keluarganya adalah pemilik perusahaan Cho Corp yang bergelut pada bidang pendidikan, konstruksi, dan tahun ini mulai merambah pada real estate.  Kyuhyun sendiri saat ini sedang kuliah di Universitas Kyung Hee pada bidang musik.  Kami pertama kali bertemu ketika Taemin mengundangku pada perayaan ulang tahunnya, sahabat Taemin… namanya Shim Changmin adalah sahabat Kyuhyun.  Setelah itu kami beberapa kali bertemu, bertukar nomor ponsel, dan saling berhubungan.  Sekitar 4 bulan lalu kami semakin dekat.”  Jelasnya.

Sebelah alis Siwon terangkat.  Merasa ada yang kurang, pria itu menambah,  “Semakin dekat itu, kekasih?”

Berbohong-pun percuma.  Tidak mengakuinya apa lagi.  Maka dibanding berbohong dan tidak mengakuinya, meskipun sedikit ragu untuk jujur, Joon Ae mengangguk.  “Ya.”  Akunya pelan.

Makin mengeratkan genggaman tangannya pada Siwon, kebisuan yang oppa-nya tunjukkan setelah dirinya berkata ya—entah apa yang ada dalam pikirannya Joon Ae tidak tahu.  Namun kemudian, bersama pandangan juga perasaan bersalahnya, sebelah tangan Siwon yang masih berada di atas meja ia ambil dan ikut digenggamnya tidak kalah erat.  Menarik nafas dalam dan kemudian menghembuskannya hingga Siwon mendengar, Joon Ae kembali membuka mulutnya,  “Maaf.”  Katanya.  “Harusnya aku ceritakan sebelumnya dan oppa tidak perlu tahu atau dengar dari orang lain.  Aku benar-benar menyesal.”

Ganti Siwon yang merengut.  Menggigit bibir bagian bawahnya, pria itu hanya menatap adiknya tajam tanpa hendak mengatakan atau memberikan satu patah kata yang bermaksud menenangkan.

Mendesah, Joon Ae kembali bertanya.  “Oppa, marah?”

“Marah?  Kenapa?”

“Karena aku sembunyikan ini dan oppa lebih dulu tahu dari orang lain.”

“Hanya karena itu?”

“Juga pada Kyuhyun.”

“Apakah dia pria baik?”

“Ya.”  Joon Ae segera mengangguk.  “Dia sangat baik padaku, dia juga pandai bermain musik dan suaranya bagus.  Dia sering menyanyikanku lagu.”

“Jadi kau bahagia bersamanya?”

Tersenyum, Joon Ae kembali mengangguk.  “Ya, aku sangat bahagia bersamanya dan aku sangat mencintainya.”

“Lalu kenapa tidak kau katakan padaku sebelumnya?”

“Aku tidak tahu harus bagaimana memulainya, dan aku juga takut jika oppa tidak suka padanya.”

“Bukankah kau bilang bahwa kau bahagia ketika bersamanya?  Maka aku tidak punya alasan untuk tidak menyukainya, bukan?”

“Ya, harusnya…”

Ucapan macam itu serasa menggantung dalam indra pendengaran Siwon.  Maka dengan pandangan makin tajam pada adiknya, ganti ia yang menggenggam tangan Joon Ae erat.  “Harusnya?”

Oppa terlalu memiliki standar yang tinggi.  Meskipun bagiku Kyuhyun sempurna, hal seperti itu belum tentu ada dalam pikiran oppa.  Karena itu, aku bilang… harusnya.”

Siwon terkekeh.  Mengusap puncuk kepala Joon Ae hingga rambut rapinya sedikit berantakan, sebelah tangannya kini berganti menyentuh pipi putih adiknya lembut.  “Lihat aku.”  Katanya pelan, disertai senyum, nada riang, dan pandangan hangat.

Joon Ae menatap oppa-nya, persis seperti yang pria itu minta.  Bedanya, pandangan khawatirnya tidak serta merta hilang meski raut pria dihadapannya tidak sedingin ataupun se-kaku sebelumnya.

“Aku mencintaimu lebih dari siapapun, dan aku menyayangimu lebih dari apapun.  Bagiku, kau adalah yang terpenting.  Bagiku, kau bukan hanya sebuah titipan dari daddy-mu dan eomma-ku, tapi kau adalah benar adikku, tanggung jawabku, dan hidupku.  Menjagamu, adalah sama hal-nya aku menjaga diriku sendiri.  Apa yang membuatmu bahagia, tentu aku akan mendukung asal itu sama sekali tidak merugikanmu.  Harapanku memang tinggi dan selalu tinggi untukmu, tapi jika harapan tinggi itu tidak membuatmu bahagia, maka buang saja.  Begitupun mengenai cintamu.”  Siwon meletakkan sebelah tangan bebasnya pada dada atas Joon Ae.  Makin mendekatkan wajahnya serta senyum yang makin lebar, pria itu mengusap sayang kepala adiknya.  “Cinta bukan sesuatu yang bisa aku kendalikan.  Aku tidak akan protes untuk itu asal kau bahagia.  Cintai siapapun yang ingin kau cintai, asal orang itu memperlakukanmu dengan baik.  Aku tidak akan marah ataupun melarang.”

Joon Ae tersenyum.  Dengan mata memerah dan bibir bergetar, gadis itu langsung memeluk oppa-nya.  “Terimakasih.”  Katanya dengan lelehan air mata haru yang menyentuh hatinya.  “Aku pasti akan bahagia bersama Kyuhyun, aku janji.  Aku tidak salah pilih dan dia adalah pria baik yang sudah pasti akan membahagianku hingga oppa tidak kecewa.”

“Maka,”  Siwon mendorong tubuh adiknya dan menghapus sisa air mata pada pipi Joon Ae.  “Katakan padanya, sebulan lagi saat aku kembali dari Canada, aku ingin bertemu dengannya.  Aku ingin mengenalnya lebih dekat, jika bisa, hingga kami bersahabat.”

Joon Ae tersenyum lega.  Kembali memeluk Siwon, gadis itu tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih untuk apa yang Siwon berikan padanya hingga sejauh ini.

“Keinginanku hanya bahagiamu, Isabelle….”

“Itu juga yang aku inginkan dari oppa.”

“Maka bahagialah jika kau ingin aku bahagia.  Karena jika kau bahagia. maka aku lebih bahagia dari siapapun di bumi ini.”

“Ya..”  Joon Ae bernafas lega dan melepas pelukannya dengan pandangan hangat yang tidak henti-hentinya ia terima dari Siwon.

“Adikku sudah dewasa sekarang.”  Kata pria itu menyisir pelan rambut adiknya.  “Tidak kusangka kau akan secepat ini bertemu dengan pria yang akan membahagiakanmu.”

“Maka oppa juga harus bertemu dengan wanita yang akan membahagiakan oppa.  Aku sudah cukup untuk oppa perhatikan hingga saat ini.”

“Iya, nanti.”  Angguknya.  “Tapi Isabelle, mulai sekarang jangan pulang terlalu larut seperti akhir-akhir ini lagi.  Kau boleh pergi dan menghabiskan waktu bersamanya sepanjang hari tapi kau harus ingat kapan waktunya pulang.  Pria baik-baik tidak mengajak keluar seorang gadis hingga tengah malam, bukan?”

“Aku mengerti.”

“Dan, ingatlah ucapanku ini.  Jika kau bahagia bersamanya, maka teruslah bersamanya.  Tapi jika kau tidak bahagia bersamanya meskipun kau mencintainya, lepaskan dia.  Bersamalah dengan seseorang yang mengerti arti dirimu ketika dirimu ada di sisinya, bukan mengerti arti dirimu ketika dirimu tidak bersamanya lagi.  Kau mengerti?”

“Ya, aku mengerti.”

“Baguslah…”  Ucap Siwon dengan hela nafas lega.  “Kau yakin bahwa dia juga memikirkanmu sebanyak dirimu memikirkannya?  Mencintaimu sebanyak kau mencintainya?”

“Iya oppa… iya.  Aku yakin Kyuhyun merasakan apa yang aku rasakan.”

“Aku hanya takut dia akan melukaimu.  Jangan mudah percaya dan pakai otakmu, jangan pakai hati.  Kau tidak boleh lakukan sesuatu yang merugikanmu, mengerti?”

“Iya oppa... berhentilah khawatir.  Aku baik-baik saja.”  Joon Ae terkekeh.  Memeluk Siwon erat bersama segala ceritanya tentang Kyuhyun yang mengalir begitu saja  malam itu. Layaknya dongeng pengantar tidur.

Hal menyenangkan terakhir yang mereka lakukan setelah masuknya nama Cho Kyuhyun.

 

 

***

2016

Dennis terkekeh, menatap Joon Hyun lucu.  Pria itu mendudukkan dirinya di lantai hingga pandangannya dan Joon Hyun sejajar.  Masih dengan sudut bibir tertarik yang membentuk lengkungan, pria itu membuka mulutnya.  “Apa katamu, adik kecil?  Bisa kau ulangi sekali lagi?”

Joon Hyun menatap Dennis takut meski pria itu menampakkan wajah malaikatnya.  Sedikit bergetar sebab menahan tangisnya, bocah itu menggosok hidungnya yang entah bagaimana serasa tersumbat padahal dirinya sedang tidak terserang flu.

Baru saja Joon Hyun akan membuka mulutnya untuk mengulang perkataannya sebelum ini, pemikiran-pemikiran aneh yang entah bagaimana ada dalam kepala kecilnya berdatangan dan memenuhi dirinya hingga hampir menangis.  Mungkinkan eomma-nya diculik oleh pria dihadapannya ini tanpa sepengetahuan appa-nya?  Atau mungkin eomma-nya juga tidak mencintainya seperti appa-nya maka dari itu pergi bersama pria ini?  Pria yang menyebut eomma-nya sebagai istri.

“Oh astaga.  Kau kenapa?  Apa ucapanku menyakitimu?”

Dennis memeluk Joon Hyun khawatir ketika kedua mata anak itu telah penuh dengan air mata.  Mengusap pelan punggung Joon Hyun, Dennis berdiri dan menggendongnya dengan beberapa gerakan kecil layaknya orang tua menenangkan anaknya.  “Apa paman menyakitimu?  Apa ucapan paman ada yang salah?  Maafkan paman, paman tidak bermaksud seperti itu.”  Jelasnya memundurkan tubuh Joon Hyun sedikit agar mereka berhadapan.

Diam saja, Joon Hyun tidak membalas ucapan Dennis.  Hanya kepalanya yang tertunduk lemas dengan jemari kecil yang menghapus air mata menggenangnya.  “Maafkan paman.”  Dennis mengulang.  Kali ini, pria itu menggunakan tangannya yang tadi mengusap punggung Joon Hyun untuk mengusap dada sesak anak kecil itu.  “Jangan menahan tangismu, kau akan merasa sesak nafas jika begitu.”

Joon Hyun mendongak.  Menaikkan kepalanya dengan wajah sedih dan takut yang masih terlihat.  “Kau boleh memiliki foto istri paman jika ingin.  Tapi jangan menangis, oke?”

Joon Hyun menarik lelehan air yang hampir mengalir dari kedua lubang hidungnya keras.  Sedikit mengernyit, anak itu mulai bicara.  “Dia eomma-ku, istri appa-ku, bukan istri Tuan.”  Ulangnya serak dan terbata.

Mengedipkan mata memerahnya beberapa kali, anak itu tidak membiarkan setetes air matanya jatuh.  Sambil memeluk dompet Dennis erat, pandangannya tidak teralihkan dari pria tersebut.

“Iya.”  Dennis mengangguk.  Mendudukkan Joon Hyun pada pinggiran wastafel, diusapnya pelan puncuk kepala Joon Hyun lembut.  “Isabelle adalah eomma-mu, istri appa-mu, dan bukan istri paman.  Kau sudah bisa tenang sekarang.  Maka berhentilah menangis, paman mintaa maaf.”

Raut waspada Joon Hyun masih bertahan.  Mengintip pelan foto Joon Ae pada dompet Dennis, anak itu melipat bibirnya dengan sesenggukan yang masih terjadi sesekali.

“Maka begini.”  Dennis melepas pelan jemari kecil Joon Hyun yang memegang dompetnya erat.  “Kau boleh memiliki foto eomma-mu jika ingin.  Paman tidak akan memilikinya lagi.”

“Lalu kenapa Tuan memilikinya?”

“Paman hanya tidak sengaja menemukannya.  Karena cantik, maka paman pikir tidak ada salahnya untuk menyimpannya, bukan?”  Dennis tersenyum hangat.  Mengambil foto Joon Ae dan kemudian memberikannya pada Joon Hyun, pria itu segera memasukkan dompetnya pada saku celananya.   “Foto Isabelle sudah menjadi milikmu sekarang, maka jangan menangis lagi.”

“Isabelle?  Siapa Isabelle?”

Oh!  Sial.  Dennis merutuk dalam hati.  “Bukan siapa-siapa.  Hanya nama yang sangat cantik dalam pikiran paman, karena itu paman selalu memanggil wanita cantik dengan nama itu.”  Ralatnya cepat.  “Omong-omong, siapa nama eomma-mu, adik kecil?”

“Oh Joon Ae.”

“Baiklah, maka foto eomma-mu, Oh Joon Ae, sudah menjadi milikmu sekarang.  Jangan menangis lagi, oke?  Paman minta maaf untuk tadi.”

Joon Hyun tidak menjawab.  Perhatiannya lebih tertuju pada lembar foto yang sudah berada dikedua tangannya.  Menatap foto itu lekat-lekat, beberapa pertanyaan beruntun kembali mengalir dari bibir mungilnya.  “Apakah Tuan benar-benar hanya tidak sengaja menemukan foto eomma-ku?  Lalu jika benar, kenapa tadi Tuan berkata bahwa eomma-ku adalah istri Tuan?”

Dennis membuang nafas kasar.  Menatap bocah kecil dihadapannya, pria itu bertanya-tanya tentang siapa orang tua-nya hingga bocah sekecil ini sudah begitu kritis dan bahkan membuatnya kesulitan untuk menjawab?  Bagaimana orang tua-nya mengajar ia hingga secermat ini?

“Kenapa, Tuan?”

“Hhhh—.”  Dennis memutar bola matanya, memikirkan jawaban cepat dan tepat yang sekiranya tidak akan menjadi sebuah pertanyaan lain.  “Itu—.”

 

Kring—kring

 

“Oh, sebentar.”  Bernafas lega, Dennis mengacungkan satu jarinya pada Joon Hyun, sementara tangan bebasnya mengambil benda berdering dari saku jas berwarna putihnya.

Mengerutkan keningnya tidak lama setelah mendekatkan ponsel ke telinganya, kata baiklah keluar dari bibir Dennis bersamaan dengan usainya pembicaraan di telfon.  Kembali menoleh pada Joon Hyun, Dennis memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

“Dengar, adik kecil.”  Katanya menurunkan Joon Hyun perlahan dari wastafel hingga kedua kaki mungil itu kembali berdiri tegak.  “Paman harus segera pergi, ada pasien yang harus segera paman tangani.  Lain kali kita akan mengobrol lagi, oke?”  Mengacak perlahan puncuk kepala Joon Hyun, Dennis menggandeng cepat tangan Joon Hyun dan membawanya keluar.  “Orang tuamu dimana?  Apa kau tahu jalan untuk kembali?  Keluargamu ada yang dirawat disini?  Apa kau tahu ruangannya ada disebelah mana?”  Dennis bertanya terburu.  Namun Joon Hyun, bukannya menjawab—anak itu justru merapatkan katupan bibirnya dan gandengan tangan Dennis dilepasnya segera.  “Kenapa?”  Dennis bertanya, kedua alisnya terangkat bingung.  Bukankah hubungan mereka sudah tidak seburuk sebelumnya?

“Aku tanya, kenapa Tuan berkata bahwa eomma-ku adalah istri Tuan?”

Oh.  Dennis memijit keningnya sendiri.

“Paman akan jelaskan itu lain kali.  Sekarang paman harus segera pergi dan biarkan paman mengantarmu pada orang tuamu.”

“Aku tidak mau bersama Tuan.”  Anak kecil itu merengut, mundur perlahan beberapa langkah dengan kedua tangan yang ia sembunyikan kebelakang.  Pandangan waspadanya yang beberapa menit lalu menghilang, kembali nampak untuk Dennis.

“Baiklah…..”  Dennis mendesah pelan dan melangkah keluar dari toilet tempatnya dan Joon Hyun berada.

Memanggil seorang perawat yang kebetulan lewat untuk mengantarkan  Joon Hyun pada keluarganya, Dennis kembali masuk sekedar untuk menyelesaikan tanggung jawabnya.  Setelah perawat yang ia bawa bersedia mengantar Joon Hyun, bagaimana dan apakah Joon Hyun mau bersama perawat tadi untuk bertemu dengan keluarganya sesuai dengan yang ia harap—Dennis tidak tahu sebab ponselnya kembali berdering dan langkah cepatnya untuk meninggalkan tempat itu harus dilakukan.

 

 

 

***

Kedua alis Kyuhyun hampir menyatu ketika tidak melihat Joon Hyun di ruang rawat eomma-nya.  Hanya ada eomma-nya tentu, appa-nya, noona-nya, dan keponakan cantiknya.

Dimana anaknya?  Pikir Kyuhyun.  Namun tentu, pria itu tidak mengatakannya.

Masuk begitu saja dan duduk pada sofa memanjang dengan latar pemandangan kota sebab jendela besar yang tepat berada dibelakangnya, pria itu bertingkah bagai ia tidak melakukan satu salah apapun.

“Kau. Ikut aku.  Sekarang.”  Pantat Kyuhyun bahkan baru saja menyentuh kulit sofa yang begitu halus ketika Ah Ra menunjuknya dengan tatapan menusuk.  Melirik appa-nya yang bahkan membuang muka, juga eomma-nya yang masih terlelap—sambil menghela nafas panjang Kyuhyun berdiri dan mengekori Ah Ra, tepat dibelakangnya.

“Ada apa?”  Menggaruk pelipisnya malas, pertanyaan macam itu meluncur begitu saja dari bibir Kyuhyun begitu Ah Ra berbalik dan menatapnya berang.

“Kau benar-benar brengsek.  Apa kau tahu itu?”

Kyuhyun menghela panjang, sekali lagi.  Memutar matanya malas, pembicaraannya kali ini dengan Ah Ra nampaknya akan lebih panjang dibanding sebelum-sebelumnya dan Kyuhyun sudah bersiap dengan telinganya yang pasti akan memanas.

 

“Karena Joon Hyun?”

Oh beraninya.  Bagaimana bisa dirinya bertanya dengan begitu santai?  Benar-benar tidak tahu malu.  Kyuhyun tersenyum miris untuk dirinya sendiri, benar-benar menjijikkan.

“Jika kau tidak menginginkan Joon Hyun, maka katakan sekarang.  Aku akan dengan senang hati merawatnya dan menganggapnya anakku sendiri.”

Mata Kyuhyun menyipit.  “Dia anakku, maka dia hanya akan bersamaku, noona.”

“Maka perlakukan dia seperti anakmu, Cho Kyuhyun!  Kau pikir aku membawa Joon Hyun padamu untuk diperlakukan seperti itu?”

“Apa maksudmu membawa Joon Hyun padaku?  Joon Ae meninggal dan Siwon tidak menginginkannya, sudah tentu dia bersamaku.”

Ah Ra tersenyum miris, wanita itu mengeram tertahan namun tentu berusaha ditutupinya.  “Andai kau mengingat yang sebenarnya.”

“Apa yang sebenarnya?  Mengingat apa?”

“Mengingat betapa brengseknya dirimu.  Mengingat bagaimana Joon Ae berjuang untukmu dan anak kalian yang kau perlakukan seperti itu.  Mengingat bagaimana harusnya kau berlaku baik pada Joon Hyun, dan mengingat bahwa Siwon memang tidak salah menilaimu.  Kau tahu, Kyu?  Aku benar-benar malu atas apa yang kau lakukan.  Aku dan appa, juga eomma menyesal telah membantumu.”

“Oh, jangan mulai.  Ini Rumah Sakit.  Kita bicarakan ini di rumah saja.”  Jengahnya, bosan.

“Apa masalahmu sebenarnya?”  Ah Ra memelankan suaranya tanpa mengurangi pandangan berangnya.  Lengan Kyuhyun ditariknya dan karena itu, pria yang hanya terpaut beberapa tahun dibawahnya dan hendak pergi, kembali berbalik.  “Kau tidak seperti ini awalnya pada Joon Hyun.  Ada apa?  Apa yang mengganggumu, Kyu?  Apa yang membuatmu berubah?”

“Dia terlalu mirip dengan Joon Ae dan aku selalu merasa bersalah untuk itu.”

Ah Ra terkekeh pelan.  “Jangan membohongiku.  Kau bisa katakan alasan macam itu pada orang lain, tapi tidak padaku.”

Kyuhyun membuang muka malas.

“Katakan padaku.”  Ah Ra menekan.  “Jelas-jelas dulu kau bahagia karena dia sangat mirip Joon Ae.  Lalu sekarang kau katakan bahwa kau tidak bisa dekat dan memperlakukannya sebagaimana harusnya karena dia terlalu mirip Joon Ae dan kau selalu bersalah tiap melihatnya?  Tidak.  Aku tidak bisa menerima alasanmu.  Katakan padaku yang sebenarnya!”

“Sudah noona!  Hentikan!”  Sungutnya tidak kalah keras.  Menghentak kasar pegangan tangan Ah Ra, pria itu meluruskan tubuhnya hingga benar-benar berhadapan dengan noona-nya.  “Kau tidak tahu apapun.”

“Kau yang tidak tahu apapun!”

“Apakah kita harus bertengkar disini?”

“Lalu dimana?  Kau selalu pergi dan entah kapan bisa bertemu lagi.  Kita selesaikan saja disini jika perlu.”

Kyuhyun mendengus.  “Aku muak pada hidupku.”

“Apa?”

“Aku muak pada hidupku yang brengsek.  Karena itu, kenapa tidak menjadi brengsek seutuhnya saja?  Menuduh Joon Ae tidak-tidak dan membiarkannya melewati semua hal sendiri, aku bahkan tidak sanggup menatap Joon Hyun dengan kenyataan macam itu.  Bagaimana jika dia tahu bahwa aku sangat amat banyak menyakiti Joon Ae sejak awal?  Aku mempermainkan Joon Ae sejak awal, membuatnya kehilangan segalanya, dan bahkan membuangnya setelah semua hal yang dia korbankan untukku.  Aku!”  Kyuhyun memukul dadanya dengan wajah mulai memerah.  “Aku tidak memberikan apapun pada Joon Ae tapi Joon Ae, dia memberikanku segalanya bahkan saat aku tidak meminta itu.”

“Kyu—.”

“Kenapa dia memberikanku Joon Hyun?  Kenapa dia tidak menggugurkannya saja hingga aku makin hancur dan berantakan?  Kenapa dia menghadirkan Joon Hyun hingga aku tidak bisa menghancurkan hidupku?  Kenapa dia begitu mencintaiku tanpa memikirkan dirinya sendiri?  Dia meninggalkan mimpinya untukku, meninggalkan satu-satunya keluarga yang dia miliki, dan bahkan meninggalkan harga dirinya untukku.  Lalu kenapa?  Kenapa aku justru menghancurkannya setelah semua hal yang dia berikan dan lakukan padaku?  Kenapa dia masih mencintaiku hingga menghadirkan Joon Hyun?”

“Kau—apa yang kau bicarakan?”

“Aku ingin dihukum untuk semua kesalahanku.”

“Lalu apa hubungannya itu dengan Joon Hyun?!”

“Jika dia membenciku, maka bebanku akan sedikit berkurang.”

“Kau gila?!”  Ah Ra hampir berteriak.  “Jika kau ingin mengurangi bebanmu!  Perlakukan Joon Hyun dengan baik!  Jika kau ingin menebus rasa bersalahmu!  Sayangi Joon Hyun lebih dari siapapun!  Kau itu bodoh!  Tolol!  Atau apa?!  Dapat darimana kau pikiran gila seperti itu?!”

“Maka,”  Kyuhyun memelankan suaranya.  “Jika aku sudah memperlakukan Joon Hyun sebagaimana harusnya, apakah aku pantas untuk di maafkan?  Jika aku melakukan peranku dengan baik, dan kemudian Joon Hyun mengetahui tentang bagaimana jahatnya aku pada eomma-nya, apakah dia tidak akan semakin terluka?  Bukankah, lebih baik aku melanjutkan sikap brengsekku hingga Joon Hyun tidak lebih terluka?”

“Kyu—.”  Ah Ra menghela nafas panjang dan menarik Kyuhyun untuk duduk pada kursi panjang yang ada di depan kamar rawat eomma-nya.  Meremas pundak adiknya, wanita itu menggeleng dengan tatapan prihatin.  “Aku tidak tahu bagaimana bisa kau memiliki pikiran macam ini.  Tapi kumohon, jangan seperti ini atau kau akan makin menyesal.  Joon Hyun sudah kehilangan eomma-nya, jangan buat dia kehilangan appa-nya juga.  Jika kau ingin menebus rasa bersalahmu, kau harus memperlakukannya dengan baik.  Jangan begini, Kyuhyun-ah..”

“Aku ingin mati, noona.”  Pria itu mendesis.  “Andai tidak ada Joon Hyun, sudah sejak lama aku ingin membunuh diriku sendiri.  Memperlakukan Joon Ae seperti itu, kau tidak tahu bagaimana aku diburu rasa bersalah tiap detiknya.”

“Sekarang begini.”  Ah Ra menarik helai rambutnya kebelakang telinga.  “Jika Joon Ae masih hidup, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan mengemis maafnya tidak peduli apapun.  Menariknya untuk kembali berada di sisiku.  Membangun keluarga yang bahagia bersamanya.  Dan, membuatnya tidak pernah menyesal bersamaku.”

“Lalu dengan apa yang kau lakukan saat ini, memperlakukan Joon Hyun dengan buruk, apa kau pikir Joon Ae mau untuk memaafkanmu?  Apa kau pikir, Joon Ae mau untuk kembali berada di sisimu?  Apa kau pikir, Joon Ae masih percaya untuk membangun keluarga yang bahagia bersamamu?  Apa kau pikir, Joon Ae tidak menyesal?”

“Ini beda ceritanya andai Joon Ae masih hidup.”

“Jadi kau tidak mencintai Joon Hyun?  Kau hanya melihatnya karena Joon Ae?  Akan memperlakukannya baik karena Joon Ae dan akan memperlakukannya buruk karena tidak ada Joon Ae?”

“Tidak.  Bukan begitu.”

Kyuhyun merengut dan meremas rambutnya kuat dengan kedua tangan hingga rasanya ia mampu untuk mencabut seluruh helainya.

“Aku hanya tidak bisa menemukan apa yang aku cari dan inginkan.”

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak tahu.”  Kyuhyun menggeleng dengan pandangan putus asanya.  “Aku hanya tidak tahu tentang apa yang aku inginkan dan rasakan saat ini.  Aku tidak bisa merasakan apapun pada siapapun.  Aku bernafas tapi tidak benar-benar hidup, aku— aku benar-benar tidak tahu.”

“Kau ingin berlibur?  Beristirahat?”

“Entah…”  Jawabnya masih menggeleng.  “Sudah kukatakan aku tidak tahu apa yang aku inginkan dan rasakan.  Berliburpun rasanya akan makin menyedihkan.”

“Aku akan katakan pada appa untuk mengurangi beberapa pekerjaanmu dan kau bisa menghabiskan waktu bersama Joon Hyun, mengisi hatimu, Kyu?”

“Joon Hyun?”

“Ya.”

“Tidak.  Tidak bisa, noona.”

“Apa?  Kenapa?”

“Joon Hyun, entah bagaimana anak itu memiliki appa semenjijikkan aku.”

“Maka dari itu kau harus mengambil peranmu dengan baik.  Jangan perlakukan dia seperti itu, Kyu.  Dengarkan aku kali ini, kumohon….  pergilah berlibur dengan Joon Hyun, perbaiki hubungan kalian dan buang jauh-jauh pikiran anehmu itu.  Kau menyesal karena Joon Ae, maka jangan buat dia makin kecewa dan jangan lakukan hal tolol seperti ini lagi.  Kumohon… dengarkan aku dan lakukanlah ini.  Demi dirimu, demi Joon Hyun, demi orang tua kita, dan demi Joon Ae.  Kau tidak ingin mengecewakannya lagi, bukan?”

 

 

***

2008

Kyuhyun memperhatikan ponsel yang ia geletakkan begitu saja di atas meja dengan raut penasaran.  Melihat benda elektronik itu begitu intens, Kyuhyun bagai seseorang yang tengah mempelajari ilmu untuk menggerakkan suatu benda tanpa disentuh.

“Jangan membuatku takut.”  Changmin muncul dengan dua cangkir kopi yang salah satunya ia berikan pada Kyuhyun.  Duduk disamping sahabat yang seminggu ini sudah bagai hilang kewarasannya, Changmin menggeleng dan mulai menyalakan TV tidak jauh dari hadapannya.

Menyeruput kopinya perlahan, serta mengambil wadah berisi snack—sembari melihat tontonan didepannya, Changmin menyenggol Kyuhyun yang masih duduk dengan punggung membungkuk sebab kepalanya ia ajukan pada ponsel berwarna hitam yang tidak juga bergerak semenjak beberapa jam lalu meskipun sudah menjadi satu-satunya perhatian Kyuhyun.

“Kenapa tidak kau hubungi, atau datang ke rumahnya?”  Pria jangkung itu bertanya dengan mulut penuh snack.  “Dia sedang tidak menghindarimu, bukan?  Jika iya, kau benar-benar kalah taruhan, bung.”

Kyuhyun melirik Changmin.  Baru saja ia berdecak dan akan membalas ucapan sahabatnya, ponsel yang semenjak tadi ia tunggu untuk berbunyi, akhirnya berbunyi.

 

Ping!

 

Antusias, berpikir bahwa itu adalah pesan dari orang yang seminggu ini menghilang tanpa satu kabar apapun—segera saja Kyuhyun mengambilnya.

“Joon Ae?”  Changmin bertanya tidak kalah antusias.  “Apa katanya?”

“Bukan.”  Sesal Kyuhyun hingga kedua bahunya menurun setelah membaca nama yang tertera di layar ponselnya.  “Song Ga Yeon .”  Melempar ponselnya ke arah Changmin tanpa berniat untuk membuka pesan Ga Yeon, Kyuhyun menyandarkan punggungnya yang mulai terasa kaku.

Memejamkan kedua matanya sembari memijit pelipisnya, Kyuhyun berpikir.  Satu minggu lalu, tidak ada hal salah yang dirinya lakukan pada Joon Ae.  Seminggu lalu, Joon Ae bahkan menelfonnya dengan girang sebab oppa-nya, Choi Siwon, sudah datang.  Seminggu lalu pula, dirinya ditemani Changmin menunggu seharian kedatangan Joon Ae dan oppa-nya, namun mereka berdua tidak kunjung tiba hingga Kyuhyun memutuskan untuk pergi ketika restoran yang menjadi tempat mereka seharusnya bertemu hampir tutup.  Sejak saat itu, tidak ada kabar sama sekali mengenai Joon Ae.  Ponselnya tidak aktif, datang ke rumahnyapun, penjaga rumahnya berkata bahwa Joon Ae sedang pergi.  Selalu begitu.  Ada apa sebenarnya?  Kemana perginya gadis itu?

“Hei, Kyu.”  Changmin menepuk pundak Kyuhyun.  “Sebaiknya kau baca pesan dari Ga Yeon.”

 

Kemarin Na Hee memaksaku untuk mengantarkannya ke kelas balet.  Dia bilang ada gadis baru yang cukup terkenal di kelasnya dan menawarkanku untuk berkenalan serta berteman jika ingin karirku cepat naik.  Katanya, gadis ini sedang dalam masa pemulihan cidera dan seminggu ini mulai kembali berlatih sebelum kembali ke Belanda bulan depan.  Saat aku melihatnya, bukankah itu kekasih mainanmu, Kyu?  Bukankah dia Oh Joon Ae?

daf29613c203608b179fe825101e2d74

Katanya sih, yang sedang bersamanya itu adalah kekasihnya sejak di Belanda.  Namanya John Lee.  Tampaknya kau mempermainkan seseorang yang juga mempermainkanmu.  Dan tampaknya, kau harus mengembalikan tiket taruhan kita karena itu adalah milikku.  Kau baru saja kalah taruhan, bung. ^^

 

“Sialan!”  Kyuhyun mengumpat saat membaca pesan juga foto yang Ga Yeon kirimkan padanya.  Menggenggam ponselnya erat, pria itu berdiri dan melangkah cepat, keluar dari kediaman Changmin dengan isi kepala hampir meledak dan kedua telinga memanas.

 

 

 

Dalam pikiran Kyuhyun, mungkin Joon Ae sedang sibuk, mungkin ponselnya hilang, mungkin ada kepentingan yang sangat amat penting hingga tidak sempat menghidupkan ponselnya sekedar untuk memberinya kabar.  Menurutnya, dirinya adalah penting untuk gadis itu yang nyatanya—tidak sama sekali.  Menurutnya, gadis itu sangat mencintainya sebagaimana yang selalu dikatakannya namun nyatanya, tidak.  Tidak sama sekali.

 

 

cd03c9cde2c6464320be3ed5315ec35d

“Oh Joon Ae!”  Kyuhyun berteriak kencang begitu membuka pintu kelas balet dimana Joon Ae berada disana.  Menyisir keseluruhan ruang dimana penuh dengan pria maupun wanita, gadis dengan tampilan mencolok sebab fisiknya yang tidak sama dengan sebagian peserta—ditemukannya dengan mudah.

Mendekat dengan langkah panjang, tampilan Joon Ae yang bahkan hampir bertelanjang—menurut Kyuhyun, ditambah seorang pria yang Ga Yeon katakan sebagai John Lee—kekasih dari kekasihnya, membuat dadanya memaanas.  “Jadi ini yang kau lakukan!”  Bentaknya makin membuat semua orang disana diam dan berbisik satu sama lain.

Joon Ae mengernyit.  Pegangannya dan John Lee terlepas.  Nampak bingung dan belum paham dengan keadaan yang tengah terjadi, atau maksud dari ucapan kencang Kyuhyun, atau bagaimana bisa pria itu menemukannya, gadis itu melihat sekitarnya linglung.  Kelas yang tadinya ramai dengan beberapa ballerina yang tengah berlatih dengan iringan musik, mendadak sunyi-senyap.

“Jadi ini yang kau lakukan?  Menghilang selama seminggu tanpa satu kabar apapun.  Kau mempermainkanku?  Dia kekasihmu?!”  Kyuhyun mendorong kasar pundak Joon Ae hingga gadis itu mundur beberapa langkah.  Menunjuk John Lee yang bahkan tidak tahu apapun dan sama bingungnya seperti Joon Ae, Kyuhyun mendekat pada pria itu sekedar melihat tampilannya dari atas hingga bawah bagai menelanjanginya.  “Jadi pria seperti ini pilihanmu?”

“Apa?  Tunggu dulu, tidak—Kyu dengar.”

“Berhenti membohongiku!”  Kyuhyun menepis kedua tangan Joon Ae yang hendak menyentuhnya.  “Mundur!”  Bentaknya lengkap dengan tangan menunjuk tanpa peduli pada bagaimana kagetnya Joon Ae.  “Aku membencimu.  Jangan katakan apapun dan hubungan kita berakhir!  Kau dengar?!”

“Kyu, dengar dulu.”

“Sudah!  Apa kau tuli?!  Bukankah sudah kubilang jangan katakan apapun lagi!”

“Sorry—.”

“Apa kau!”  Kyuhyun mendorong John Lee saat pria itu akan menengahi.  Menatap pria berambut pirang itu benci, Kyuhyun menajamkan pandangannya dan menunjuk John Lee lurus.  “Asal kau tahu, kekasihmu ini sudah bersamaku selama hampir setengah tahun ini.  Apa kau tahu apa yang sudah kami lakukan?  Aku adalah yang pertama untuk semua hal tentang tubuhnya.”

“Cho Kyuhyun stop!”  Joon Ae menjerit dengan kedua mata melotot.  Tidak percaya atas apa yang baru saja Kyuhyun katakan.  Menarik lengan Kyuhyun untuk kembali berpandangan dengannya, gadis itu meringis.  “What are you talking about?  Tidak seharusnya kau bicara seperti itu ditempat seperti ini.”

Kyuhyun tergelak.  “Kenapa?  Kau malu?”

“Kau tidak mau mendengar penjelasanku tentang ini?”

“Tidak.”  Pria itu menjawab cepat.  “Untukmu.”  Kyuhyun menoleh sekali lagi pada John Lee.  “Selamat menikmati bekasku.”

“Bekas?  Barang?!”  Tanya Joon Ae meninggi.  “Kau melihatku serendah itu sekarang?”

Kyuhyun tersenyum tipis mendengar ucapan Joon Ae bersama dengan kedua mata gadis itu yang berair.  “Ya, kau tidak lebih dari sebuah rongsokan untukku.”  Tolehnya dengan pandangan sinis dan berbalik, melangkah pergi begitu saja tanpa peduli atau bertanggung jawab untuk kekacauan besar yang sudah dilakukannya hanya dalam hitungan menit.

 

Joon Ae tergelak nyinyir pada dirinya sendiri.  Melihat punggung Kyuhyun yang makin menjauh, gadis itu menghapus air matanya yang mulai menetes.

“Is—.”

I’m fine.”  Joon Ae menjawab segera.  Menggeser sedikit tubuhnya saat John Lee hendak menyentuh pundaknya, gadis itu tidak melepas sedikitpun pandangannya pada pintu dimana Kyuhyun baru saja menghilang.  “I should go. ”  Ucapnya terburu.  Mengambil segera duffel bag berwarna coklatnya, Joon Ae bahkan hanya mengenakan coat sepanjang lututnya untuk keluar dan menutup tampilannya tanpa sempat untuk mengganti pakaian atau memperbaiki tampilannya.

 

 

 

***

 “Kau terlalu berlebihan, Kyu.”  Changmin bersuara.  Kedua tangannya yang berada pada stir nampak sudah profesional hingga ketika pandangannya teralihkan untuk Kyuhyun—itu nampak bukan masalah.  “Ini bukan pertama kalinya kau melihat seorang ballerina melakukan sebuah tarian berpasangan dan kau tahu benar bahwa hal yang mereka lakukan adalah wajar, bahkan pakaian seperti yang Joon Ae kenakanpun wajar untuk seorang ballerina.  Lagipula Joon Ae yang seorang ballerina juga sudah kau ketahui sejak awal.  Lalu kenapa kau harus semarah itu?  Hubungannya dengan pria itu, bukankah lebih baik jika kau menanyakannya dulu dengan baik-baik?  Jangan langsung marah begitu.”

“Diam.”  Ketusnya.  “Lagipula kau tahu aku memang harus mengakhiri hubunganku dengan wanita itu.  Dia hanya sebuah taruhan.”

“Aku tidak berpikir seperti itu.”  Changmin mengangkat kedua bahunya dengan mata melirik Kyuhyun.  “Kupikir, kau mencintainya.”

“Hah!  Tidak.”  Kyuhyun tergelak meski nampak dipaksakan.

“Seminggu ini kau bagai orang gila karena tidak bisa berhubungan dengannya.  Kau juga tampak begitu marah saat melihat Joon Ae dengan pria lain.”

“Kubilang tidak, ya tidak!”  Kyuhyun menoleh dengan bentakan kencang.

Changmin membuang nafas kasar.  “Ya, baiklah, kau tidak mencintainya.  Lagipula memang tidak apa juga jika memang begitu.  Setidaknya, dengan hubunganmu dan Joon Ae yang sudah berakhir… aku tidak akan di kejar rasa takut lagi karena oppa-nya.  Beruntungnya pria itu belum tahu jika kau mempermainkan adiknya, jika dia tahu—kau sudah dimakannya hidup-hidup.  Oh dan, beruntungnya lagi yang membuat kalian berpisah adalah Joon Ae, bukan dirimu.  Tapi kupikir, Joon Ae benar-benar mencintaimu.  Ternyata tidak.  Tentang ucapanmu tadi, memangnya apa saja yang sudah kau lakukan bersama Joon Ae?  Kupikir dia sulit untuk disentuh.”

“Bisakah kau diam?”  Kyuhyun melempar pandangan kesalnya.  Melirik Changmin melalui sudut matanya, pria itu benar-benar risih untuk semua hal yang baru saja Changmin katakan.  Sumpah, dirinya tidak ingin mendengar apapun tentang  Joon Ae untuk saat ini.

Maka setelah ucapan Kyuhyun itu, tidak ada percakapan lagi di antara mereka.  Changmin berfokus pada jalanan dihadapannya, sementara Kyuhyun mencoba memejamkan mata dengan ingatan mengenai Joon Ae yang ia pikir mencintainya namun ternyata tidak.  Gadis sialan.  Umpatnya berkali-kali hingga mobil yang membawanya terhenti didepan pintu rumah Changmin.

“Keluar!”  Joon Ae yang entah bagaimana mengikuti mobil mereka langsung berteriak, bahkan menggedor kaca mobil Changmin begitu kendaraan yang ia ikuti menggunakan taxi itu berhenti dan membuat dua pria didalamnya terkejut.  “Cho Kyuhyun keluar!”  Bentaknya berkali-kali tanpa peduli.

Mendecak, Kyuhyun bahkan sudah membuang muka malas.  “Urus dia.”  Katanya tidak peduli dan membuka pintu mobil keras hingga Joon Ae yang berada tepat didepannya hampir terjatuh karena itu.

Tanpa peduli atau bahkan sekedar melirik Joon Ae, Kyuhyun langsung masuk begitu saja ke dalam rumah Changmin.

“Kau baik-baik saja?”  Changmin bertanya saat wajah Joon Ae memucat sementara pandangannya jelas tertuju untuk Kyuhyun.

Ketika itu, Changmin yakin pastilah Joon Ae belum pernah mendapatkan perlakuan setidak menyenangakn ini sebelumnya hingga wajahnya langsung pucat dan kedua matanya langsung berair.  Lagipula jika dipikirkan, siapa pula yang berani memperlakukan gadis didepannya ini buruk?  Oppa-nya bahkan lebih menakutkan dibanding monster jika menyangkut adiknya.

“Jangan ikut masuk.  Aku memperingatkanmu.”  Kata Joon Ae saat Changmin masih sibuk dengan pikirannya.  Melemparkan tasnya pada Changmin, gadis itu bagai sudah siap bertempur ketika menyusul langkah Kyuhyun memasuki rumah Changmin.

 “Oh.  Benar-benar.”  Pria jangkung yang sebenarnya adalah pemilik rumah dimana sepasang lawan jenis berada itu sudah menggaruk kepalanya frustasi.  Akan jadi seperti apa nantinya rumahku?

 

 

 

***

“Kyu!  Berhenti!”  Joon Ae membentak ketika sosok Kyuhyun yang tengah menaiki anak tangga rumah Changmin sampai dalam pandangan matanya.  “Cho Kyuhyun!”  Bentaknya lagi saat Kyuhyun tidak juga menghentikan langkah kaki lebarnya dan Joon Ae ikut melebarkan langkah kakinya menyusul Kyuhyun.  “Kau salah paham!”  Ucapnya saat berhasil menggapai pergelangan tangan pria itu.  Berusaha membalik tubuh Kyuhyun yang masih memunggunginya, cengkraman tangan Kyuhyun pada pergelangannya justru membuat ia tersungkur di lantai kemudian.

“Apa maumu!”  Kyuhyun balas membentak, mengabaikan pandangan terluka Joon Ae padanya.  “Sudah kubilang hubungan kita berakhir!”

“Aku tidak mau!”  Ucapnya sengit dan langsung berdiri.  Menghapus air matanya, Joon Ae kembali melangkah untuk mendahului Kyuhyun dan merentangkan kedua tangannya, berharap bahwa itu akan berhasil untuk menghadang langkah Kyuhyun.  “Aku mencintaimu.  Aku dan John hanya—.”

“Pembohong!”  Kyuhyun memaki, lengkap dengan kedua tangannya yang mendorong tubuh Joon Ae hingga terantuk tembok.  “Jangan katakan apapun lagi!  Aku membencimu!”

“Dengar dulu Kyu…”  Joon Ae mengiba, menyentuh tangan pria yang dicintainya namun disambut oleh sebuah tepisan keras.

“Kau bilang mencintaiku tapi seminggu ini menghilang!  Kau bilang mencintaiku tapi bersama pria lain!  dan akan kembali ke Belanda?  Sialan kau Oh Joon Ae!”

“Tidak.  Bukan begitu.”  Joon Ae kembali mengejar Kyuhyun saat pria itu kembali melangkahkan kakinya.  Mengekori Kyuhyun tepat dibelakangnya, berapa kalipun Joon Ae berusaha untuk menghentikannya—Kyuhyun selalu mendorong dan menghentikannya.  “Dengar dulu Kyu.”

“Sudah pergi sana!  Aku tidak mau bertemu denganmu!”

“Aku dan John hanya berteman.” Joon Ae menjelaskan.  Kembali menggapai tangan Kyuhyun saat selangkah lagi mencapai kamar Changmin, kali ini ia memegangnya dengan erat tanpa bisa Kyuhyun hempaskan dengan mudah.  “Kumohon…”  Joon Ae memelas.  “Dengar dulu.”

“Apa yang mau didengarkan?!”

“Kami tidak seperti yang kau pikir.  Kami memang pernah menjadi kekasih, tapi itu tidak lebih dari urusan panggung dan itu sudah sangat lama, sebelum aku bertemu denganmu.  Pelatih kami menyarankan kami untuk menjadi kekasih agar bisa membuat suasana panggung lebih hidup dan nyata.  Tapi saat kami menjalaninya kami justru makin canggung dan kami sadar bahwa kami hanya cocok dan nyaman menjadi seorang sahabat.  Sungguh demi Siwon oppa, aku tidak mempermainkan dan membohongimu.  Kumohon percayalah, Kyu.  Aku benar-benar mencintaimu.  Tidak ada yang lain.  Sungguh.  Dia kemari karena sedang libur dan karena tahu bahwa cideraku sudah sembuh dan aku butuh latihan, karena itu dia kemari dan kami mulai berlatih bersama.  Kumohon percayalah…. aku sangat mencintaimu dan tidak mau berpisah denganmu.”

Kyuhyun mendengus tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari Joon Ae.  Deru nafas kasarnya terdengar jelas begitu Joon Ae menghentikan ucapannya dan entah itu akibat terlalu emosi, berjalan cepat dan lebar sejak keluar dari mobil tadi, atau karena berdebat dengan Joon Ae.

Namun, ketika Joon Ae masih mengatur nafas tersengalnya dengan pandangan memohon yang masih nampak jelas, kedua tangan Kyuhyun yang berada dalam genggaman Joon Ae justru berbalik.

Kyuhyun membalik genggaman Joon Ae hingga ialah yang menggenggam kedua tangan gadis itu.  Menarik kasar Joon Ae hingga tubuh gadis itu terantuk pada tubuhnya, menangkup wajah Joon Ae dengan kedua tangannya erat, pria itu mengarahkan bibirnya pada bibir Joon Ae dan mulai meraupnya kasar tanpa peduli bahwa Joon Ae sedang kehabisan nafas sebab mengejar dan menjelaskan panjang lebar padanya tentang kesalah pahaman yang sedang terjadi di antara mereka.

“Kyump—hh—.”  Joon Ae menggeliat gelisah saat dirinya benar-benar kehabisan nafas dan tidak suka dengan bagaimana cara Kyuhyun memperlakukannya.  Berusaha menjauhkan diri dari Kyuhyun dan memukul beberapa kali dada pria itu…. dorongan kerasnya pada akhirnya berhasil.  “Aku tidak bisa bernafas!”  Teriaknya dan menjauhkan diri dari Kyuhyun.

Menghirup udara sebanyak-banyaknya, Joon Ae menatap Kyuhyun waspada seolah ia masih tidak ingin berdekatan dengan pria itu. “Kau—hh.. ingin membunuhku?”

“Kau pikir begitu?”  Kyuhyun bertanya tanpa sedikitpun rasa bersalah untuk apa yang sebelumnya ia lakukan.  Mendekat pada Joon Ae dengan wajah seriusnya, pria itu menggenggam sekali lagi pergelangan tangan Joon Ae yang mencoba menghentikan langkahnya untuk semakin mendekat.  “Kau mencintaiku?”  Tanyanya.

Joon Ae merengut dengan pandangan penuh selidik pada Kyuhyun yang menatapnya tajam seolah hendak menelannya bulat-bulat.  “Apa yang kau inginkan?” 

Gadis itu mencoba mundur dengan tangan yang berusaha ia lepaskan dari genggaman Kyuhyun.

“Kau.”

“Jangan macam-macam.”  Joon Ae memperingatkan.  Hatinya mulai khawatir dan tangannya menunjuk Kyuhyun dengan gemetar.  “Jangan.  Macam.  Macam.  Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun menggeleng tanpa satupun kalimat atas pernyataan penuh penekanan Joon Ae.  Pria itu memperhatikan Joon Ae makin dekat.  Menelusuri keseluruhan wajah Joon Ae yang entah bagaimana baru ia sadari dan benar-benar diperhatikannya baru kali ini.  Kyuhyun bahkan mulai merengut saking seriusnya menatap Joon Ae.  Alis tebal dan rapi gadis itu, hidung kecil dan runcingnya yang sempurna serta tidak berlebih, bibir kecil dan menawannya yang baru dua kali disentuhnya, serta titik hitam pada tulang pipi di sebelah kanannya.  Bagaimana bisa dirinya baru memperhatikan ini?

“Kau—.”  Kyuhyun berucap dengan sebelah tangan menyisir rambut halus Joon Ae yang lepas dari ikatannya.  “Baik-baik saja?”

“Apa?”  Joon Ae melongo.

“Maafkan aku.”

Dan siapa yang tidak meleleh jika kekasihnya meminta maaf dengan sangat lembut seperti yang saat ini Kyuhyun lakukan?

Joon Ae pikir, Kyuhyun akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak padanya.  Joon Ae pikir, Kyuhyun akan melanjutkan sikap kekanakan dan egoisnya.  Nyatanya, pria itu meminta maaf padanya dengan pandangan tulus seperti yang selalu Siwon oppa-nya tunjukkan ketika terlambat atau membatalkan janjinya tiba-tiba.

“Kau, meminta maaf?”

“Ya.”  Kyuhyun mengangguk.  Menatap manik mata Joon Ae dalam hingga Joon Ae ikut terpaku padanya.  Mendekat wajahnya perlahan, Kyuhyun mulai menutup matanya saat bibirnya dan bibir Joon Ae kembali bersentuhan.

Jangan berpikir lebih, pria itu hanya mengecupnya tidak lebih dari 3 detik.

“Aku benar-benar menyesal.  Maafkan aku.”

Joon Ae tersenyum lega sembari mengangguk.  “Aku tahu aku tidak pernah salah mencintaimu.  Kau adalah pria terbaik selain oppa-ku.”

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?”  Kyuhyun mulai menanyakan tentang hilangnya Joon Ae selama seminggu ini.  Tangannya yang tadi menyisir helai rambut Joon Ae, tetap berlanjut seolah itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihentikannya.

“Kupikir kita harus membicarakan ini sambil duduk.”

Joon Ae mengambil tangan Kyuhyun yang masih memainkan rambutnya.

Menatap Joon Ae sesaat seolah terkejut, pria itu akhirnya mengangguk.  “Ya.  Di kamar Changmin saja.”  Katanya dan langsung menarik Joon Ae tanpa menunggu tanggapan gadis itu.  “Jadi?”

Kyuhyun langsung bertanya begitu mereka saling berhadapan dengan ranjang Changmin yang dijadikan sebagai tempat untuk duduk.  “Ada apa dengan pertemuan seminggu lalu?”

Oppa berkata padaku bahwa kau mempermainkanku dan hanya menjadikanku taruhan?”

“Apa?”

“Saat kami datang kau sudah datang lebih dulu bersama Changmin.  Tapi ketika itu aku harus ke toilet, makanya aku meminta Siwon oppa untuk menemuimu lebih dulu.  Tapi saat aku keluar dari toilet, ternyata Siwon oppa sudah menungguku didepan pintu toilet wanita.  Aku pikir Siwon oppa ingin menemuimu bersama-sama dan karena itu menungguku, tapi Siwon oppa langsung menarikku dan membawaku ke dalam mobil.  Siwon oppa terus berkata bahwa kau mempermainkanku dan menjadikanku taruhan.  Ponselku oppa sita dan mempercepat kepulanganku ke Belanda saat dokter pribadi kami berkata bahwa cidera di kakiku sudah sembuh.”

Joon Ae terus menjelaskannya dengan rinci seolah tidak ingin ada kesalahapahaman lagi antara dirinya dan Kyuhyun.  Sementara Kyuhyun, pria itu hanya mampu mematung dengan degup jantung cepat dan perasaan was-was.

 

 

***

2016

img_123691268563052

Dennis keluar dari kamar mandi ruang kerjanya sembari menggosok rambut basahnya menggunakan handuk kecil berwarna kuning, dan handuk warna putih dengan ukuran lebih besar lainnya yang melilit sempurna pada pinggangnya.  Menatap sosok istrinya yang mungkin baru saja tiba jika dilihat dari bagaimana wanita itu masih menata bekal makan siangnya di atas meja, Dennis tersenyum dan mendekat.

“Apa yang hari ini kau bawa?”  Tanyanya dengan kedua tangan merangkul Joon Ae hingga kesibukan istrinya menata makan siangnya terhenti.  “Beri aku satu ciuman.”  Bisiknya dengan hidung yang sengaja ia usapkan pada sekitar wajah Joon Ae persis anjing mengendus tuan-nya saat pulang bekerja.

“Oh.  Hentikan.”  Joon Ae tersenyum geli dan melepas rangkulan tangan Dennis.  Melirik pria disampingnya yang tengah tersenyum, wanita itu ikut menarik kedua ujung bibirnya. “Sudah, hentikan.”  Joon Ae memukul paha suaminya saat pria itu akan mendekatkan wajahnya.

Memberikan pelototan mata dengan senyum yang masih terkembang, Dennis hanya mampu menahan tawanya melihat ekspresi lucu yang istrinya buat.  Mengambil potongan apel yang Joon Ae bawa, Dennis mengunyahnya dengan pandangan dan senyum lucu yang masih tertuju untuk Joon Ae.

“Jangan melihatku seperti itu.”  Ucap Joon Ae dengan senyum cerahnya tanpa menatap Dennis yang seperti akan mati jika mengalihkan sedikit saja pandangannya dari ia.  “Cepat makan.  Aku tidak mau kau kelaparan seperti kemarin.”

Mengambil satu potong sandwich dari salah satu kotak makan yang dibawanya, menyerahkannya pada Dennis, wanita itu kemudian mengambil garpu dan menusukkannya pada potongan wortel sepanjang telunjuk.  “Ayo cepat makan.  Kenapa diam saja?  Waktu istirahatmu hanya satu jam, bukan?  Kau ada jadwal operasi lagi setelah itu.  Ayo, cepatlah habiskan ini semua.”  Kata Joon Ae merujuk pada semua bekal makan siang yang hari ini dibawanya.  Menyuapi Dennis dengan potongan wortel sebab ia tidak sabar saat suaminya itu bahkan tidak bergerak sedikitpun sekedar untuk menggigit sandwich di tangannya, potongan wortel tadi langsung Joon Ae suapkan paksa.

“Hentikan.”  Pria itu berucap sambil mengunyah wortel yang baru saja Joon Ae suapkan padanya.  Menggunakan sebelah tangan kosongnya untuk memegang pergelangan tangan Joon Ae agar wanita itu tidak lagi menyuapinya, sebelah tangannya yang memegang sandwich ia ulurkan untuk meletakkan makanan itu pada kotaknya semula.

“Apa yang kau lakukan?  Kau harus makan, Den.”

“Aku masih kenyang… kau tidak tahu operasi macam apa yang tadi aku lakukan.  Sebanyak dan sesering apapun aku melakukannya, aku masih tidak bisa untuk makan saat ini.”

“Lalu?”  Joon Ae melongo dengan kedua tangan terbuka.  “Kau tidak mau makan sampai malam nanti?  Bukankah operasi yang akan kau lakukan sebentar lagi memakan waktu panjang?”

“Oh!”  Dennis memberengut.  “Bagaimana bisa kau mengingat semua jadwal operasiku, hm?”

Joon Ae tersenyum geli ketika Dennis mencubit ujung hidungnya dan mulai memakan sandwich yang dibawanya perlahan.

“Karena aku istrimu.”

Dennis hanya mampu mencibir senang ucapan Joon Ae tanpa mengatakan apapun selagi mulutnya mulai mengunyah satu persatu bekal yang Joon Ae bawakan untuknya seperti biasa.  Memakan satu persatu dan menghabiskannya seperti yang Joon Ae inginkan, tidak inginpun jika istrinya yang meminta apalagi istrinya yang membuat bekalnya, rasanya sangat tidak pantas untuk ia menolak.  Maka tentu saja, Dennis mulai menghabiskan satu persatu hidangan yang ada dihadapannya.

“Aku tidak sangka bahwa kau akan benar-benar membeli dan membawa masuk sebuah ranjang kemari.”  Ucap Joon Ae menunjuk ranjang kecil tidak jauh dari meja kerja suaminya.  “Apakah boleh membawa ranjang kedalam ruang kerja?”

“Jika kau adalah keluarga Choi  Siwon, tidak ada yang tidak mungkin.”

Joon Ae tergelak seketika itu juga hingga deret gigi rapinya nampak.  Melirik suaminya yang masih sibuk dengan makanan dihadapannya, wanita itu bangkit dan mendekat pada ranjang yang baru hari ini dilihatnya.

“Kupikir kau hanya bercanda saat berkata ingin membeli sebuah ranjang dan menempatkannya di dalam ruang kerjamu.  Ternyata kau serius.”

“Kenapa bercanda?”

“Kau akan jarang pulang jika seperti ini.”

“Apa?”  Dennis menghentikan kunyahannya.  Menoleh pada istrinya yang sudah duduk di atas ranjangnya, pria itu menaikkan sebelah alisnya.

“Kau akan tidur disini dan tidak pulang.”

“Oh.  Yang benar saja?”  Dennis mengelak.  “Mana mungkin aku membiarkanmu berada di rumah sendirian?  Selarut apapun, aku pasti akan pulang.  Sepenuh apapun jadwalku, aku akan tidur di rumah.  Itu janjiku saat akan menikahimu, kau lupa?  Apa selama ini aku pernah tidur di tempat lain kecuali saat ada tugas ke luar kota?”

“Lalu kenapa membeli ranjang?”  Joon Ae merengut, mengusap sprei putih bersih yang sekali sentuh diketahuinya bahwa itu adalah baru.  “Bukankah itu artinya kau akan tidur disini?”

Mendapati pandangan memelas Joon Ae, Dennis terkekeh geli.  “Jadi itu yang kau pikirkan?”  Pria itu bertanya dengan langkah menghampiri Joon Ae dan ikut duduk pada ranjang yang hanya untuk ditiduri satu orang saja itu.

“Lalu?  Hanya untuk tidur siang?”

“Tidak.”  Dennis menggeleng masih dengan senyum mengembang yang tidak juga hilang.

“Untuk beristirahat sebentar?”

“Tidak juga.”

“Lalu?”  Joon Ae mulai mengerutkan keningnya kembali.  “Jika bukan untuk tidur siang atau istirahat sebentar, dan bukan untuk bermalam, lalu untuk apa?”

“Untukmu.”

“Aku?”

“Sambil menungguku kau bisa tidur disini, saat kau kesepian di rumah dan ingin kemari kau bisa tidur disini, dan yang terpenting… kita bisa melakukan sesuatu yang berharga.”

“Se—su—a—tu—yang—ber—har—ga?”

Dennis tertawa lucu dengan sebelah alisnya yang terangkat dan Joon Ae meringis dengan pandangan horror pada suaminya sendiri.  “Oh.  Kau—.”

“Kenapa?”  Dennis bertanya dengan wajah berbinar.  “Kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.”

“Dasar gila.”  Maki Joon Ae pelan dengan ujung bibir yang tertarik sementara pandangannya jelas terpaku pada suaminya yang masih tertawa.

“Tadi aku bertemu seorang anak kecil.”

“Lalu?”

“Bayangkan.”  Dennis meletakkan sebelah tangannya pada perut Joon Ae dan mengusapnya pelan.  “Bayangkan jika kau hamil dan kita memiliki anak.  Jika perempuan, dia akan mirip denganku.  Jika laki-laki, dia akan mirip denganmu.”

“Aku ingin memiliki 3 anak.”  Joon Ae langsung mengatakannya dengan 3 jari yang terangkat kehadapan Dennis.  “Anak perempuan pertama mirip denganmu, anak laki-laki pertama mirip denganku, dan yang selanjutnya entah perempuan atau laki-laki memiliki setengah bagian dari kita.”

“Itu yang kau inginkan?”  Tanya Dennis.  Merangkul pinggang istrinya dan menariknya makin dekat.  “Tampaknya kita harus bekerja keras karena 2 tahun ini kita belum menghasilkan satupun.”  Candanya.  “Kenapa 3?”

“Karena aku suka angka ganjil.”

“Bagaimana jika 5?”

“Asal kau yang melahirkan 2 dari 5 anak itu.”

Terkekeh pelan, Dennis mendekatkan wajahnya pada Joon Ae, menyesap bibir lembut istrinya yang juga mulai membalas ciumannya dan sebelah tangannya ikut bergerak perlahan menuju dada istrinya yang ia rasa makin bertambah volumenya kian hari.

“Ouch…..”  Joon Ae melenguh hingga meremas lengan Dennis ketika pria itu sedikit menekan ujung dadanya.

“Hei, kau mudah terangsang ya sekarang?  Aku bahkan belum lakukan apapun.”

“Oh diamlah.”  Joon Ae menggeleng tidak peduli.  Mengalungkan tangannya pada leher Dennis, wanita itu bahkan mendudukkan dirinya pada pangkuan suaminya tanpa permisi dan menggesekkan miliknya pada milik Dennis yang hanya tertutupi oleh handuk dengan lihainya bagai ia biasa dengan semua itu.

Dennis hanya mengernyit nikmat sambil menahan keherannya dalam diam.  Ia ikuti apa yang Joon Ae inginkan dan lakukan.  Begitupun ketika Joon Ae melepaskan handuk yang menjadi satu-satunya benda ditubuhnya.  “Kau ingin memulainya lebih dulu?”

Joon Ae tersenyum dihadapan Dennis.  Menyentuh otot perut Dennis yang terbentuk, tangan Joon Ae berhenti saat sampai pada tattoo yang ada pada bagian bawa pusar suaminya.

“Kenapa?”  Dennis memperhatikan tangan istrinya yang terhenti saat sedikit lagi menyentuh pusat tubuhnya.

“Berapa kalipun aku melihatnya, aku tidak tahu bentuk tattoo macam apa yang kau miliki ini.”  Joon Ae turun dari ranjang tempatnya berada.  Duduk pada lantai ruang kerja Dennis, tepat dibawah kaki suaminya, wanita itu menyentuh salah satu tattoo ditubuh suaminya itu serius.  “Awalnya kupikir ini kabel, lalu ubur-ubur.”

“Ubur-ubur?”  Dennis hampir tidak bisa menahan tawa kencangnya saat Joon Ae mengatakan itu.  “Bagaimana bisa ini ubur-ubur?”

“Lalu?”

“Sebuah pedang dalam manga.”

“A~.”  Joon Ae mengangguk dengan mulut menganga.  “Tapi, apakah boleh seorang dokter memiliki tattoo?”

Dennis tersenyum lebar.  Menarik Joon Ae agar kembali duduk berhadapan dengannya, pria itu mengecup singkat bibir istrinya dan kemudian berbisik.  “Jika kau adalah keluarga Choi Siwon—.”

“Maka tidak ada yang tidak mungkin.”  Joon Ae melanjutkan kalimat suaminya dan tawa kencang keduanya memenuhi sudut ruang kerja itu.

 

 

***

Duduk seorang diri pada ranjang kecil putranya, menyisir tiap hal dalam kamar Joon Hyun yang terakhir di masukinya beberapa minggu lalu dan terakhir diperhatikannya setiap hal didalamnya entah kapan, Kyuhyun membuang nafas panjang.

Beberapa garis halus memanjang nampak pada keningnya.  Pria itu menunjukkan raut seriusnya ketika pandangannya sampai pada foto Joon Ae yang berada pada meja belajar Joon Hyun.  Mendekat, Kyuhyun mengambil salah satu dari 3 foto Joon Ae yang berada pada meja putranya.

14487371_621896627990604_4650321078910976000_n

Tersenyum, Kyuhyun mengusap pelan foto Joon Ae.  “Aku bahkan sudah mulai melupakan wajahmu andai tidak melihat fotomu, Joon Ae-ya.  Apa kau bisa melihatku dari sana?  Jika iya, maaf karena aku tetap menjadi seorang yang mengecewakanmu hingga saat ini.  Jika kau bisa melihatku, kau juga pasti bisa melihat putra kita, Joon Hyun, bukan?  Dia memiliki wajah yang mirip denganmu, sangat.  Seolah dia hanyalah anakmu dan bukan anakku.  Apa kau tahu apa yang saat ini terjadi?  Aku menyia-nyiakan putra kita seperti aku menyia-nyiakanmu dulu.  Kenapa kau mencintaiku?  Kenapa kau lebih memilihku?  Seandainya kita tidak pernah bertemu dan seandainya kita tidak pernah bersama, Joon Ae-ya.  Seandainya, ya… seandainya kita tidak pernah berhubungan maka kau akan memiliki kehidupan yang sempurna dan jauh dari kata menyedihkan.  Mungkin sekarang kau bahkan sangat bahagia karena memiliki suami yang sesuai dengan pilihan oppa-mu, dan kalian memiliki keluarga yang bahagia dengan anak-anak yang lucu.  Maafkan aku, maaf karena aku datang dalam kehidupan indahmu dan merusaknya.”

Kyuhyun tersenyum kecut menatap foto Joon Ae.  Mengingat foto itu, mengingat betapa muda dan polosnya Joon Ae saat itu.  Mempercayainya untuk segala ucapan entah jujur atau bohong.  Mengikutinya kemanapun bagai dirinya sangatlah berharga.  “Sekarang aku tahu bagaimana perasaan oppa-mu saat itu.  Oppa-mu benar, kau terlalu bodoh hingga percaya padaku.  Kau bahkan masih sangat muda ketika aku melakukan hal yang tidak sepantasnya padamu.  Maafkan aku.  Aku benar-benar sangat menyesal untuk kita.  Andai aku bisa memutar waktu, aku tidak akan pernah mendekatimu hanya untuk sebuah pertaruhan konyol.  Aku tidak akan merusak gadis semuda, sebaik, dan semengagumkan dirimu.  Maaf—.”

 

 

“Ini gila!”  Suara kencang Ah Ra yang tiba-tiba terdengar dari arah ruang tamu, menghentikan segala ucapan menyesal Kyuhyun pada Joon Ae.

“Diamlah!  Jangan sampai ada yang dengar!  Bawa Joon Hyun ke kamarnya!  Pastikan anak itu tetap tidur!”

Kyuhyun merengut dengan kepala menoleh pada pintu kamar putranya yang terbuka sedikit dimana pembicaraan antara appa-nya dan noona-nya terdengar dari sana.

Jangan sampai ada yang dengar?  Apa maksudnya?  Kenapa pula noona-nya marah?  Apakah tentangku?  Tanya Kyuhyun dalam hati.  Masih juga dirinya kebingungan dengan ucapan appa dan noona-nya,  langkah kaki terburu Ah Ra yang bisa didengarnya dan makin terdengar mendekat entah bagaimana membuat Kyuhyun langsung bersembuyi dibawah celah ranjang Joon Hyun.  Berbaring tepat dibawah ranjang putranya, kaki panjangnya yang melewati sudut ranjang Joon Hyun, Kyuhyun lipat.  Dalam hati, pria itu berucap semoga noona-nya tidak sadar bahwa ia bersembunyi dibawah celah ranjang anaknya.  Bukan hanya kebingungan untuk menjawab pertanyaan tentang kenapa dirinya bersembunyi, hal tentang jangan sampai ada yang dengar membuatnya penasaran dan dirinya harus tetap bersembunyi jika ingin mengetahui tentang hal itu.

Langkah kaki Ah Ra makin terdengar jelas dan tidak lama kemudian pintu kamar putranya terbuka.  Masih nampak terburu, Ah Ra yang menggendong Joon Hyun segera meletakkan bocah kecil itu ke atas ranjangnya dan bergegas pergi begitu menyelimuti tubuh Joon Hyun.

“Ada apa?”  Pikir Kyuhyun saat kembali mendengar suara kencang appa-nya.

Kyuhyun makin mengerutkan keningnya.  Selama dirinya tinggal disini, sejak dirinyakecil hingga sedewasa ini, tidak pernah sama sekali noona-nya atau appa-nya berbicara dengan penuh emosi tidak terkendali seperti malam ini.  Maka dengan perlahan, sebab mendengar namanya yang disebut-sebut, Kyuhyun merangkak perlahan keluar dari bagian bawah ranjang anaknya untuk mendengar lebih jauh tentang apa yang mereka berdua bicarakan sebenarnya.

“Eomma, hiks—hiks— eomma,”

“Eomma?”  Kyuhyun menoleh dan segera keluar dari bagian bawah ranjang anaknya.  “Joon Hyun-ah?  Kau belum tidur?”  Tanya Kyuhyun terkejut.

“Appa….”

“Eo, wae?  Kau kenapa huh?”

Oh.  Kyuhyun merasa jantungnya hampir copot kali ini karena tangisan Joon Hyun.  Menghidupkan lampu kamar putranya, wajah memerah dan mata bengkak anak itu yang baru kali ini dilihatnya—makin menambah beban dan rasa bersalahnya seketika itu juga.  “Kau… kenapa matamu sampai bengkak begini?”

Appa—.”  Anak itu meraih tangan Kyuhyun dan menggenggamnya erat masih dengan tangis sesenggukan yang rasanya begitu sesak.

“Kau kenapa?  Ada apa denganmu?  Katakan pada appa.  Seseorang menyakitimu?”

Oh Kyu, kau adalah orang pertama dalam daftar siapa yang menyakiti Joon Hyun.

Eomma, eomma belum meninggal.  Eomma masih hidup.  Mereka menyembunyikan eomma.”

Advertisements

68 Comments Add yours

  1. may says:

    Oh..emg kyu Dr dl udh br*ngs*k , wajar Siwon ga stuju sm hub mreka. Skrg br nyesel stlh khlngan Joon ae. Tp Joon ae udh nkh lg n bahagia sm Dennis. Duh.. ff ni sll kutunggu smgat trs yah ….. Fighting 😃

    Like

    1. Mrs. Bi_bi says:

      Makasih loh udah ditunggu😚

      Like

  2. hanacho says:

    Aah mKin penasarn kno jon ae lp sama kehidupan sblmnya,,sma anaknya jg….
    Ah makin penasran deh

    Like

    1. Mrs. Bi_bi says:

      next ajalah… itu ada dibagian masa lalu wkwk

      Like

  3. kroong kroong says:

    Sekarang kyu br sadar seberapa br*ngs*knya dia,tp semuanya tlh terlambat,apalagi joon ae skrng udh nikah lg,tp kasian sm joon hyun.

    Like

  4. Sekarang aku tau…ternyata joon ae masih hidup. Semoga dia tidak amnesia…

    Liked by 1 person

    1. Mrs. Bi_bi says:

      Lah…keknya dari awal chapter udah ada joon ae😂

      Like

      1. Kaka boleh minta pw new timenya? Tankyou kak

        Like

      2. Mrs. Bi_bi says:

        Eh?? Itu belum kelar partnya. Tampilan wp baru dan aku gk paham -_-… aku gktau gimana jadiin private makanya aku pos tapi aku password. Sebelum aku posting biasanya semua ff aku posting tapi private…untuk aku baca ulang biar tau salahnya dimana. Nah tapi tampilan wpnya baru dan aku bingung dimana bisa ngprivatenya 😢😢 tapi kalo kamu mau ya aku bisa aja kirim pwnya. Tpi ya itu… partnya itu masih belum pasti dan entah nnti bakal berubah atau gimana. Masih minta pwnya?

        Like

      3. Oh ga usah kak. Nanti saja kalau sudah publish. Biar makin enak bacanya. Semangat kak…semoga lancar nulisnya dan semoga lancar juga aktifitas dunia nyatanya..

        Liked by 1 person

  5. elfrye says:

    Aduh yg jd korban di sini adlh jonghyun kshn bgt y dia sgt rindu pd omanya,apkh ahra dan tn cho jg tahu klo joonae sebnrjy msh hidup,permainan mcm apa ini,penasaran

    Liked by 1 person

  6. arisa says:

    seneng kalo liat kyuhyun menderita kaya gini #karma

    Liked by 1 person

    1. Mrs. Bi_bi says:

      Ehhei….jangan jahat2 begitu sama kyuhyun😂😂

      Like

  7. nuroktaviani says:

    Pantes siwon gak merestui mereka kyuhyun mang brengsek

    Liked by 1 person

  8. ilhoonniee says:

    Astaga kasian joonhyun 😭😭

    Liked by 1 person

  9. angelkim393 says:

    T ank nya kyuhyun pinter amat….
    Bersyukur dgn kehidupan bahagianya joon ae
    N t hukuman buat kyuhyun slh siapa nyakitin joon ae
    WEHHHHHH salut q m anaknya joon ae yg pinter abis

    Liked by 1 person

  10. laela says:

    Apa yg kyuhyun lakukan tau kl joon ae blm menonggal tp terlambat joon aenya sdh menikah lagi dan mkin lupa sama kyu

    Liked by 1 person

  11. rusnimia latief says:

    salam kenal….mohon ijin untuk ikut membaca tulisan2 disini. dulu waktu msh jd sider aku pernah baca time…miris banget ceritanya tp setelah membaca sequelnya eh malah tambah miris dan nyesek, engga nyangka kalo awalnya kyu mendekati joon ae karena taruhan, pantes banget sih siwon sampai segitunya..tp ketika menikah apa kyu emang engga bener2 cinta sama joon ae?

    Liked by 1 person

    1. Mrs. Bi_bi says:

      Salam kenal juga rusnimia latief😊😊 silahkan…silahkan dibaca sesuka dan sepuasnya…semoga gak ngecewain

      Like

  12. Ternyata kyu dulu emang mempermainkan joon ae makanya siwon ga suka ma kyu…ohhh kyu jahat nya dirimu.. klo gini pantas dah siwon menyembunyikan joon ae dari kyu.. kayaknya noona dan ortu nya kyu tau dech klo joon ae sebenarnya masi hidup… Ga sabar pengin liat gimana klo kyu ketemu joon ae ya?

    Liked by 1 person

  13. ohsenas says:

    pinter bngts sih anak y si kyuu…dia tau kalu eoma y disembunyiin…
    ngeliat kebersamaan hyun hae sma deniss alamt buat kyu gabakaln kembali sama hyun hae .gmna kalu hyunhae hamil ank y denis tpi dsni bkankah kyu msih sah jdi suami y hyunhae.jdi dsni hyunhae yg pnya 2suami??oh tidaak …nyessek ahh

    Liked by 1 person

    1. Mrs. Bi_bi says:

      Itu…. namanya.. aku yg salah ketik atau dirimu yg salah baca?😅

      Like

  14. shenn_ says:

    YAKDEZZZZZZ!
    APA INI?!!
    OMEGADHHH!!!
    GAKUAT BAYANGINNN..
    KO JOONHYUN EMBER BANGET SIII-_-
    HARUSNYA LU DIEM DULU JOONHYUN-_-
    TRUS ITU NANTI JOON AE NASIBNYA GIMANOOOOO :”

    *capslock jebol daritadi, bacanya sambil nahan emosi karena ketinggalan :v*
    *maljum ga berkah XD*

    Liked by 1 person

  15. lyeoja says:

    Kyaaaaa…. rasanya degdegan baca nyaaa,,, ada yg ngejingjrak2 dijantung.. hihihi
    Rasanya itu campur aduh thor…
    Manis, asem asin ,paittt… ughhh ya ampunnn … komplit bangttt,
    Suka bangt sm ceritanya, gak sabar apa kyu akan brtemu dgn joon ae lagi .? Apa mereka akan br1 lagi,,, harapnya sih gtu, tapi semua tergantung author….
    Fighting u kelanjutannya thorrr,,,

    Liked by 1 person

  16. kimsun217 says:

    Joon hyun lebih pinter dan cerdik, jadi inget detektiv conan , hahaha
    Denis jgn pisah dari joon ae yah,, hahaah,, aku senang mereka bersama

    Liked by 1 person

  17. hyun says:

    Omg.. Jangan bilang joon ae hamil.. Aku mikir itu gara2 dennis lol..
    Kyu, setimpal bgt apa yg dia rasakan sekarang, dulu dia kebangetan yak, perempuan ada bukan utk di jadiin mainan, dia berharga, tanpa ada perempuan, laki pun cuma jadi laki, bukan pria ataupun ayah.. T.T

    Liked by 1 person

  18. Monika sbr says:

    Waduuuh… Apa joonhyun benar2 melihat joonae waktu dirumah sakit? Apa kyuhyun akan percaya sama kata2 anaknya??
    Kapan yaa mereka bisa bertemu kembali.

    Liked by 1 person

  19. rill407 says:

    Salam kenal dan ijin baca ya. . . Sedih ih kasian joo hyunnya.

    Like

    1. Mrs. Bi_bi says:

      salam kenal juga rill4017 ^^ iya silahkan aja dibaca2 🙂

      Like

  20. kyuwonhae's wife says:

    Pntas aja siwon oppa gk suka sma kyu, trnyta dia dri awal aja udh gak bner mempermainkan dan menykti joon ae . Dan lbih baik joon ae hdup sprti ini drpda sma kyu dlu 😦
    Semanggat yah thorr lnjtin y 😉

    Liked by 1 person

  21. diana says:

    astaga baru tau kalo kyu dlu dketin joon ae cuma karna taruhn, pantes aja siwon benci bgt sama kyu, ahra marah knp? apa karna ucpn joon hyun? apa yg bkal kyu lakuin pas tau joon ae msh hdup? tp dia udh bhagia sama pria lain T.T

    Liked by 1 person

  22. Ayu says:

    Ternyta kyuhyun cuma mempermainkan joo ae..
    Akhir.y kyuhyun menyesal juga karna sudah mempermainkan joo ae…

    Liked by 1 person

  23. Dewi_K says:

    ternyata dlu kyuhyun permainkan joon ae , pantes aja siwon bnci bgt sm kyuhyun.. tpi kan skrang kyuhyun udh sdar, disini yg pling ksian adlh anaknya, sdah dipisahkan dri joon ae diabaikan jg oleh kyuhyun. brharap aja smoga mreka brtiga bisa cepet brtemu..
    ditunggu part selanjutnya.. fighting

    Liked by 1 person

  24. Akhirnya setelah seminggu off data dapat notif diemail post new time part 2 hehe end then udh selesai bacanyaa😊
    joon hyun, noona disini🙌 dennis apa gatau ya kalau joon hyun mirip2 gitu sama joon ae eonni, jangan2 emg siwon oppa gakasih tau dennis kalau joon ae eonni punya anak.
    iya sihh kyuhyun oppa rasa bersalah dia besar banget, sampe dengan dia bersikap kayabgitu ke joon hyun, dia nyakitin diri sendiri, joon hyun terlebih😥
    dari awal dia deketin joon ae eonni untuk taruhan walaupun akhirnya bener2 jatuh cinta, pantes siwon oppa sampe segitunya ke kyuhyun oppa, 😕 kakak mana yg gamarah hikss,
    joon ae eonni gimana seandainya ingatan kamu kembali, apa masih berharap punya 3 anak dari dennis huwaaa gimanaaa? joon hyun nangis gituu, apa tn. cho sama ahra eonni tau yg sebenarnya kalau joon ae eonni masih hidupp. reaksi kyuhyun denger itu dari joonhyun gimana?😥😧😱😰

    sukses kak, penasaran lagi bersambungnya tepat banget hehehe, keep writing😀😀😊

    Liked by 1 person

  25. minitop says:

    syukurlah d update.hehe
    ternyata kyu jahat bgt, semoga joon ae bahagia sama dennis

    semangat!!!!

    Liked by 1 person

  26. Nina says:

    Dari kemarin bolak balik wo nya di protect terus
    Udah nunggu bgt cerita ini.. 😳😳

    Itu si joon hyun ketemu joon ae beneran kali ya..
    Ya ampun..
    Ini mah bner bner kyuhyun ga akan pernah bisa lg sama joon ae
    Moon ae udh bahagia sama suaminya yg skrg..
    Seenggaknya dia tahu kalo dia punya joonhyun dari kyuhyun , udah cukup kayaknya..
    Duh malangnya nasib moon hyun..

    Liked by 1 person

  27. wahyuniputri95 says:

    kayaknya tn cho dan ahra memang tau kalo misalnya joon ae masih hidup, atau mungkin mereka memang membuat perjanjian sama siwon? penasaran,,aku selalu nunggu kelanjutan series ini,, suksess buat ff nya…

    Liked by 1 person

  28. jeybk says:

    awalnya cman iseng aja baca2 .. Eh ternyata ceritanya seruh juga hehe

    Semangat authorniim 💪
    Btw minta pwnya yg part 3 boleh?

    Liked by 1 person

    1. Mrs. Bi_bi says:

      Part 3 belum muncul 😂

      Like

      1. Mrs. Bi_bi says:

        Dan gak ada niatan untuk di pw dan maaf baru bales 🙇🙇

        Like

      2. jeybk says:

        Yoo wess daku tunggu 😍

        Like

  29. rzkymhyu says:

    Aaaaa makin penasaran sm kelanjutannyaaaa 😭😭😭 oya kak, carany buat mnta psswrd chapter 3ny gmn? Ak g sbar pngen baca hehe

    Liked by 1 person

    1. Mrs. Bi_bi says:

      Part 3 gak di pw kok… belum muncul juga 😁

      Like

      1. rzkymhyu says:

        Oya kak? Haha, trus yg ak liat kemarin apa ya? 😂

        Liked by 1 person

      2. Mrs. Bi_bi says:

        Postingan yg belum kelar😂

        Like

      3. rzkymhyu says:

        Ooh belum kelar ya hehehe.. Ditunggu deh part 3nya hwaiting~

        Like

  30. nadira says:

    hai eon salken yaa sebelunnya.. dan boleh yaa aku curhat sedikit hehe aku suka pas baca ‘time’ di blog sebelah pas di search nama author nya ternyata ada blog ptibadinya hehe. sebelum ‘new time’ di post aku sempett liat liat blog ini nandain blog ini jadi blog favorit. dan aku sempet lupa sama blog ini kemaren2 terus tadi tiba2 inget pas dibuka udah ada postingan sequel time. suka sama cerita nyaa gatau mau komen apa. semoga cepet lanjut yaa eon. maaf baru komen di part ini :))

    Liked by 1 person

    1. Mrs. Bi_bi says:

      Hai nadira,, salam kenal juga 🙆🙆.. gpp mah baru komen daripada gak komen gak saling kenal 😀

      Like

  31. Sung hyeseok says:

    Joon hyun pasti ketemu joon ae. Konfliknya good banget perfect.

    Liked by 1 person

  32. Kok jun ae, nya bisa dikatakan meninggal pasahal masih hidup?? ? Apa ini rencana siwon?? ?

    Liked by 1 person

  33. lilly says:

    sebenernya siwon itu baik kx cuma gara² kyu aja yg nyakitin joon ae makanya dy jadi jahat dan ternyata kyu cuma mainin joon ae aja bener² keterlaluan kyuhyun sikapnya,joon hyun beneran cerdas gak bisa dibohongi dan dy kx tw klo joon ae masih hidup ???????

    Liked by 1 person

  34. Rahmi sparkyu says:

    Siwon kakak yg baik dan sayang banget ma joon ae.. Punya insting yang kuat kalo kyu itu ngk baik untuk joon ae… Kasian sih sama kyu nya tapi skrg joon ae nya uda bhagia ma dennis… Ceritanya semakin menarik,,, fighting terus ya untuk menghasilkan cerita yg lebih wah lagi…

    Liked by 1 person

  35. hyokwang says:

    tuh kan pantes siwon g suka kyuhyun, ternyata dia emang tau kalau kyuhyun cuma mainin adiknya…
    semoga aja kyuhyun bisa memperbaiki hubungannya sama joon hyun, dan bisa ketemu joon ae…

    Liked by 1 person

  36. chocho says:

    awal yg dimulai gak baik pasti akhirnya gak baik pula. kyu remaja sangat arrrrrrrgh kenapa jahat banget sih kyu yaampun

    Liked by 1 person

  37. chocho says:

    dan kayaknya joon jae hamil anaknya dennis deh. gimana ini? apa masih ada harapan buat kyu untuk memperbaiki kesalahan nya kalo dia tau joon jae masih hidup?

    Like

  38. wienfa says:

    abis dazzling girl lngsung lnjut k ff sequel time..
    owh jadi si kyu itu awlny cma truhan aja..eh kampret bgt ya kyu?pntsn siwon gak stuju..naluri seorang kakak emng gk prnh mleset mbak?eh joon ae ny mlh bandel,mklum rmja labil..
    aneh ngrsa brslh tuh hrus ny km tnggung jwab sm anak km..bkn ny ng hindar sbgi llki pngcut..oh dada ku mulai gmuruh nih sm emosi..

    Liked by 1 person

  39. Ifhaa says:

    Huuh… Seperti ap reaksi kyu dngrn johyun yea….

    Like

  40. mychococinno says:

    Ya ampun Kyuhyun dari dlu ternyata cuma manfaatin Joon Ae aja,, jdi bahan taruhan lgi. Pantes aja Siwon gk suka sma Kyu..
    Itu Dennis gk curiga apa iya waktu Joon Hyun bilang klo Joon Ae itu emaknya?
    Sebenernya aku lebih suka ceritanya klo Joon Ae sma Dennis aja,, dia hidup udh bahagia bgt berdua..
    Kyuhyun yg menderita masa bodolah,, biarin aja dia nyesel gk apa-apa hahhaha #ketawa setan
    Tp kasian juga sma Joon Hyun yg gk pernah ketemu sma emaknya..

    Joon Hyun kecil” udh punya pemikiran yg kritis iya,,
    Apa sih yg disembunyiin ahra sma bapaknya.. ??
    Cerita di masa lalu mulai kebukak perlahan-lahan..
    makin gk sabar bwt bca next chap nya..

    Like

  41. Shin cira says:

    Joon hyun anak yg pintar. Mereka menyembunyikan eomma.

    Like

  42. Dersimalinda says:

    joonhyun kasihan bangett si kamu.

    Like

  43. KRISMATIC08 says:

    Entah kenapa gua gak rela kalau joon ae ama dennis,,, kyak ada yg gak pas gitu,,, terus juga kasihan joon hyun,, dia juga butuh ibunya,, 6 tahun tumbuh cuman bisa liaat photo ibunya, padahalkan joon ae masih hidup,,

    Like

  44. shin ji ki says:

    Manis bgd rumah tangga dennis sm joon ae. Agak gak tega klo sampe d rusak kyu. Soalnya jahat si kyu nya. Huhu

    Like

  45. khanss says:

    hi author aku reader baru salam kenal , ijin baca FF ini ya, aku awalnya tahu FF ini di blog sebelah iseng2 googling eh dapet WP nya author

    Like

  46. Agnes Cho says:

    Oh my god!!
    Makin seru…
    Ketahuan deehhh….
    Tinggal ketemunya doang…
    Huwaaaaa…!!!!
    Makin penasaran…😃😃😃😃

    Like

  47. Ahh, feelnya dpt bgt.. Bagus kmu nak bilang bgtu, smoga kyu cpt tau dan nyari joon ae

    Like

  48. Akhirnyaaaa setelah sekian lama nungguin sequel nya Time, semalem muncul di Flaying ff dan kebawa mimpi semalem dan berakhir di pencarian mbah gugel lanjutan cerita ini. Huhhhh Joon Hyun 😦 kok Joon Ae ga hamil ya ama Dennis? Apa bukan Jodohnya? Ya tuhan Kyuhyun mau sampe kapan kayak gt kenapa ga menebus dosa dengan memperbaiki semuanya dari awal 😦 , haloo mrs bi_bi aku reader baru disini izin baca baca yaaa,, salam kenal dan keep writing yaaaa

    Like

  49. Annyeong kak…maaf aku baru komen><
    Aku baca ff time sama new time part 1 nya di flying nc ff,tapi pas coba cari ehh keTemu dehh lanjutannya disini…ini ff daebak yang paling aku tunggu kak…semangat terus..gomawo^^

    Like

  50. Amoy says:

    Omo….Joon ae ketauan kalau masih hidup.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s