One Chance, please

Title : One Chance

Author : Mrs. Bi_Bi

Main Cast: Oh Sehun, Lee Hyera

Support Cast : Kim Jong In, Krystal Jung

Genre : Sadnes, School Life, Friendship

Rating : G

Length :Oneshoot

FF ini untuk seorang teman, saudara, adik, dan siapapun kamu karena aku tidak tahu harus menyebutmu apa.

Membuatkanmu kisah sebagai permintaan terakhir bukan sesuatu yang nyaman

Harapanku adalah kamu akan sembuh, sehat, dan tidak kehilangan semangat hidup seperti sekarang

.

.

.

.

.

-oo—ooooooo-

.

.

.

.

Bau khas rumah sakit sangat terasa, menusuk indra penciuman seolah pedang yang menembus tubuh musuhnya. Sinar matahari melewati celah jendela yang terbuka, seperti berkata bahwa masih ada kesempatan bagi siapapun yang tinggal di rumah sakit ini untuk sembuh.

Di sudut kamar bernuansa putih itu terdapat kamar mandi. Kecil memang, tidak sebesar kamar mandi di rumah-rumah biasanya. Namun disanalah, ditempat kecil itu semua bergantung.

Suara mual seseorang adalah satu-satunya yang terdengar, memenuhi seisi kamar itu yang jika ditelusuri berasal dari kamar mandi. Tampaklah Sehun disana, mengurut pelan punggung kurus gadisnya.

Wajah pucat Hyera menghadap kloset putih di depannya, nyaris sama warna kulit wajahnya dengan kloset yang menampung semua isi perut yang kini dikeluarkan, isi perut yang sebenarnya nyaris tidak ada apapun disana.

Sehun menahan air matanya, melihat gadis di depannya yang tampak kesakitan.

“Kau menangis lagi?” Hyera menoleh dengan wajah pucat dan mata sembabnya.

Sehun menggeleng, dia kedipkan matanya beberapa kali berharap bahwa air menggenang disana akan masuk kembali kedalam celah matanya hingga tidak keluar. Tissue yang berada di sisi meja Sehun ambil beberapa bagian, mengulurkannya pada bibir Hyera dan membersihkan kotoran yang ada disana.

“Sudah?” Tanya Sehun dengan suara tercekatnya.

Hyera mengangguk, senyumnya yang begitu Sehun sukai muncul. Membuatnya batinnya makin tersiksa, andai kata kau sehat, andai kata kau tidak sakit, maka akupun dapat membalas senyumanmu itu dengan senyum bahagia, bukan senyum palsu seperti saat ini.

Sehun mengambil beberapa bagian tissue lagi, mengusapkannya pada bagian leher baju Hyera yang basah. Setelah itu, seperti yang rutin Sehun lakukan, di gendongnya Hyera. Di angkatnya pelan Hyera, membawanya menuju ranjang yang sudah menjadi tempat tidurnya selama beberapa hari ini.

Sebelah tangan Hyera merangkul leher Sehun sekaligus meletakkan kepalanya pada dada bidang kekasih yang entah kenapa tidak juga meninggalkannya. Sebelah tangan Hyera lagi memegang infus, seolah seluruh hidupnya bergantung pada cairan itu.

Sehun meletakkan pelan tubuh lemah Hyera, di ambilnya selimut berwarna biru di ujung ranjang dan diselimutkannya kemudian pada Hyera.

“Sehun-ah.” Hyera memegang pergelangan tangan Sehun, menghalanginya untuk pergi menarik kursi dan duduk di sampingnya seperti biasa.

“Ya?”

“Pergilah.”

“Apa?” Ujung alis Sehun naik ke atas, matanya tidak kalah sayu seperti milik Hyera.

“Pergilah.” Hyera mengulang kalimatnya jika memang Sehun tidak bisa mendengarnya. “Sudah seminggu kau menemaniku. Apa kau tidak pergi ke sekolah? Apa kau tidak ingin pulang ke rumah orang tuamu dan meminta maaf pada mereka?”

“Aku mohon.” Sehun makin memelas, tangan Hyera yang tadi menggenggamnya sudah dia balik posisinya hingga kini Sehunlah yang menggenggam tangan Hyera. Hati Sehun trenyuh, tangan halus dan indah yang dulu selalu membelai kepalanya atau membawakan buku catatan untuknya sudah berubah, tidak ada lagi indahnya kutek di kukunya, tidak ada lagi cincin yang dulu berada di jemari tengahnya karena cincin itu sudah terlalu besar di jari kurusnya.

Sehun menelan salivanya kuat, di tatapnya Hyera. Wajahnya tidak bersinar lagi seperti dulu, bibirnya kering dengan gusi yang kadang berdarah. Kusam. Pucat. Kelelahan. Entah kata apa lagi yang ada dalam benak Sehun untuk Hyera.

Sehun dekatkan wajahnya pada Hyera, menatap mata Hyera yang tidak bersinar seperti dulu. Berapa kalipun Sehun mencari sinarnya, tidak ada gunanya. Sinar itu seakan menjauh dan jikapun ada, pastilah sukar untuk ditemukan.

Hyera tidak bisa atau tidak ingin memikirkan apapun, kepalanya terlalu sakit untuk memikirkan atau sekedar menebak tentang apa yang akan Sehun lakukan.

Dalam keadaan sedekat ini, dulunya Hyera pasti akan langsung mendekatkan wajahnya balik pada Sehun. Menempelkan bibir cerahnya pada bibir Sehun, merasakan kelembutan dan rasa manis disana dengan sesapan yang sangat dirinya sukai.

Namun kini, dengan keadaan berbeda dirinya tidak memiliki waktu untuk melakukan hal itu. Kembali di tatapnya mata Sehun, mata yang seolah memintanya melakukan sesuatu yang bahkan Sehun tahu dirinya tidak bisa.

“Apa yang kau inginkan?” Hyera bertanya pada Sehun, membuat mata pria itu terarah pada bibirnya yang terdapat luka disana.

“Sembuh.” Sehun berucap begitu pelan, ucapan yang hanya Hyera seorang mendengarnya, sekaligus ucapan yang hanya bisa Hyera angguki.

Sehun tersenyum setelah melihat anggukan Hyera, dia arahkan bibirnya pada kening Hyera dan mengecupnya dalam. “Kau harus sembuh.” Ulang Sehun kemudian menyisir rambut hitam Hyera dengan tangannya, sisiran yang pada akhirnya Sehun sesalkan.

Hyera tahu kenapa Sehun tiba-tiba diam dan menarik tangannya dari rambutnya, Hyera tahu kenapa Sehun tiba-tiba makin menampakkan wajah sedih di imbangi kepala tertunduknya. “Sehun-ah.”

Kembali Hyera memanggil Sehun, menggapai tangan yang Sehun sembunyikan di balik badannya. Menariknya agar dirinya tahu, sebanyak apa rambutnya rontok saat ini.

“Tidak apa, ini hanya beberapa helai.” Hyera masih tersenyum melihat helaian rambutnya di antara ruas jemari Sehun. Di ambilnya beberapa helai rambutnya itu, menggulungnya pelan kemudian membuka laci di sampingnya. Laci yang isinya membuat Sehun ingin berteriak dengan ketidak adilan akan sakit yang kekasihnya dapatkan. “Tidak apa-apa.” Kembali Hyera berkata begitu setelah mengumpulkan gulungan kecil rambutnya kedalam laci seperti sebelum-sebelumnya.

Sehun tidak pernah mengerti dengan kalimat tidak apa-apa. Bahkan sejak dulu. Sejak Hyera belum sakitpun Sehun sudah tidak mengerti dengan kalimat tidak apa-apa. Kalimat yang sayangnya begitu wanita sukai, kalimat yang sayangnya begitu sering wanita katakan. Sehun tidak pernah mengerti, bagaimana bisa berkata tidak apa-apa sementara ada apa-apa?

“Hyera-ya.” Giliran Sehun yang memanggil nama gadis itu, mendongakkan kepanya pada Sehun yang kemudian duduk agar Hyera tidak terlalu sukar melihatnya.

“Wae?”

“Bisakah kau berkata bahwa kau tidak baik-baik saja? Bisakah kau berkata bahwa kau kesakitan? Bahwa kau berkata bahwa kau tidak ingin seperti ini?”

Sehun kelepasan, emosinya terlalu tinggi hingga kalimat seperti itu meluncur bagai kereta api yang tidak bisa dihentikan lajunya.

Senyuman Hyera memudar perlahan, begitupun Sehun yang sudah memalingkan wajahnya karena tahu bahwa kalimat bodohnya barusan mengacaukan suasan di antara mereka.

Beruntungnya, bunyi pintu terbuka di susul kemudian oleh orang yang masuk membebaskan mereka dari kecanggungan ini. “Sehun-ah, kau masih disini?”

“Ne eomoni.” Sehun bangkit dari kursinya, mengangguki pertanyaan eomma Hyera yang kembali datang membawakan baju bersih bagi putrinya seperti yang selalu terjadi akhir-akhir ini.

“Bagaimana keadaanmu Hyera-ya?” Selesai menyapa Sehun, Nyonya Lee menghampiri putrinya. Membelai pelan rambut hitam dan lebat putrinya yang mungkin beberapa hari kedepan akan makin menipis.

“Aku baik-baik saja, ada Sehun yang menjagaku.”

Sehun ingin menyangkalnya, tidak ingin dia mendengar kalimat baik-baik saja dari bibir pucat Hyera. Kalimat yang ingin Sehun dengar adalah aku tidak baik-baik saja eomma, aku kesakitan setelah menjalani kemoterapi, aku tersiksa karena mual beberapa kali, aku juga tidak nyaman dengan diare yang selalu datang beberapa menit sekali. Aku tidak baik-baik saja eomma, aku sakit dan tidak baik-baik saja.

Sehun ingin Hyera berkata seperti itu, mengeluh sebagaimana dirinya harusnya mengeluh, merintih ketika dirinya merasa sakit, menangis ketika beberapa alat menyentuh tubuhnya yang kemudian menimbulkan rasa sakit.

Sehun ingin Hyera menangis agar kemudian Hyera tidak perlu menahan apapun, mengeluarkan segala sakit di tubuhnya. Berteriak ketika dia sudah tidak mampu menanggungnya.

 

Lalu jika sudah seperti itu, apa yang akan kau lakukan Oh Sehun? Berteriak, menangis, bahkan merintih seperti yang kau inginkanpun tidak akan merubah apapun, tidak akan mengurangi sakitnya, tidak akan menyembuhkan penyakitnya. Lalu kenapa kau ingin Hyera berkata seperti itu?

 

Agar aku tahu bahwa ketika dia kesakitan aku ada disisinya, agar ketika dia merintih aku dapat menggenggam tangannya, agar ketika dia merasa lelah dan putus asa aku dapat menciumnya. Mengalihkan segala hal yang terjadi agar sakit itu tidak dirasakannya, melakukan apapun agar dia tahu bahwa aku akan selalu berada di sisinya, tidak meninggalkannya apapun yang terjadi.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Kebisingan di ruang kelas yang selalu terjadi ketika jam istirahat juga terjadi pada kelas Sehun. Di pojok kelas tempatnya duduk selama kelas 3 ini, Sehun diam seorang sendiri. Mengabaikan beberapa teman yang selalu mengajaknya bermain dan bercanda namun tidak berhasil.

“Kau akan sampai kapan begini?” Kai mendekati Sehun dengan bola basket di tangannya dan keringat yang masih mengalir menuruni pelipis kemudian berakhir di leher putih yang segera Kai usap dengan handuknya. “Hyera-ssi belum membaik?”

“Belum.” Sehun menghela nafas dalam, matanya terpejam seolah menikmati saat yang masih tersisa entah apa maksudnya.

 

“Kai-ah……” Kai menoleh, begitupun Sehun yang langsung membuka kembali matanya. Melihat Krystal yang selalu ceria seperti biasa berjalan menuju arahnya.

“Kau tidak berniat membagi senyummu pada Sehun?” Tanya Kai kemudian menarik Krystal untuk duduk di pangkuannya. Tersenyum lebar sambil merasakan tissue lembut Krystal menyapa kulit wajahnya, menghapus keringat yang masih turun melalui celah rambutnya.

“Hyera belum membaik?”

“Belum.” Sehun menggeleng, menatap pasangan kekasih di depannya yang kini selalu membuatnya iri.

 

Seandainya Hyera tidak pernah sakit, seandainya kanker sialan itu tidak pernah bersarang dalam tubuh Hyera, seandainya, seandainya, seandainya.

 

Begitu banyak kata seandainya, seandainya yang membuat Sehun makin menyedihkan dengan pasangan di depannya.

“Kalian tidak malu bermesraan di depanku?”

Kai dan Krystal menoleh, menghentikan kegiatan bercumbu mereka dan tersenyum konyol menatap Sehun.

“Apakah benar-benar tidak ada kemungkinan untuk sembuh?”

“Jikapun ada, itu tidak ada gunanya selama dia siap untuk mati dibanding siap untuk hidup”.

Kembali, Kai dan Krystal menghela nafas berat. Di tatapnya sekali lagi Sehun, pria yang kemudian berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan kelas, membawa tasnya yang artinya adalah Sehun kembali membolos.

Entah akan kemana Sehun saat ini, apakah menemui Hyera seperti biasa atau menyegarkan pikirannya agar dapat berhadapan lagi dengan Hyera.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Hyera masih duduk di atas kursi rodanya dengan infus yang lagi-lagi berada di sisinya. Begitupun tissue berukuran sedang berada di pangkuannya., takut-takut jika kemudian dirinya tiba-tiba mimisan seperti sebelum-sebelumnya.

“Aku disini saja.” Ucap Hyera menyetop suster yang mendorong kursi rodanya. “Disini saja sus, aku ingin disini.” Lanjut Hyera, memberhentikan posisinya pada taman rumah sakit yang indah.

“Jika ada apa-apa panggil saja suster untuk membawamu kembali ke kamar.”

“Ya, aku tahu.” Hyera menoleh, memandang suster berkaca mata di belakangnya yang merawat dirinya sejak pagi tadi. “Terimakasih.” Ucap Hyera dan mendapatkan anggukan dari suster itu.

 

Hyera suka bunga, sayangnya bunga yang dirinya ketahui hanya jenis mawar, lily, dan anggrek. Sementara bungan di depannya yang berbentuk indah dengan warna beraneka ragam tidak Hyera ketahui jenisnya.

Merah, kuning, putih, pink, ungu, bahkan biru. Itu adalah warna bunga taman rumah sakit yang menjadi pemandanggan Hyera. Bunga dari berbagai jenis ukuran dan macam itu adalah sesuatu yang terasa begitu indah untuknya.

Entah sengaja atau kebetulan, namun taman tempatnya kini berada membentuk bunga-bunga itu membentuk lingkaran. Lingkaran besar yang berada di tengah taman dan air mancur sebagai pemanisnya.

“Hei.” Hyera tidak menyangka jika kemudian ada orang asing, sesama pasien rumah sakit yang menyapanya. Menegurnya dengan senyum dan kemudian berdiri di sampingnya dengan sebelah tangan memegang tongkat yang mungkin membantunya berjalan atau membantu meringankan beban kakinya.

“Hai.” Hyera menyapanya balik, mendongak padanya yang keadaannya sama seperti dirinya beberapa menit lalu. Memandangi taman cantik rumah sakit.

“Tamannya indah bukan?”

“Ya.” Hyera mengangguk, membenarkan bahwa taman rumah sakit tempatnya berada memang indah.

Sayangnya, seindah apapun taman itu, tidak ada satupun keceriaan disana. Tidak ada anak bermain bersama orang tuanya, tidak ada pasangan kekasih yang berjalan-jalan, bahkan tidak ada keluarga yang berkumpul. Menjadikan keindahannya terasa sia-sia.

“Perkenalkan.” Pria itu mengulurkan tangannya kehadapan Hyera. “Namaku L.”

“L?” Hyera mengernyitkan keningnya. L? Nama macam apa itu?

“Iya L. Sebenarnya bukan nama asliku, tapi teman-temanku memanggilku begitu.”

“A~.” Hyera mengangguk beberapa kali kemudian menggapai tangan L, ikut menjabatnya akrab. “Aku Hyera.”

“Jadi? Sudah berapa lama kau disini Hyera-ssi?”

“Hampir satu bulan. Kau?”

“Baru 1 minggu.”

“Ada apa dengan kakimu?”

L tergelak, dilihatnya kaki kirinya yang sudah di gip dan L melirik Hyera sebelum menjawab pertanyaannya. “Aku terjatuh ketika bermain kuda.”

Kembali Hyera mengangguk. Mungkin hanya patah, begitu pikir Hyera.

“Dan kau? Kau sakit apa?”

“Kanker.”

Canggung. Dingin. Perasaan tiba-tiba yang muncul kemudian hingga tidak ada satupun pembicaraan di antara mereka lagi. “Sorry.”

“Tidak apa.” Hyera kembali mengucapkannya, kalimat yang Sehun benci itu keluar lagi dari mulutnya.

L berdehem, dilihatnya Hyera yang kembali meluruskan kepalanya menatap taman bunga, taman yang belum pernah sekalipun membagikan keindahannya pada penghuni rumah sakit.

“Kau mau jalan-jalan?” Tawar L. “Kita bisa mengelilingi taman jika kau mau.”

“Boleh.” Hyera kembali tersenyum, menatap L yang terlihat girang entah karena apa.

 

Andaikan Sehun berada disana sudah pasti pria itu tidak akan suka melihat kekasihnya menghabiskan waktu bersama pria lain, tertawa bersama pria lain, berbagi tawa yang akhir-akhir ini jarang menghampiri mereka.

“Jadi, pria yang selalu bersamamu itu adalah kekasihmu?”

“Ya, kami sudah bersama sekitar 3 tahun.”

“Lalu? Apa yang kau lakukan akhir-akhir ini?”

“Menikmati waktu sebelum meninggal.”

“Menikmati?” L menghentikan langkahnya, menahan kursi roda Hyera untuk tidak makin menggelinding ke depan. “Menikmati dengan membiarkan semua beban menghimpitmu? Apa itu yang kau maksud menikmati?”

Hyera memutar kursi rodanya, berhadapan dengan L yang juga mamandangnya. “Bukan menikmati jika kau merampas semua kebahagiaan orang di sekitarmu.”

“L-ssi.”

“Setiap saat kekasihmu memandangmu sedih, menunggu kau mengatakan apa yang kau inginkan untuk mengalihkan rasa sakitmu. Kau tidak melakukan apapun, yang kau lakukan adalah menunggu kematian.”

“Kau memperhatikanku selama ini?” Tanya Hyera curiga, mendengar begitu banyak cerita yang harusnya tidak L ketahui semudah ini.

“Haruskah aku mengaku?” L mengumbar senyum menawannya. Dia dudukkan dirinya pada kursi taman yang berwarna putih dan menikmati kerutan penasaran pada wajah Hyera. “Sehun adalah temanku.”

Bulatan mata Hyera tampak jelas, sementara L? Pria itu justru tertawa, mengabaikan kemarahan dan ketidak sukaan Hyera yang membawanya berbelok, membelokkan kursi rodanya dengan susah payah yang semakin tidak mungkin terjadi ketika L menahannya.

“Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!” Bentak Hyera.

“Harusnya kau seperti ini.”

“Apa?”

“Harusnya kau berteriak ketika kau merasa tidak nyaman akan sesuatu, harusnya kau berkata sakit jika sakit. Seperti saat ini, berkata untuk aku lepaskan ketika aku ingin melepasmu.”

Hyera mengerutkan keningnya, bukan hanya karena L, tapi juga karena rasa sakit di kepalanya yang datang seperti ingin memecahkannya saat ini juga.

“Sehun selalu berada di dekatmu, dia menunggumu mengeluh dan berkata sakit agar dia bisa melakukan sesuatu untukmu. Berhentilah bersikap tegar dan menahan semua tangismu, kau tidak sekuat itu untuk menahan semuanya sendiri. Kau harus mulai mengatakan apa yang kau rasakan dan kau inginkan. Jikapun kau sudah siap dan memang menunggu kematian, maka buat hatimu lebih berwarna untuk selanjutnya agar kenangan yang akan terkahir kali Sehun lihat darimu adalah wajah cerah dan bahagia, bukan wajah lesu dan menyedihkan seperti saat ini.”

“Kau tidak tahu apapun.”

“Kau yang tidak tahu apapun.” L mengelak, dirinya tidak terima jika kemudian Hyera mengalihkan pendapatnya, ngotot pada pilihan tegar yang selama ini Hyera pikir adalah benar.

“Harusnya kau menangis, membiarkan air matamu keluar, membiarkan kesakitan itu kau lampiaskan hingga kau akan merasa lebih baik.”

“Lalu jika aku melakukannya, jika aku menangis, berteriak, mengatakan sakit, kau pikir semuanya akan membaik?”

“Tentu saja tidak. Kau sudah berniat untuk mencabut nyawamu sendiri, apanya yang lebih baik?”

Hyera mengeratkan genggaman tangannya, pandangannya pada L memudar bersama air mata yang menggenang disana. “Lihatlah itu.” L menarik kursi roda Hyera untuk menghadap ke arah yang di inginkannya, pada Sehun yang sedang berjalan di lorong rumah sakit untuk menuju kamarnya. “Setiap hari Sehun datang kemari, bahkan terkadang dia bolos sekolah seperti hari ini. Terkadang juga dia tidak pulang ke rumahnya dan membuatnya bertengkar dengan orang tuanya. Kau pikir untuk apa Sehun kemari?”

Hyera diam, satu-satunya jawaban tentu saja karena Sehun mencintainya.

“Sehun mencintaimu, dia ingin kau berbagi sakit dengannya seperti ketika kalian berbagi kesenangan. Tapi kau bahkan tidak mengijinkannya mengetahui sakit yang kau rasakan. Dia melihatmu di kemo, melihatmu yang berdarah, melihatmu yang mual, melihatmu yang pingsan, membersihkan muntahanmu, membersihkan kotoranmu tanpa jijik, tapi dia bahkan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali melakukan semua hal itu layaknya babysitter, berusaha tegar seperti yang kau lakukan. Seolah-olah tidak ada perasaan khusus di antara kalian hingga menangispun tidak bisa. Aku tidak menyalahkanmu yang tegar, tapi kau harus ingat bahwa manusia haruslah mengatakan sakit agar seseorang dapat membantunya menghilangkan rasa sakitnya.”

Hyera diam, sakit di kepalanya makin menjadi dan segala ucapan L sedikit banyak tidak dimengertinya. Bukankah akan lebih baik jika dirinya terus diam agar orang tuanya ataupun Sehun tidak khawatir padanya? Bukankah harusnya Hyera berkata baik-baik saja pada mereka dibanding mengatakan yang sebenarnya?

“Biarkan mereka yang berada di sampingmu membantumu mengalihkan rasa sakitmu, melakukan hal yang mereka tahu akan membuatmu bahagia.”

“L-ssi.” Hyera memotong ucapan pria itu. “Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”

“Tidak mengerti?”

“Bukankah jika aku mengatakan baik-baik saja, tidak merintih, tidak mengeluh, tidak berkata kesakitan, maka mereka tidak menjadi khawatir dan sedih?”

L menghela nafas dalam, di tatapnya Hyera dalam dan satu contoh mudah muncul dalam kepalanya. “Jika Sehun kecelakaan dan kakinya patah sepertiku hingga harus di amputasi, dia tidak bisa lagi berlari, bermain bola, bermain basket, berlarian dengan cepat, dan melakukan segala hal lainnya. Menurutmu, apakah lebih baik Sehun diam dan mengatakan tidak apa-apa, ataukah lebih baik melihat Sehun berteriak marah karena kakinya yang sudah tidak sama lagi? Menurutmu, apakah bebannya lebih berat ketika Sehun diam dan tidak mengatakan apapun, menanggung semua sakitnya sendiri, atau berbagi dengan mengungkapkan semua isi hatinya? Marah karena kakinya di amputasi, sakit ketika merasakan perih di lukanya. Menurutmu mana yang lebih baik?”

 

Aku ingin Sehun berteriak marah sehingga aku dapat memeluknya dan menenangkannya, aku ingin Sehun merintih ketika merasakan lukanya yang perih agar aku bisa mengoleskan obat padanya. Aku ingin Sehun berbagi denganku dan tidak menanggung lukanya seorang diri.

 

“Apa sekarang kau mengerti?” Hyera mengangguk, perlahan sekali kepalanya mengangguk.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Kau bilang kau sedang menikmati hidupmu bukan? Maka nikmati hidupmu. Jika memang sudah tidak ada kemungkinan lagi, nikmatilah hidupmu. Hiduplah layaknya orang normal, lihatlah semua orang di sekelilingmu seperti ketika kau masih sehat, tunjukkan bahwa kau benar-benar baik-baik saja jika memang itu yang ingin kau tunjukkan. Jangan kau tunjukkan wajah sedih seperti ini, menangislah jika kau ingin menangis, tertawalah jika memang ada hal lucu, nikmati saja hidupmu.”

 

Ucapan L tentu saja berbeda dengan pemikirannya selama ini. Pendapat yang Hyera pikir akan memudahkan hidup semua orang ternyata tidak seperti itu keadaannya. Diam dan ketegaran yang selama ini Hyera tunjukkan tidak Hyera ketahui akan memberikan luka berbeda pada orang lain.

 

“L? Hyera?” Sehun masih mengenakan seragam sekolahnya ketika berlari kecil mendekati mereka berdua. Hyera tertunduk seperti biasa, kali ini dengan alasan berbeda. Bukan hanya karena kepalanya yang sakit, tapi juga karena ucapan L yang dipahaminya sedikit demi sedikit.

“Aku menemaninya berjalan-jalan. Karena kau sudah datang, aku pergi.” L menepuk pundak Sehun pelan sebelum akhirnya pergi dari sana, meninggalkan pasangan kekasih yang berhadapan setelah Sehun menjongkokkan dirinya kehadapan Hyera.

“Sehun-ah.”

“Ya?” Sehun menjawab seperti biasa.

“Aku ingin bunga berwarna putih itu.” Tunjuk Hyera pada bunga yang tidak jauh dari hadapannya. Sehun menoleh ke belakang, melihat satu-satunya bunga berwarna putih disana yang sudah pasti adalah bunga itu maksud Hyera.

“Tunggu sebentar.” Ucap Sehun kemudian berdiri, berjalan menuju bunga itu yang akan diberikannya pada Hyera.

 

Kau benar L-ssi, aku tidak akan tahu apapun jika seseorang tidak mengatakan keinginannya padaku. Aku bahkan tidak akan dapat berbagi kebahagiaan jika tetap diam. Tapi, haruskah aku berbagi kesedihan?

 

“Ini.” Sehun menyerahkan bunga yang Hyera maksud, bunga yang kemudian Hyera ambil dari genggaman tangan kekasihnya dan dia cium beberapa kali.

“Kita kembali ke kamarmu ya.” Ucap Sehun pelan kemudian mendorong kursi roda Hyera, membawanya kembali ke dalam kamar hangatnya.

“Sehun-ah.”

“Ya? Kenapa?”

“Apa ada sesuatu yang sangat kau inginkan dan mungkin untuk aku lakukan?”

Langkah kaki Sehun berhenti, bersama dengan itu kursi roda Hyera juga terhenti.

Kepala Sehun tertunduk memandang Hyera yang hanya bisa dia lihat ujung kepalanya. Beberapa helai rambut yang selanjutnya akan makin habis di kepala kekasihnya akan menjadikan kekasihnya minder. Bahkan ketika beberapa bagian kepala Hyera sudah bisa dikatakan tidak berambut, Sehun berpikir, haruskah dirinya meminta Hyera untuk memakai wig mulai saat ini?

“Wig.”

“Wig?”

“Apakah kau ingin memakai wig?” Hyera tersenyum miris dengan tangan memegang beberapa bagian kepalanya yang sudah tidak ditumbuhi rambut. “Haruskah aku membelikanmu wig?” Sehun beralih tempat, kini dia kembali berjongkok di hadapan Hyera.

“Aku bertanya tentang keinginanmu.

“Lalu apa keinginanmu?”

“Bisakah kau meninggalkanku?”

“Jika kita beralih posisi, apakah kau akan meninggalkanku?”

Hyera terdiam dengan setetes air mata yang keluar dari kelopak matanya, dilihatnya wajah tampan Sehun, wajah yang selalu menemaninya bahkan hingga saat ini. Wajah yang akan selalu Hyera ingat sampai kapanpun, wajah yang tidak akan pernah Hyera lupakan dan akan dibawanya hingga dirinya tiada.

 

Sehun

 

Hyera menyebut nama kekasihnya, nama yang akan selalu terukir di hatinya hingga akhir.

“Tidak akan.” Ujar Hyera kemudian memeluk Sehun, memeluknya begitu erat dan menghirup aroma tubuh kekasihnya yang sudah lama tidak dia rasakan. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

“Lalu kenapa kau menanyakan sesuatu yang sudah kau tahu jawabannya?” Sehun bertanya dengan tubuh Hyera dalam pelukannya, tubuh yang Sehun tahu dan rasakan bagaimana ringkih dan tidak berdayanya kini. Tubuh yang akan selalu Sehun peluk hingga dirinya benar-benar tidak bisa memeluknya.

Selama ini, selama waktu dan takdir masih mengijinkannya untuk bersama Hyera, untuk memeluk Hyera, dirinya akan melakukan itu. Dirinya akan selalu berada di sampingnya apapun yang terjadi.

Begitupun Hyera, kesadarannya akan rasa sakit Sehun yang juga ingin dirasakannya membuatnya mengambil keputusan. Menangis jika sedih, merintih jika kesakitan, atau seperti saat ini. “Aku ingin kau menggendongku menuju kamar.”

“Tentu saja.”

“Bisakah aku kau lihat seperti dulu?”

“Tentu saja bisa. Aku merindukanmu yang cerewet, merindukanmu yang kekanakan, merindukanmu yang cengeng. Aku benci ketika kau bersikap dewasa hingga membuatku tidak bisa melakukan apapun.”  Ucap Sehun sembari mencubit ujung hidung Hyera hingga gadis itu tersenyum begitupun ia yang membalas senyumnya dengan ringan hati.

 

 

 

Awal baru dimulai, awal ketika seseorang mulai melihat hidupnya seperti arah berbeda. Anggaplah penyakitmu bukan penyakit, tapi anugerah. Anugerah karena kau bisa merasakan cinta dari orang lain, bukan rasa kasihan atau sungkan karena merepotkan.

Lihatlah kecelakaan lalu lintas yang memakan korban jiwa, tidak bisakah kau menyamakan dirimu seperti korban jiwa itu. Sebelum kecelakaan mereka hidup seperti biasa, lari dan tertawa seperti biasa, memberikan kenangan baik dan bukannya kesedihan. Tidak bisakah kau yang sakit mengabaikan sakitmu dan hidup layaknya orang yang tidak berpenyakit? Tidak bisakah kau mencintai dirimu dibanding mencintai orang lain?

 

 


 

ff ini udah pernah di posting sebelumnya tapi aku hapus karena yang pesen ngomel2 dan kekeuh sama pikirannya.  Berhubung dia sudah sembuh tapi akhkir2 ini malah ilang gada kabarnya, semoga kamu baca ini dan ngomel2 lagi supaya aku tahu kamu baik2 aja

 

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. kak vid??? suka ff L ahh L ternyata 🙂 wah sapa kak itu yang kak vid kasih note di bawah itu. wah aku jadi merasa seperti tersindirkan loh kak karna jarang pakek banget malah nongol di nanonano hihihi 😦 ~____~

    Liked by 1 person

  2. lyla cho says:

    Menyentuh banget ff x,,,
    Suka suka suka….

    Liked by 1 person

    1. Mrs. Bi_bi says:

      makasih makasih makasih 🙂

      Like

  3. amoy says:

    Penasaran dh…..apa hyera bakalan sembuh?

    Liked by 1 person

  4. Savannah Lee says:

    Sedih banget bacanya 😥 Tapi suka kak, enak di baca. Yaaaah walaupun super duper mengharukan. Jadi tambah suka sama Sehun deh 😀

    Like

  5. ayucham says:

    menyentuh. sedih ya

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s