Impossible (Happy Together)

Imagine me and you, I do
I think about you day and night, it’s only right 

If I should call you up, invest a dime
And you say you belong to me and ease my mind
Imagine how the world could be, so very fine
So happy together 

I can’t see me lovin’ nobody but you
For all my life
When you’re with me, baby the skies will be blue
For all my life 

Me and you and you and me
No matter how they toss the dice, it has to be
The only one for me is you, and you for me
So happy together

 (Happy Together)
Happy Hippie present by: Miley Cyrus

 

 

***

Sejujurnya, Kai hampir tidak pernah meminta apapun dalam hidupnya—sedikitpun hampir tidak pernah.  Sejak dirinya menghirup udara untuk pertama kalinya, sejak kulit tangannya merasakan sentuhan pertamanya, sejak matanya terbuka untuk pertama kalinya, sejak suara tangisnya terdengar untuk pertama kalinya, sejak gigi susunya tumbuh untuk pertama kalinya, sejak kaki mungilnya mulai melangkah untuk pertama kalinya, hingga saat dirinya menuju sekolah dengan mengendarai lamborghini keluaran terbaru dan sambutan gadis-gadis sekolah yang begitu berlebihan terjadi, Kai tidak meminta atau menginginkannya,

Dilahirkan dalam ruang khusus dimana hanya ada dokter-dokter terbaik dunia yang membantunya menghirup udara bumi dan penjaga-penajaga cakap yang menjaga agar semuanya aman terkendali, bungkusan tubuh pertamanya yang begitu lembut bagai kapas dengan benang emas sebagai hiasan hingga membentuk angsa cantik, tunggangan mewah yang tiap bulannya diganti tanpa sekalipun bertanya padanya, Kai tidak pernah meminta itu semua.  Atau penjagaan super ketat bagai anak presiden saat keluar dari rumah. penghormatan dari siapapun yang berpapasan dengannya hingga mereka mereka membungkuk 90 derajat tanpa berani melihatnya, hunian sangat layak dengan tirai-tirai emas dan lampu kristal yang menggantung sempurna, pendidikan teramat layak, makanan kelas dunia yang selalu tersaji tanpa jeda di meja makannya, mainan yang tidak terhitung jumlahnya hingga dirinya tidak bisa memainkan semua itu—Kai tidak pernah memintanya.  Semua datang begitu saja, semua ada di sekelilingnya begitu saja.  Entah hal itu dibutuhkannya atau tidak, entah hal itu diinginkannya atau tidak, semua hal selalu ada disisi Kai tanpa sekalipun pria itu pernah ditanya apa kau suka?  Apa kau ingin?  Apa kau menerima pemberian ini?  Apa kau akan menyimpan ini?  sama sekali, tidak pernah sama sekali Kai diberikan pertanyaan macam itu.

Lahir sebagai anak tunggal dari keluarga kaya dengan kekuasaan mereka pada elektronik, tambang, dan transportasi yang kemudian menjadikan keluarga Kim sebagai keluarga terkaya di Korea Selatan, maupun jajaran seluruh Asia, menjadikan keluarga itu sudah cukup dikenal, disegani, dan tentu dihormati.  Nyonya Kim bahkan pernah menduduki kursi Mentri Pendidikan selama 2 periode berturut-turut hingga akhirnya mengundurkan diri demi merawat putranya yang mulai ia sadari—Kai perlu dirinya meski tidak pernah mengatakan itu semua.

 

“Kenapa?”  Kala itu Kai bertanya demikian saat seluruh barang eommanya yang ia ketahui ada dalam ruang luas dengan pengamanan tingkat satu mulai diangkut seluruhnya ke salah satu ruang kosong rumahnya yang kemudian menjadi ruang kerja eommanya hingga saat ini.

Anak itu, Kai kecil kebingungan—kenapa eommanya membawa semua pekerjaannya ke rumah?  Apakah ada yang salah hingga eommanya tidak lagi menghabiskan tiap waktunya di luar?  Apakah dirinya melakukan salah hingga eommanya pulang dengan semua bendanya?

Belum juga Kai menanyakan pikiran akhirnya, Nyonya Kim lebih dulu membelai kepala anaknya dan berkata sambil tersenyum, “Eomma ingin seperti eomma-eomma lain yang mengantar jemput anaknya ke sekolah, eomma ingin seperti eomma-eomma lain yang bermain sepanjang waktu dengan anaknya.”

Kai mengerutkan keningnya.  Titik-titik keringat pada keningnya sebab bermain bola tadi sudah eommanya bersihkan, dan untuk pertama kalinya setelah 12 tahun hidupnya tanpa permintaan—anak itu menyatakan permintaannya.  “Bisakah appa juga tinggal di rumah dan tidak pergi lagi?”

Nyonya Kim menggeleng, tentu tidak mungkin bagi suaminya untuk tetap tinggal di rumah seperti ia dan melepas semua tanggung jawabnya.  Bukan hanya keluarganya yang rugi, namun juga banyak orang.  “Tidak bisa.  Appa harus bekerja, nanti saat Jong In sudah dewasa, Jong In juga akan bekerja seperti appa.”

Bekerja seperti appa?  Jarang pulang, jarang bersama, jarang tertawa, jarang memeluk?  Apakah dirinya juga akan menjadi seperti appanya kelak saat dewasa?  Tidak pernah bermain bersama anaknya, tidak pernah bercanda dengan istrinya, tidak memiliki teman?  Akankah dirinya seperti itu nanti?  Tidak, Kai tidak mau seperti appanya dan meski Nyonya Kim tidak mengerti arti gelengan putranya disertai mimik wajah berpikir keras, wanita itu tetap saja tersenyum sambil mengusap puncuk kepala Kai.

Maka, mulai saat itu, meski Kai tidak menolak sedikitpun perilaku sama yang dirinya terima, pendidikan sama untuk mempersiapkannya menjadi pewaris, hatinya sudah mulai berubah.  Dirinya tidak ingin menjadi seperti appanya, namun tidak tahu bagaimana menghindari itu semua.  meminta untuk menghentikan semua yang diterimanya, Kai takut.  Sejak kecil dirinya tidak pernah meminta apapun dan permintaan pertamanya beberapa waktu langsung ditolak, tidak dikabulkan.  Membuatnya berpikir, jika aku meminta namun tidak mendapatkannya, mungkin sebab itu aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk meminta.  Sebab, permintaanku pasti akan ditolak.  Maka sejak saat itu Kai menutup rapat bibirnya, tidak lagi meminta sesuatu hal dan menurut serta menerima apapun yang ada dihadapannya.  Toh—dirinya memang tidak memiliki permintaan lagi.

Namun, saat usianya menginjak 17 tahun, saat eommanya baru saja menjemput ia dari sekolah bisnis yang mulai dimasukinya diluar jam sekolah—gadis dengan rambut panjang sepunggung yang bergelombang dan tertiup angin, gadis yang berjalan santai dengan temannya bersama permen lolipop berwarna biru di sebelah tangannya, gadis yang berjalan dengan kaki panjangnya di trotoar tanpa ingin mengendarai satu kendaraanpun, saat itu—Kai mulai dipenuhi oleh banyak permintaan yang bisa tidak bisa harus bisa, mau tidak mau harus mau, dan mungkin tidak mungkin harus mungkin.

Kai tahu hidupnya akan mulai bermasalah sejak hari itu karena mulai memaksakan keinginannya.  Kai tahu pula bahwa dirinya akan lepas dari segala kenyamanan yang orang tuanya bangun selama ini untuknya andai tetap memaksakan keinginannya.  Namun, Kai yang terbiasa mendapatkan apapun sebelum meminta dan hampir tidak pernah meminta apapun, memegang erat keinginan keduanya ini dan tidak ingin tidak terkabul seperti sebelumnya.

 

 

 

***

Sejujurnya, Kai hampir tidak pernah meminta apapun dalam hidupnya—sedikitpun hampir tidak pernah.  Sejak dirinya menghirup udara untuk pertama kalinya, sejak kulit tangannya merasakan sentuhan pertamanya, sejak matanya terbuka untuk pertama kalinya, sejak suara tangisnya terdengar untuk pertama kalinya, sejak gigi susunya tumbuh untuk pertama kalinya, sejak kaki mungilnya mulai melangkah untuk pertama kalinya, hingga saat dirinya menuju sekolah dengan mengendarai lamborghini keluaran terbaru dan sambutan gadis-gadis sekolah yang begitu berlebihan terjadi, Kai masih tidak memiliki permintaan.  Bahkan ketika eommanya belum memeluk, mencium, dan mengantarnya ke sekolah seperti teman-teman lainnya, bahkan ketika appanya jarang sekali ia temui dan tidak bisa ia ajak bermain bola seperti yang teman-temannya lakukan, bahkan ketika semua orang selalu memperhatikan dan memperlakukannya bagai pewaris yang sebenarnya ia tidak suka—Kai masih belum berontak dan memiliki permintaan.

Namun saat gadis bermata coklat cerah dan bibir penuh yang selalu tertawa hadir dalam pandangannya tanpa sengaja, gadis dengan wajah dingin dan tidak bersahabat yang menyapanya, gadis dengan perkataan-perkataan tidak suka yang baru kali itu didengarnya, gadis dengan sikap tidak menganggapnya Raja seperti orang lain, entah bagaimana Kai mulai memiliki keinginan yang tidak bisa dibantah oleh siapapun tentangnya.

Kai, pria yang saat itu baru berumur belasan tahun. Tiba-tiba berkata bahwa ia hanya ingin hidup bersama gadis yang kemudian diketahui bahwa namanya adalah Song Hee Jung.  Kai, hanya ingin memiliki satu-satunya gadis berwajah masam yang selalu terlempar untuknya tanpa peduli itu.  Kai, hanya ingin berdekatan dengan gadis yang selalu memberinya masalah untuk pertama kalinya bahkan sejak akhir itu.

Kai, yang hidupnya menginjak usia 17 tahun dengan hanya satu permintaan yang pernah terucap—kembali meminta kali ini, memastikan bahwa permintaannya terkabul sebab waktu 17 tahunnya yang tidak pernah benar-benar sesuai keinginannya.  Kai meminta untuk memiliki Clara selamanya.  Kai meminta untuk hidup bersama Clara hingga akhir nafasnya, Kai meminta untuk bersama Clara selamanya, Kai bahkan meminta dua pasang bayi tampan dan cantik yang memiliki darahnya dan darah Clara, yang memiliki sepasang mata tajam Clara ataupun matanya yang banyak menggoda lawan jenis, yang memiliki hidungnya ataupun hidung kecil Clara, yang memiliki bibir tebal mereka berdua entah milik siapa yang dimiliki, yang memiliki kulit putih pucat Clara ataupun kulit gelapnya, yang memiliki rambut berwarna coklat bergelombang seperti milik Clara ataupun rambut hitam lurus seperti miliknya, yang memiliki bagian antara dirinya dan Clara, dan yang memiliki segala sesuatu hal tentangnya dan tentang Clara.

Namun tentu, untuk saat ini satu saja yang Kai inginkan, yaitu Clara.

 

“Aku akan melakukan keinginanku sebab keiginan appamu sudah aku lakukan.  Aku ingin kita bercerai.  Sekarang juga.”

Ucapan lantang Kai tanpa satupun keraguan sampai pada tiap pasang telinga dalam ruang tengah kediaman Kim yang banyak dihiasi oleh benda-benda maupun hal berbau warna emas—mewah.  Pria itu jelas menatap Ji Eun tajam dan tanpa perlu ditanyakan, perkataannya tadi juga jelas-jelas tertuju untuk Ji Eun.

Emosi Kai tampak—menguar dari sorot matanya yang tajam dan mengintimidasi.  Pria itu menunjukkan posisinya, posisi seorang pewaris yang hanya pernah mendapat satu penolakan ketika berusia 12 tahun.

Tidak ada yang dapat menolak Kai, tidak Ji Eun yang berada dalam posisi tidak nyaman, ataupun Nyonya Kim yang sudah tentu tidak bisa menolak putranya dalam keadaan macam ini apalagi—mana ada eomma yang tega melihat anaknya semenyedihkan sebulan kemarin?

 

Clara menelan ludahnya, wanita itu tertunduk pilu bersama Ji Eun hingga gigirnya mengerat dan mengeluarkan bunyi tidak biasa.  “Hentikan.  Kim Jong In.”  Putus Clara, penuh penekanan.  Melepas satu-satunya kontak fisiknya bersama Kai yang pada hentakan pertama langsung berakhir, Clara memundurkan langkahnya hingga agak menjauh dari sosok yang harusnya—sudah sejak awal tidak ia terima kehadirannya.

Nyonya Kim terhenyak, melihat Clara dan putranya bergantian dengan raut khawatir yang sudah jelas ia tujukan pada wajah memucat anaknya.

Ingatan wanita paruh baya itu menguat.  Masih dirinya ingat betul bagaimana saat pertama kali Kai bagai orang gila sebab Clara.  Mengikuti wanita itu kemanapun tanpa peduli, mengabaikan segala hal disekitarnya hanya untuk melihat Clara yang bahkan bersikap baik padanya tidak.  Melepas jubah kenyamannya sejak lahir agar bisa bersama Clara, membuat dirinya yang awalnya menentang tidak memiliki pilihan selain setuju, dan membantu putranya.

Kini, saat Clara menghilang sebulan terakhir—suara kuburan sudah menyapa kediamannya meski pada hari-hari sebelumnya tidak ramai.  Kebisuan Kai, diamnya anak itu, susahnya Kai mencari Clara kemanapun yang terhalang kamera wartawan, dan sedihnya ia.  Nyonya Kim hanya ingin anaknya bahagia.  Hanya ingin putra tunggalnya ini melakukan apapun yang diinginkan sebagaimana 8 tahun ini hingga tawanya kembali.  Tanpa Clara?  Kebahagiaan Kai adalah tidak mungkin.

Sayangnya, pikiran macam itu tidak masuk dalam kepala kecil Clara.  Wanita itu meremas jacket hitam yang Kai sampirkan padanya tadi saking protektifnya, melepas jacket berbahan kulit dengan logo lingkaran dengan wajah medusa yang berwarna keemasan di dalamnya, Clara ulurkan tangannya dengan jacket milik Kai yang sudah dipegangnya seolah menyerahkan jacket mahal itu pada pemiliknya.

“Ambil.”  Perintah Clara dingin, ekspresi yang hanya Kai lihat dalam sesi pemotretan dengan tema menyeramkan ataupun dalam beberapa film yang Clara bintangi sebagai peran antagonis.

Kai menggeleng, matanya memerah dan tubuhnya melemas.  Bertahun-tahun dirinya bersama Clara dan ia tahu apa arti pandangan sedih dengan ekspresi kuat macam itu.

 

Katakanlah Clara begitu acuh hingga pernah membiarkannya hampir mati kedinginan saat meminta dibelikan makanan di daerah Apgujong pada pukul 2 dini hari.  Atau katakan juga bahwa Clara tidak memiliki hati sebab membiarkannya berjalan dari gangnam ke apartment mereka tanpa satupun uang atau kendaraan yang telah dibawanya lebih dulu saat hati wanita itu sedang tidak dalam keadaan baik.  Katakan juga bahwa Clara kejam sebab tidak mau mengakui hubungan mereka didepan publik dan tetap bermain kucing-kucingan selama beberapa tahun ini.  Katakan juga bahwa Clara begitu menakutkan sebab bisa-bisanya menyebut suka pada pria lain dalam satu acara dimana ada Kai disana.  Namun, sekejam-kejamnya wanita ini… menjadi orang ketiga, apalagi dalam pernikahan—siapapun yang tahu kisahnya, tidak akan terkejut jika kemudian Clara menolak meski hatinya perih untuk itu.

“Kim Jong In.  Ambil kubilang!”

“Kau tetap serahkan jacket itu dan pergi, maka besok kau akan membaca kabar kematianku.”

 

“Hhh?!”  Clara mendengus dengan wajah berpaling seolah jengah.  Terlalu sering Kai mengucapkan kata-kata macam itu, jika kau masih bermain dengan aktor itu kau akan melihatku mati besok.  Jika kau masih tidak menurutiku untuk berganti baju dengan yang lebih tertutup kau akan melihatku mati besok.  Jika kau tidak mau mengakuiku sebagai kekasihmu aku akan mati besok.  Jika kau tidak mau menikah denganku aku akan mati besok.  “Mati saja.”  Clara berucap, begitu nyinyir dan tidak peduli.  Jacket dalam genggamannya yang berusaha disodorkan pada Kai namun tidak juga pria itu terima—dihempaskannya ke lantai begitu saja.  Tidak peduli pada bagaimana kacaunya Kai, terkejutnya Ji Eun, dan histerisnya Nyonya Kim sebab baru kali ini mendengar putranya berkata kematian dan lawan bicaranya yang bisa hentikan itu semua justru tidak peduli.

“Hee Jung-ssi…………”  Panggil Nyonya Kim secepat yang dirinya tahu, berlari ke arah Clara dan mengapit lengan kurus yang dulunya selalu mengapit lengannya balik bagai ibu-anak.

 

Kai tersenyum kecil, matanya berair dengan keadaan didepannya yang menampakkan eommanya tengah meminta agar Clara tidak pergi kemudian dihadiahi rasa tidak peduli wanita itu.  Hee Jung-ssi, memori Kai menguar—pada keadaan 8 tahun silam, saat ia akhirnya berhasil mendapatkan nama anak itu yang justru berbuah rengutan panjang selama beberapa minggu.

Jangan panggil aku Hee Jung.  Panggil aku Clara.  Kelak aku akan menjadi artis terkenal yang dihormati, dipuja, dan dicintai semua orang.  Apa kau tahu arti nama Clara?”  Kai menggeleng—tentu.  Bocah berusia 17 tahun itu lebih suka mendengar penjelasan Clara dengan suara jernihnya dibanding mendengar suaranya sendiri.  “Dalam bahasa latin, Clara artinya terang dan terkenal.  Penyanyi abad 20 yang bernama Dame Clara Butt dan artis film bisu Clara Bow yang hidup di awal 1900-an memiliki nama Clara dan mereka sangat terkenal hingga disebut ‘the it girl’ karena apapun yang mereka inginkan, pasti akan mereka miliki.

Dan kau berpikir bahwa dengan nama Clara kau pasti akan mendapatkan apapun yang kau inginkan?”  Kai tampak mengejek, meski dalam pikirannya tidak begitu—namun dalam pikiran gadis kecil yang bahkan tidak seberuntung hidup Kai, jelas ungkapan itu bernada mengejek dan tidak percaya dengan apa yang hatinya percayai.

Aku membencimu anak hitam!”  Begitu ucap Clara saat itu.  Kata-kata terkasar pertama yang pernah Kai dengar namun tidak mengurangi sedikitpun sukanya pada Clara.

Kai tetap membuntuti gadis itu, mengekorinya kemanapun tanpa peduli teriakan bencinya yang semakin menjadi, dan tetap memaksakan keinginan hingga akhirnya Clara menyambutnya dengan baik setelah usaha bergulung-gulungnya di tanah berlumpur dan jungkir balik berkali-kali yang membuat tulangnya terasa hampir patah—baru Clara lupakan kalimat pertama Kai padanya yang menyinggung.

 

 

 

“Kau memang tidak pernah peduli padaku kan?”  Kai mendengus bersama getar suaranya yang tidak bisa disembunyikan—menolehkan pandangan dua wanita hadapannya yang sejak tadi saling bersikeras dengan keinginannya—pada ia, satu-satunya pria dalam ruangan itu yang terluka.  “Sekali saja, apa pernah kau peduli padaku Clara-ya?  Apa pernah kau peduli pada pria yang merelakan segala kenyamanannya hingga kemudian hidup menyedihkan bersamamu?  Pernahkah kau peduli padaku yang bahkan melepas semua tanggung jawabku dan semua keharusan yang aku tanggung demi masa depan keluargaku hanya untukmu?  Pernahkah kau peduli pada pria yang bahkan hampir tidak pernah menyentuh benda kotor kemudian menjadi seorang tukang cuci piring di sebuah kedai kecil?  Apa pernah kau peduli pada pria yang merelakan pendidikan nyamannya untuk kemudian bersekolah di tempat kumuh, biasa, tidak pantas, tidak layak, dan sama sekali tidak nyaman hanya untukmu?   Apa pernah, kau peduli padaku yang rela menjadi pelayan cafe murahan demi bisa dekat denganmu?  Apa pernah, kau peduli padaku yang rela berjalan kaki tanpa satupun bantuan sementara aku bisa saja melakukan itu.  Apa pernah, kau peduli pada pria ini yang banyak membuang kesempatan emasnya hanya demi dirimu?  APA PERNAH—.”

“Pernah!”  Sela Clara ketika intonasi Kai mulai meninggi.  Menatap pria yang hingga kini bahkan sejak dulu dicintainya, Clara membalik tubuhnya untuk lebih leluasa memandang pria yang banyak mengeluh dan meminta hari ini.  “Aku pernah peduli saat sebulan lalu kau bersikap aneh dan ternyata bersama wanita itu.  Aku pernah peduli saat kau yang bahkan tidak bisa lakukan apapun tetap memaksakan diri untuk bekerja.  Aku pernah peduli dengan nama baikmu karena itu aku selalu menolakmu, entah untuk menjadi kekasih ataupun menikah.  Aku peduli, aku peduli padamu yang bahkan tidak bisa kau lihat itu.  Status kita terlalu jauh meski eomma sudah menikah dengan seorang kaya dari Jepang, status kita terlalu jauh hingga aku tidak mungkin bisa mengejarmu meski aku jual seluruh jiwaku pada iblis.”

“Apa kita sedang bicarakan uang?”

“Lalu kita mau bicarakan apa?  Lukamu?  Sedihmu?  Lalu bagaimana denganku?  Sedihku, lukaku, sakitku?  Bagaimana dengan semua itu?  Bagaimana aku bisa lupakan apa yang sudah kau lakukan bersama wanita itu?  Kau ingin bicarakan ketidak pedulianku?  Lalu bagaimana dengan kepedulianmu?  Bagaimana dengan ketidak pedulianmu saat aku bilang bahwa akan sulit bagi kita bersama dan kau masih tetap tidak peduli.  Bagaimana dengan ketidakpedulianmu saat aku tidak pernah memintamu hidup susah dan kini kau mengungkitnya seolah itu adalah salahku.  Apa aku pernah memintamu untuk pindah ke sekolah sangat biasaku?  Apa aku pernah memintamu menjadi pelayan?  Apa aku pernah memintamu untuk membantah keinginan kedua orang tuamu?  Apa pernah?”

“Cukup!”

“Apanya yang cukup?!”

“Aku mengajakmu kemari bukan untuk memutar kata dan menunjukkan pertengkaran kita dihadapan semua orang.”

“Lalu apa tujuanmu dengan mengajakku kemari.  Mempermalukanku dihadapan istrimu?”

“Apa?”  Desis Kai tidak percaya.  “Kau masih mabuk?  Bicaramu tidak terarah sejak tadi.”

“Ya.  Aku memang masih mabuk.  Kepalaku masih pusing dan dengan seenaknya kau bawa aku kemari, membawaku kehadapan istrimu dengan keadaan macam ini!”

“Apa kau tidak dengar apa yang tadi aku katakan?  Aku menceraikannya!  Demi dirimu!”

“Apa aku pernah minta itu?”

“Kau tidak ingin kita bersama?”

“Tidak!  Aku tidak mau kita bersama!”

“Bohong!”

“Apanya yang bohong?”  Sungut Clara cepat.  “Aku memang tidak mau kembali padamu.  Apa kau pikir aku mau kembali setelah apa yang kau lakukan dibelakangku?”

“Aku tidak melakukan apapun bersamanya!”

“Jadi ciuman itu bukan apa-apa?  Menggerayangi tubuhnya itu juga bukan apa-apa?  Bahkan menikah juga bukan apa-apa?”

“Cukup Clara!”

“Apanya yang cu—aaaa,  akh— aa—”

“Kenapa?  Ada apa?”  Tanya Kai khawatir segera mendekati Clara yang sudah terduduk kesakitan memegang perutnya dengan dua tangan.

“Sa—kit.”

“Apanya?!”  Tanya Kai gusar ikut menyentuh perut wanitanya bingung dan tubuh Clara yang kemudian tergeletak begitu saja dengan mata terpejam membuat pria itu histeris hingga hampir gila.  “Clara!  CLARA….. YA SONG CLARA!  CLARA BUKA MATAMU!  EOMMA……… eomma CLARA KENAPA!  CLARA!”  Teriak Kai hingga urat lehernya tampak mendapati keadaan Clara saat ini.  Kai peluk tubuh Clara erat, menepuk pipi pucatnya beberapa kali hingga memerah dengan harapan agar wanitanya kembali sadar, namun katupan mata Clara seolah enggan terbuka makin mengacaukan pria yang makin memeluknya erat untuk kemudian berlari terburu untuk kemudian menggendongnya menuju mobil.

Kai menyesal meski tidak tahu kenapa Clara bisa begini.   Nyonya Kim yang mengikuti langkah putranya sambil menangis tersedu entah untuk siapa—apakah untuk putranya yang akan berbuat konyol andai terjadi hal buruk pada Clara, atau memang untuk Clara saking wanita itu sudah menganggapnya bagai anak sendiri.

 

 

Ji Eun mengeryit, gadis itu ikut terkejut dan tidak menyangka dengan keadaan yang terjadi hingga membekap mulutnya sendiri.  Pertengkaran menyedihkan sepasang mantan kekasih yang saling mencinta, dan dirinyalah yang membuat mereka dalam keadaan macam itu.  Kini salah satunya terpejam tidak berdaya dan entah sebabnya apa—namun Ji Eun yakin, bahwa semua itu tidak akan terjadi andai ia tidak memaksakan diri hadir diantara mereka.  Ji Eun sadar siapa dirinya dan bagaimana posisinya bahkan sejak lama dan ini memperjelas meski harusnya tidak perlu.  Wanita itu menarik nafas panjang seolah melegakan dirinya sendiri.  Seulas senyumnya tertarik, tahu ia apa yang harus dilakukan.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Kai tahu bahwa Clara gila, Kai tahu bahwa Clara adalah wanita yang begitu nekat saat sudah menginginkan sesuatu.  Kai bahkan tahu, bagaimana kerasnya Clara dan bagaimana bodohnya wanita yang dicintainya ini hingga tidak memiliki pilihan selain menjadi artis dengan memanfaatkan satu-satunya hal menonjol dalam dirinya—kecantikan.

Clara cantik, sangat amat cantik bahkan.  Dimata Kai, dimata keluarganya, temannya-temannya, bahkan dimata setiap pasang yang melihatnya, Clara adalah wanita cantik yang berhasil menutupi segala kekurangannya dengan itu.  Clara tidak melakukan apapun pada wajahnya, jikapun harus—sapuan make up tipis juga pewarna bibir cerah sudah lebih dari sempurna untuk Kai.

Tapi diluar semua itu, diluar betapa bodoh, berani, nekat, dan cantiknya ia—Kai sama sekali tidak menyangka bahwa Clara akan sejahat ini.  Padanya, pada dirinya sendiri, dan pada janin yang sudah pasti miliknya.

 

 

“Mmmh…”  Clara menggeliat, keningnya berkerut dan sedikit demi sedikit tubuhnya mulai bergerak.  Kiranya, sakit yang Clara rasa 2 hari lalu masih terasa dan karena itu gerakannya terhenti juga rintihan sakitnya makin terdengar.

Kai yang berdiri tepat disamping Clara seperti bagaimana 2 hari ini tidak pernah meniggalkan tubuh wanita itu barang sedikitpun, menajamkan pandangannya pada sosok yang entah harus tetap dicintainya atau dibencinya.  Kiranya toleransi dan segala kesabaran Kai pada Clara lenyap, atau berusaha pria itu lenyapkan.  Keterkejutannya pada apa yang terjadi, meski sebenarnya tidak terlalu berpengaruh pada cinta yang sudah mendalam—sedikit banyak mempengaruhi isi kepala Kai.

Clara terus mengerang pelan, matanya sedikit terbuka sebelum akhirnya benar-benar terbuka.

“Aku pikir kau akan mati bersama anak kita seperti yang kau inginkan.  Tapi coba lihat?  Aku yang menang dan kau yang kalah.”

“Jong In-ah!”  Ucapan pelan namun tegas Nyonya Kim yang langsung terdengar membuat Kai mendengus.  Kekesalan pria itu belum sepenuhnya menghilang dan eommanya yang baru tiba untuk melihat bagaimana keadaan Clara segera menarik putranya agak menjauh hingga dokter yang baru saja datang bisa memeriksa kondisi terbaru Clara.

 

 

“Jaga bicaramu.”  Tegur Nyonya Kim setengah berbisik dan Kai kembali mendengus.  Pria itu bertahan dengan wajah masam dan kemarahannya yang belum sekalipun dilepaskan.  “Ingat kata dokter kemarin lusa?”

“Iya, iya.”  Kai menjawab malas.  Melihat kembali Clara didepannya yang masih diperiksa seorang dokter.

 

 

 

Clara mengernyit.  Indranya masihlah belum terlalu baik untuk menangkap sesuatu hal apalagi ucapan Kai tadi, juga menyadari keadaan dan keberadannya saat ini.  Antara bingung, lemah, sakit, dan tidak tahu harus bagaimana…. Clara diam saja dan berusaha memahami apa yang pria hadapannya, yang diayakininya seorang dokter lakukan pada dirinya.

“Hee Jung-ssi, anda bisa mengangguk jika mendengar saya.  Apakah anda mendengar perkataan saya?”  Dokter itu bertanya, setelah melepas beberapa alat dingin yang tadi menyentuh kulit tubuh Clara.

Masih dengan sedikit mengeryit tidak mengerti, Clara mengangguk  hingga Dokter disampingnya tersenyum lega dan menoleh pada dua orang lain dalam ruang itu yang berdiri agak jauh dan mengangguk seperti Clara, mempersilahkan mereka untuk mendekat

“Jo—Jong… In?  Jong In-ah?”

“A~, kau mengingat siapa aku?”  Sambut Kai lebih dari sindiran sinis pada Clara yang menyebut namanya untuk pertama kali setelah bangun dari koma 2 hari ini.  Melenyapkan kata cintanya yang selalu terucap bertahun-tahun kemarin, pria itu meninggikan sebelas alisnya dengan bibir bergetar marah.

“Kendalikan dirimu!”  Tegas Nyonya Kim sekali lagi, melirik Kai tajam dan sekali lagi pria itu membuang muka.

Clara merengut, masih belum terlalu mengerti dengan keadaan apa yang kini dihadapinya dan seseorang yang sejak tadi di sisinya dengan pakaian serba putih mulai mundur untuk berbicara sesuatu hal dengan Kai yang sama sekali tidak Clara tahu ataupun dengar.

Selagi pria berpakaian putih yang Clara yakini adalah dokter, juga ruang putih tempatnya berada ini adalah salah satu kamar rumah sakit, Nyonya Kim yang terakhir kali ia lihat menangis sambil memegang tangannya—kini mendekat, dengan mata berbinar dan senyum lebar.

“Bagaimana keadaanmu nak?”  Wanita paruh baya itu bertanya, begitu halus dan lembut.  Berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu dimana tiap katanya begitu menyakitkan dan sinis, ataupun dengan keadaan terakhirnya dimana wanita itu memelas dan memohon padanya.  “Kau bisa mendengarku?”

“Nde…”  Jawab Clara parau.  Lehernya terasa ditusuk tiap mengeluarkan kata per kata dan ia tidak ingin mengatakan apapun lagi sebelum keadaan lehernya membaik.

Nyonya Kim kembali tersenyum—makin lebar dan tenang sementara pandangannya jelas terkunci untuk Clara dan belaian tangan halusnya sampai di kening Clara.  Menatap wanita yang kini tengah terbaring di ranjang rumah sakit sayang.  “Bagaimana perasaanmu?  Kau masih merasa kesakitan?”

Clara mengangguk heran, antara tidak mau mengeluarkan suaranya sebab lehernya yang katanya seperti ditusuk-tusuk jika mengucapkan sesuatu, juga bingung dengan keadaan macam apa yang kini tengah dihadapinya hingga semua orang khawatir sekaligus menampakkan kemarahan padanya macam ini.

“Aku ingin bertanya sesuatu.  Maukah kau menjawabnya dengan jujur?”

Clara kembali merengut, ada apa?  “Nde.”  Jawabnya sedikit memaksa suaranya kembali terdengar melihat orang-orang disekitarnya yang tampak melakukan semua hal dengan serius.  “Apakah ada masalah?”

“Kau tahu bahwa dirimu sedang mengandung?”  Tanya Nyonya Kim.  Menyentak Clara saat itu juga hingga matanya terbuka selebar-lebarnya dan wajahnya makin memucat seolah tidak ada setetes darahpun yang mengalirinya.  “Hee Jung-ah?”  Panggil Nyonya Kim, meminta jawaban dari Clara tidak sabar, dan kedua tangan putih Clara yang tadinya berada diranjang mulai bergerak menyentuh perut ratanya, masih dengan pandangan membulatnya dan ketakutan.

“Janin itu masih disini?”  Tanya Clara bergetar, menggelengkan pelan kepala Nyonya Kim dengan pertanyaan balik Clara yang membuatnya menerima 2 jawaban sekaligus.

“Jadi kau tahu?  Dan sengaja menggugurkannya?”

 

 

 

“Eomma keluarlah.  Aku yang akan selesaikan ini.”  Kai menginterupsi, berjalan mendekat setelah dokter yang tadi diajaknya berbicara pamit dan pandangan tajam pria itu yang berhadapan langsung dengan Clara menciutkan hati wanita yang entah harus dipanggilnya penyihir jahat atau apa.  “Keluarlah eomma.”  Ujar Kai lagi membawakan tas eommanya dan membantu wanita itu untuk keluar saking shock-nya dengan jawaban Clara tadi.

Clara menelan ludahnya, membasahi kerongkongan keringnya agar kembali berfungsi seperti semula sebab Kai tidak akan membiarkannya diam saja seperti saat pertama atau terakhir kalinya mereka bertengkar beberapa bulan lalu.

“Jangan terlalu menekan ataupun keras.  Kau sudah janji.”  Ingat Nyonya Kim sebelum putranya itu menutup pintu kamar Clara dihadapannya hingga ia berakhir hanya dengan melihat mereka tanpa bisa masuk untuk ikut berbicara.

Masih dengan sorot tajam yang mampu menjatuhkan siapapun termasuk Clara, wanita yang tadinya begitu Kai takuti itu kini sudah memalingkan wajah pucat sebagaimana pucatnya wajah Kai saat tahu kebenarannya tentang keadaan Clara.  Mengindari Kai, andai bisa dan mampu—Clara sudah melakukannya sejak tadi.  Sayang, menggerakkan sedikit tubuhnya saja ia merasa kesakitan dan pasrah saja akhirnya wanita itu.  Mungkin Kai akan membencinya seperti yang dirinya inginkan dulu, mungkin pula Kai akan jijik dan tidak mau memandangnya lagi setelah ini.  Tapi siapa yang peduli?  Itu bahkan lebih baik dibanding didatangi oleh pria beristri tiap waktunya.

 

Tarikan berat kursi yang tadinya menjadi tempat Nyonya Kim duduk, terdengar bergesekan dengan lantai dan berganti Tuan dengan Kai diatasnya.  Pria itu, wajahnya sudah memerah dan siap untuk meledak andai ia tidak ingat bagaimana keadaan Clara saat ini ataupun janjinya pada eommanya.

“Song Hee Jung.  Lihat aku.”

Pejaman mata paksa Clara tampak.  Wanita itu cukup paham bahwa saat seseorang memanggil nama lengkapnya, maka dirinya sudah harus siap mendapat segala amarahnya.  Dengan tolehan enggan dan pelan, dengan terpaksa—Clara menoleh.  Membuka matanya dengan segala keberanian tersisa untuk menantang Kai tanpa mau memunculkan sikap menyesal ataupun salahnya.

“Apa?”  Tanya wanita itu—enteng, seolah tidak pernah lakukan salah dan harusnya tidak Clara lakukan itu jika tujuannya agar Kai tidak marah padanya atau untuk menunjukkan aku masih boss—nya disini.

“Kau tidak waras.”  Sindir Kai penuh emosi bersama riak sedihnya yang menghimpit, menatap Clara lurus yang juga membalas pandangannya.  “Bagaimana bisa kau sejahat itu dengan sengaja menggugurkan anak kita?  Jika kau marah padaku, marahlah padaku.  Tapi melukai anak kita?  Bayi kita?  Bahkan tidak mengatakannya padaku?  Bagaimana bisa kau sekejam itu?”

Clara tergelak sinis, memutar matanya sebelum kembali berpandangan dengan Kai.  “Ini bukan anakmu.  Ini anakku dengan pria lain.  Sudahlah.  Untuk apa sih kau disini?  Pergi ke istrimu sana, jangan urusi aku lagi.  Kita sudah beda jalan.”

“Hentikan.”  Sela Kai bergetar dan berdiri, tampak menahan marahnya sejak 2 hari ini yang tidak kunjung mereda, pria itu tundukkan kepalanya.  Mempertahankan pandangan tajamnya pada Clara.  “Jika kau berpikir bahwa dengan meminum obat-obatan itu ditambah alkohol dalam jumlah banyak demi melenyapkan anakku, maka kau salah.  Harusnya kau lihat aku dan harusnya sudah bisa kau bayangkan bagaimana nantinya anak-anakku.  Entah kau akan mengumpat atau apa, tapi anakku masih tidur tenang dalam perutmu tidak peduli apa yang kau lakukan.  Dengarkan aku dan ingat kata-kataku, sekali lagi kau lakukan apa yang sebulan ini kau lakukan…. demi Tuhan, tidak peduli aku mencintaimu dan menangis karenamu, kau akan lebih menyesal dan sakit dibanding diriku Song Hee Jung!”

“Jadi begini sifatmu yang asli?  Mengancam?”

“Lalu begitukah sikapmu yang asli?  Membunuh darah dagingmu sendiri?”

“Jika iya, bagaimana?  Aku adalah seorang pembunuh berhati dingin.  Lalu bagaimana?”

“Hentikan kubilang!”

“Kau yang berhenti!” Bentak Clara melempar guling di sisinya pada Kai yang masih bertahan dengan kemarahannya.  “Berhenti mempermainkanku!  Untuk apa kau kemari bersama status suami dari seorang Hwang Ji Eun?  Untuk apa kau kemari jika hanya untuk menunjukkan kepedulianmu padaku yang telah kau buang?  Untuk apa kau kemari jika hanya untuk sebuah rasa kasihan?!  Untuk apa kau kemari dan membuatku tampak bagai wanita penggoda suami orang huh?  UNTUK APA!”

“DEMI TUHAN CLARA!”  Teriak Kai, meremas kedua pundak kurus Clara dan dekatnya wajah mereka, pandangan tajam keduanya yang sama sekali tidak mau mengalah, deru nafas memburu Kai, meskipun menciutkan hati Clara, namun toh wanita itu tidak mau mundur dari sikapnya.  “BISAKAH KAU HENTIKAN SEMUA PIKIRAN TIDAK MASUK AKAL ITU?!”

“Apanya yang tidak masuk akal?  Bukankah aku benar bahwa kau adalah suami jalang itu?  bukankah aku benar bahwa kau meninggalkanku?!”

“AKU TIDAK MENINGGALKANMU!  AKU JUGA TIDAK AKAN MENIKAH DENGANNYA ANDAI SEBULAN INI KAU TIDAK MENGHILANG!”

“PEMBOHONG! KAU MENINGGALKANKU!”

“TIDAK!  AKU BILANG TIDAK!  AKU TIDAK PERNAH MENINGGALKANMU!”

“LALU INI APA?  MENIKAHI WANITA ITU!”

“HENTIKAN KUBILANG!”  Teriak Kai menjadi, mengguncang tubuh Clara berkali-kali agar wanita itu mendengar dan mengerti tentangnya.  Menatap Clara nyalang, pria itu benar-benar marah kali ini untuk semua yang terjadi diantara mereka.  Sesuatu yang tidak harusnya begini.

 

“Kim Jong In!” Nyonya Kim membentak, membuka pintu kamar Clara dengan terpaksa sebab emosi Kai dan langkah cepatnya berikut pukulan pada pundak Kai—tampak.  “Sudah eomma bilang untuk menahan emosimu kan?”

“Dia bahkan tidak mau mengerti dan sama sekali tidak menyesal!  Apa aku masih harus menahan marahku?”

“Menahan marahmu?”  Clara berucap sinis.  Melirik Kai sebenci ketika pertama kali mereka bertemu dan Kai tidak siap menerima pandangan macam itu lagi meski hatinya dipenuhi kemarahan juga.  “Kau menahan marahmu?  Lalu bagaimana dengan marahku?  Tidakkah kau pikirkan?  Tidakkah kau tanyakan kenapa aku ingin janin ini lenyap?  Tidakkah kau khawatirkan aku Kim Jong In?”

“Kau egois Clara.  Kau hanya memikirkan dirimu sendiri.”

“Lalu aku harus bagaimana?  Aku tidak mau jadi perusak hubungan orang seperti wanita yang mengambil appa dari eomma.  Aku tidak mau memiliki anak bersama suami orang lain.  Aku tidak mau menjadi wanita menjijikkan seperti wanita yang membuat eommaku menangis sepanjang waktu.  Dan kau bilang aku egois?  Lalu bagaimana denganmu?  Tidakkah kau egois dengan meninggalkanku untuk bersenang-senang dengan wanita itu?  Tidakkah kau egois membuatku ada dalam keadaan ini?  Tidakkah kau— ka…kau… kau… a—akh…”

“Clara-ya, ada apa? Kau kenapa lagi?!”  Teriak Kai frustasi kembali menyaksikan wajah pucat Clara bersama rintihan sakitnya.

“Perutku—aw…. sakit, Jong In-ah,”

Shit!”  Kai mengumpat pelan, memegang tangan Clara erat bersama tubuhnya yang merosot kelantai dan teriakan beradunya dengan Nyonya Kim memanggil kembali dokter yang baru saja keluar dari sana beberapa menit lalu, menambah kekesalannya.  Bukan lagi pada Clara, tapi pada dirinya sendiri yang tidak bisa membuat keadaan sedikit lebih tenang hingga kembali seperti ini.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Ji Eun merapikan letak susu, bubur, juga buah diatas nampan yang kesemuanya adalah untuk Clara.  Mengambil sendok kecil yang sudah ia pastikan bersih, tolehan kepala Ji Eun bersama senyum lebarnya disambut wajah masam juga rengutan Clara.

Satu hal dalam otak Clara yang langsung muncul ketika kesadarannya kembali adalah bagaimana bisa Ji Eun ada di dalam kamarnya dan hanya ia?  Kemana Kai?  Kemana semua orang hingga hanya ada Ji Eun?  Apa pula yang akan wanita ini lakukan padanya dengan keadaan setidak berdaya ini?

Sedikit banyak, Clara berpikir bahwa mungkin Kai sudah benar-benar tidak peduli padanya hingga tidak ada disisinya.  Atau, dengan kedatangan Ji Eun yang kini tengah menjaganya—pikiran bahwa Kai yang mungkin akan menjadikannya istri kedua sudah menari-nari dalam benaknya.

“Sedang apa kau disini?”  Begitu tanya Clara tadi—hanya berbuah senyuman manis di bibir Ji Eun dan wanita itu berbalik seperti sekarang menyiapkan makanannya.  “Aku tidak mau melihatmu.  Untuk apa kau kemari?  Memberiku bunga, menyiapkan sarapanku, bersikap baik padaku.  Untuk apa?”  Tanya Clara beruntun tidak mau peduli, menatap Ji Eun risih dan tidak suka.  Apa yang gadis ini lakukan padanya, sampai kapanpun ia tidak akan mau melupakannya.

“Aku hanya menjengukmu.”  Jawab Ji Eun masih diserta senyum lebarnya.  Kursi yang biasanya selalu Kai duduki, giliran Ji Eun yang mendudukinya.  Mangkuk berisi bubur dengan segala campuran sayur dan daging di dalamnya, ia aduk rata dan andai ia tahu bahwa memakannya—dari tangannya, Clara tidak akan mau.  “Dokter bilang bayimu baik-baik saja dan akan baik-baik saja andai kau juga baik-baik saja.  Kau pasti sangat senang sekali.”

“Pergilah.”  Ujar Clara malas.  Tidak ada yang menyenangkan dengan hamil anak seorang pria beristri, tidak ada yang menyenangkan dengan mengobrak abrik rumah tangga seseorang.  Seumur hidupnya Clara isi dengan membenci wanita macam itu, dan kini justru dirinya yang ada dalam keadaan macam itu.

“Appaku sudah lama ingin bekerja sama dengan keluarga Kai oppa.  Tapi kau tahu sendiri bagaimana Tuan Kim, dia adalah seorang sempurna dan perusahaan keluarga kami dianggapnya tidak layak.  Saat beritaku dan Kai oppa menyebar, harga saham Freejax Group merosot tajam.  Kai oppa adalah satu-satunya penerus perusahaan, bertahun-tahun identitasnya disembunyikan karena Kai oppa menjadi seorang artis dalam negeri.  Tapi kemudian saat berita itu menyebar dan semua orang tahu, bisa kau bayangkan bagaimana dampaknya kan?  Ini bukan hanya tentang kami, atau keluarga kami lagi.  Jika kau ingin tahu, jatuhnya saham perusahaan bukan hanya memusingkan pemiliknya, tapi juga pegawainya.  Untuk itu, appaku yang memang meminta pertanggung jawaban demi nama baik keluarga kami masing-masing dan mengembalikan semuanya seperti semula, juga meminta kerjasama yang tidak pernah terjalin untuk kembali terjalin.  Appaku memanfaatkan keadaan ini dan Kai oppa dikurung selama satu bulan penuh di rumahnya untuk tidak keluar hingga pernikahan kami berlangsung.”

“Aku tidak mengerti kenapa kau menceritakan hal macam itu padaku.”

“Aku tidak ingin kau dan Kai oppa kembali bertengkar seperti kemarin.  Aku—”

“Sudahlah.”  Potong Clara meninggi.  Suapan bubur dari Ji Eun yang sudah berada didepan wajahnya ia tepis.  Memalingkan wajahnya dan bahkan memiringkan badannya juga—Clara memunggungi Ji Eun.  Dirinya tidak mau berada dalam keadaan macam ini, keadaan mengharu biru dimana dua orang wanita saling menangis menumpahkan kesedihannya.  Tidak, Clara tidak mau dan sama sekali tidak berniat untuk itu.  dirinya akan lebih baik bertengkar sepanjang waktu dibanding dikurung dalam keadaan menyedihkan macam ini.

 

Ji Eun masih tersenyum, agak miris sayangnya kali ini.  Sendok yang tadi Clara tepis, kembali ia masukkan dalam mangkuk dan meletakkannya, yakin Clara tidak akan mau sarapan jika itu dari tangannya.

“Kau beruntung Clara-ssi.”

“Beruntung?  Karena calon suami dan calon appa dari anaknya berhasil kau miliki?  Tidak.  Terimakasih.”

“Kai oppa sudah mencintaimu sejak dulu.”

“Ya ya ya…. aku tahu.”  Clara membalik badannya dan kembali berhadapan dengan Ji Eun.  “Aku tahu siapa kau.  Mataku sangat bagus dalam mengingat seseorang.  Kau salah satu adik kelas Jong In di sekolah sebelumnya yang ikut pindah ke sekolahku kan?”  Tanyanya, mengingat kembali kekacauan yang Kai berikan pada sekolahnya bertahun-tahun lalu sebab kepindahannya membuat siswi di sekolahnya juga ikut pindah dan itu bukanlah sebuah pencapain bagus untuk sekolah pinggiran yang sangat amat biasa.  Repot, satu kata itu langsung terjadi bahkan di hari pertama.

“Ne…”  Ji Eun menjawab masih tersenyum, mengangguk beberapa kali dan pandangan bahagia yang Ji Eun tunjukkan—sama sekali tidak Clara mengerti.  Atau, mulai dimengertinya sebab yang tengah berbicara dengannya ini adalah seorang pengantin baru.

“Aku membencimu.”

“Aku tidak menyalahkanmu untuk itu.”

“Maka pergilah.  Untuk apa kau disini?  Aku benar-benar malas melihatmu.”

“Ada yang ingin aku katakan.”

“Maka katakanlah dengan cepat.”  Buru Clara tidak sabar, keinginannya untuk saat ini adalah segera melihat kepergian Ji Eun yang membuatnya seolah terbakar.

“Aku minta maaf untuk sakit hati yang kau terima.  Tapi aku tidak bisa minta maaf karena sudah mengambil calon suamimu, juga appa dari anakmu.  Jika kau mengenaliku, kau juga tahu bahwa aku juga mencintai Kai oppa sejak dulu dan menikahinya adalah mimpi hampir setiap gadis negeri ini.”

“Hentikan.”  Desis Clara geram dan sayangnya—Ji Eun menggeleng.

“Terimakasih sudah mengijinkanku ada dalam kisah kalian.”

“YA HWANG JI EUN!”

“Kedua orang tuamu, kedua orang tua Kai oppa, dan Kai oppa sendiri, ada didepan.  Mereka sedang berbicara serius ketika aku tadi masuk, dan tampaknya pembicaraan mereka sudah selesai.  Begitupun waktuku disini.”

“Tidak ada yang menginginkanmu.  Pergilah.”

“Ya, aku tahu itu.”  Ji Eun menjawab lirih, mendapat lontaran kalimat tidak ada yang menginginkanmu siapapun tidak berharap untuk mendengarnya begitupun Ji Eun.  Dirinya ingin hidup nyaman, tidak ingin siapapun mencaci atau bahkan membencinya.  Dirinya pernah dibenci dulu, pernah pula di caci sebab tampilan menyedihkannya.  Kini, saat dirinya sudah berubah—sama sekali Ji Eun tidak ingin mendengar ada lagi orang yang mencacinya.

“Sialan!”  Umpat Clara melempar buku diatas nakasnya tanpa peduli, mengantar kepergian Ji Eun dengan hal macam itu dan senyum tampak Ji Eun seolah kemenangan membuatnya makin kesal.

 

“Clara-ya!  Ada apa?  Terjadi sesuatu?”

Bagaimana tidak terjadi sesuatu jika mempertemukan Ji Eun dengannya dan hanya berdua?  Bagaimana tidak terjadi kekacauan?  Pikir Clara, menyambut pertanyaan khawatir dari arah luar itu dengan malas dan segerombol orang yang tadi ada di luar seperti kata Ji Eun, langsung masuk, mendekatinya, mengagetkan sekaligus membuatnya membulatkan mata tidak percaya dan gerak cepatnya menarik selimut tebalnya hingga menutup seluruh tubuhnya makin mengkhawatirkan semua orang yang telah berada disisinya saat ini.

“Hee Jung-ah, kau kenapa nak?  Apa kau kesakitan lagi?  Cepat panggil dokter!”

“TIDAK!”  Clara membentak dari balik selimut berwarna putih yang digunakannya menutup seluruh.  Sentuhan tangan orang-orang pada tubuhnya, juga tarikan paksa mereka agar ia melepas selimutnya—tidak wanita itu pedulikan.  “Pergi.  Untuk apa kalian kemari?”

“Ini eomma, Hee Jung-ah.”

“Aku tahu!”  Sahut Clara masih mempertahankan posisinya menutup diri.  “Aku tidak mau eomma melihatku seperti ini.  Eomma pergi, aku baik-baik saja.  Aku tidak sakit, aku tidak menangis, aku baik-baik saja.  Pergilah eomma….. aku akan mengunjungimu ke Jepang minggu depan.  Aku baik-baik saja.”

“Tapi—.”

“Pergi eomma……. jangan ada disini.  Eomma pulang saja.”  Pekik Clara lagi masih mengeratkan pegangannya pada selimut yang mulai berhenti orang-orang paksa untuknya menurunkan itu.

Nyonya Song menarik nafas panjang dan menekan dadanya yang terasa sakit dengan keadaan Clara macam ini.  Belaian halus dari tangannya pada kepala Clara berikut kata jaga dirimu baik-baik terdengar, tampak melegakan bagi Clara dan wanita paruh baya dengan wajah hampir mirip dengan Clara itu mengangguk—pada tiap pasang mata disampingnya.  “Sebaiknya kita semua pergi.”  Tuturnya menuruti keinginan Clara.

“Ya.”  Nyonya Kim menjawab, mewakili semua orang disana untuk pergi seperti yang sudah dikatakan tadi.

Bunyi sepatu yang beradu dengan lantai hingga menimbulkan ketukan khusus terdengar makin menjauh, berikut suara pintu yang tertutup rapat dan itu sampai pada pendengaran Clara.

Rengutan tidak tampaknya sebab berada dalam selimut, perih yang hanya bisa ia rasakan sendiri, perkataan Ji Eun tadi, wajah eommanya—Clara menutup mata dengan harapan bahwa apa yang terjadi sebulan ini adalah mimpi, bahwa semua hal yang dilaluinya hingga hari ini bukanlah kenyataan.  Dan andai hal macam itu bisa dilakukan, kembali ke masa lalu ataupun merubah semuanya menjadi mimpi—maka sakit dan kecewa tidak akan pernah ada dan hati seseorang juga akan membatu karena tidak akan pernah menyesal.

 

 

 

 

“Kau bisa turunkan selimutmu.  Hanya ada aku disini.”  Suara dingin menusuk yang sudah Clara ketahui pemiliknya, ia sesalkan.  Dari semua orang yang tinggal, kenapa harus Kai?  Dirinya masih tidak tahu bagaimana caranya berhadapan dengan pria yang membuatnya sakit perut, pusing, dan terkena gagal jantung disaat bersamaan.  “Aku bilang kau bisa turunkan selimutmu.”

“Ya, aku dengar.”  Gumam Clara pelan dan mulai menurunkan sedikit demi sedikit selimutnya.  Mengintip melalui kedua celah matanya dan mendapati Kai yang tengah memunguti satu persatu buku bacaannya yang menemani saat menunggu sadarnya Clara.

Satu hal—sebenarnya Clara ingin mengabaikan Kai dan membalik badannya, memunggungi pria itu seperti bagaimana ia memperlakukan Ji Eun begitu buruk tadi.  Namun, lebam di salah satu sudut wajah Kai menarik perhatiannya dan entah lupa akan kemarahannya atau ia memang ingin mengatakannya, Clara bersuara,  “Wajahmu kenapa?”

“Appa-mu dan appa Ji Eun memukulku.”

“Kenapa?”  Tanya Clara dengan tololnya dan Kai menoleh, tersenyum sedikit pada wanita yang beberapa hari ini hanya dipandanginya kesal.

“Kenapa kau bertanya?  Aku pikir kau sudah tidak peduli padaku.”

Clara mendengus dengan bibir mengerucut.  Andai bisa ia ingin mengambil waktu tadi dan menarik ucapannya.  “Yasudah kalau tidak mau bilang.  Aku juga tidak memaksa.”  Bela Clara pada dirinya sendiri dan bersamaan dengan itu Kai berdiri, dengan semua buku ditangannya yang ia letakkan kembali ketempat semula.

“Ayo sarapan.  Aku akan menyuapimu.”

“Tidak.”  Tolak Clara masih memunggungi pria yang sudah duduk dan berperilaku sama seperti Ji Eun tadi.  “Kau kan membenciku.  Jangan pedulikan aku.”

“Aku tidak pernah berkata bahwa aku membencimu dan tidak peduli padamu.  Tapi andai tidak ada bayiku dalam perutmu, aku tidak akan terlalu sekhawatir ini.”

“Hah?!”  Clara mendesah kesal dan melirik Kai sebentar sebelum kembali memunggungi pria itu.  “Tidak ada gunanya kau memberi makan bayi ini.  Hidupnya tidak akan bertahan lama.  Aku akan kembali menggugurkannya tanpa sepengatahuanmu.”

“Bermimpilah sesukamu.”

“Dan berharaplah sesukamu.”

Kai menggeleng, lelah.  Mangkuk ditangannya pria itu letakkan kembali persis seperti yang Ji Eun lakukan saat gagal menyuapi Clara.  Dirinya tidak ingin bertengkar dengan wanita dihadapannya yang bagaimanapun juga sangat ia cintai.  Dirinya masihlah Kai yang sebelumnya begitu menggilai Clara terlepas dari bagaimana kecewanya ia pada perilaku Clara menggugurkan anaknya yang bahkan keberadaan bayi itu saja tidak diberitahukannya.

“Aku mengajukan pembatalan pernikahan ke pengadilan.  Karena itu appa Ji Eun, memukulku.  Kita bisa bersama sekarang, bersama anak kita.  Dan bisakah kita hentikan perdebatan konyol macam ini?”

“Tidak.”  Tolak Clara tidak peduli.  Bertahan dengan posisinya tanpa sedikitpun mau merubah semua itu, memaksa Kai untuk membaliknya agar mereka bisa saling berpandangan, mengatakan sesuatu hal dengan benar dan tidak ingin mengulangi kejadian kemarin yang penuh emosi hingga kembali memperburuk keadaan Clara.  Tapi yang Kai hadapi, sesuatu hal yang tidak bisa masuk dalam kepalanya hingga bukan hanya bingung dengan isi kepala penuh pertanyaan kenapa dan bagaimana, pria itu tertergun—untuk beberapa saat sebelum akhirnya tersadar. “Ka—kau menangis?  Ada apa?”

“Sudah aku bilang tidak!  Kan?!”  Teriak Clara keras melepas pegangan tangan Kai dikedua pundaknya dan mengulang posisinya seperti tadi, memunggungi pria yang masih dipenuhi kebingungan dan pertanyaan dalam kepalanya yang tidak terjawab—menuntut.

“Kau kenapa?  Apa aku melakukan salah?  Apa aku salah bicara?”

“Pergi sana.  Beri aku makanan yang tidak ada bekas Ji Eun jika kau mau aku memberi anakmu makan.”  Sahut Clara ketus sambil tersedu pelan, tangannya bergerak sesekali mengusap wajah berairnya dan Kai hanya tampak bagai orang bodoh yang tidak mengerti juga tidak tahu apapun.  “Sudah.  Pergi sana!  Kau bilang mau beri anakmu makan, kan?  Jadi tidak usah pedulikan aku.  Ambilkan anakmu ini makanan lain.”

“Aku peduli padamu.”

“Kau tidak peduli!  Sedikitpun tidak!”

“Dengarkan aku.”  Tutur Kai lembut—duduk di ranjang Clara dan membalik sekali lagi tubuh wanita itu perlahan hingga mereka bisa berpandangan.  “Aku tidak hanya peduli pada anak kita, aku juga peduli padamu.  Aku tidak bermaksud mengatakan hanya peduli pada anak kita jika itu yang kau pikirkan.”

“Sudah pergi sana Kim Jong In…..”  Clara meringis, menahan isaknya dan mendorong tubuh Kai untuk kembali menjauh serta mengembalikan posisinya seperti semula—memunggungi tiap orang yang menemuinya.

Tidak ada yang mengerti aku, begitu Clara bilang dalam hatinya.  Seumur hidup dirinya membenci wanita-wanita tidak tahu diri dan kini dirinyapun ikut menjadi wanita tidak tahu diri.  Seumur hidupnya Clara membenci eomma tirinya dan kini ia tidak beda jauh dengan eomma tirinya.  Seumur hidupnya ia membenci saudara-saudaranya dari pernikahan kedua appanya dan kini ia mengandung anak yang tidak ada bedanya dengan saudara-saudaranya.

Kai membatalkan pernikahannya bersama Ji Eun, demi dirinya.  Membuatnya tampak tidak beda jauh dengan wanita yang membuat kedua orang tuanya bertengkar dan kemudian bercerai.  Clara benci keadaan ini, Clara benci kenyataan tolol ini berikut dirinya.  Clara bahkan ikut membenci dirinya sendiri, anaknya, Kai bahkan.  Kenapa dirinya tidak diijinkan membenci Ji Eun?  Kenapa pula dirinya diberi keadaan macam ini?  Setelah semua ini, bagaimana ia bisa membenci Ji Eun yang menghancurkan rencana pernikahannya sementara dirinya justru telah menghancurkan pernikahan wanita itu?  Seperti istri appa-nya.

Clara tidak mau, Clara tidak suka.  Clara benci keadaan macam ini dan sama sekali tidak terima bagaimanapun keadaannya.

 

“Hee Jung-ah—”

“Eomma?”  Kaget Clara mendengar suara eommanya, berpikir bahwa sosok itu telah pergi namun ternyata ada dibalik tubuhnya dan membelai puncuk kepalanya dengan isak yang terdengar menggantikan isaknya.  “Kenapa eomma masih disini?”  Tanya Clara terkejut—membalik tubuhnya segera dan mendapati wanita yang rambutnya mulai ditumbuhi uban itu duduk ditempat Kai tadi dengan mata memerah—sementara pria bernama asli Kim Jong In yang sejak tadi menjadi lawan bicaranya sudah membalikkan badan pergi, membiarkan ibu-anak itu bicara berdua.  “Bukankah sudah aku bilang agar eomma pulang?”

“Eomma tidak akan meninggalkanmu.”

“Aku baik-baik saja.  Eomma pulanglah.”  Desak Clara bersikeras pada keputusannya yang tadi dan sisa air mata diujung matanya segera ia hapus.  Tampak terlambat jika Clara bermaksud untuk menghalangi eommanya tahu tentang tangisan tadi.

“Jong In-ssi menunggumu tanpa pergi sedikitpun, bisakah kau tidak terlalu keras padanya?”

“Eomma pikir karena siapa aku berakhir disini?”  Balas Clara cepat dan membuang mukanya lagi, malas sebenarnya wanita itu membicarakan ini dengan eommanya karena nantinya akan terlalu banyak menguras emosi hingga semuanya berubah menjadi menyedihkan dan Clara tidak ingin tampak menangis ataupun menyedihkan dihadapan siapapun apalagi eommanya.

Bukan keadaan macam ini yang wanita itu ingin tunjukkan.  Menjadi seorang penghancur rumah tangga dihadapan eommanya yang rumah tangganya pernah dihancurkan oleh wanita sejenisnya.  Clara mengaduh tertahan dengan air mata yang kembali mengalir.  “Aku benci.  Aku tidak suka eomma.  Aku tampak seperti wanita itu, aku seorang penghancur rumah tangga orang kini.  Aku wanita murahan kini.”

“Tidak.”  Seru Nyonya Song cepat namun pelan, berpindah duduk diranjang Clara dan memeluk putrinya itu lembut.  “Kau tidak sama dengannya.  Kau berbeda Hee Jung-ah.”

“Apanya yang beda?  Aku bahkan hamil anak pria beristri, persis wanita itu hingga eomma dan appa bercerai.”

“Dengarkan eomma.  Kau tidak sama dengannya.”

“Sudahlah eomma…..”  Clara mendorong tubuh eommanya yang masih memeluk dirinya dan kembali—balikan tubuhnya menolak untuk bertatapan mata dengan siapapun terjadi.  “Tidak ada yang berubah meski Kai membatalkan pernikahannya dengan wanita itu.  Aku sudah terlanjur jadi orang ketiga dalam hubungan mereka.  Tidak ada gunanya juga anak ini lahir dengan statusnya sebagai anak dari pria beristri.  Salahkan dan maki saja aku, eomma bahkan bisa katakan bahwa aku anak durhaka, tidak tahu diri, kejam atau eomma bahkan bisa mencaci dan tidak mengakuiku.  Aku tidak mau bersama Kai juga memiliki anak ini.  Aku tidak mau jadi wanita perusak hubungan orang lain ataupun hamil anak pria beristri dan lagi mereka berpisah karenaku.  Aku tidak mau menjadi jenis wanita macam itu.”

Nyonya Song menunduk.  Mata tuanya sudah terlalu sering menangis hingga air matanya tidak perlu mengucap permisi tiap akan keluar.  Tidak bisa ia menyalahkan Clara, putrinya ini terlau sakit dengan apa yang dulu terjadi dan Nyonya Song menggeleng antara sedih melihat Clara, bingung bagaimana caranya agar Clara merubah pemikirannya, juga tidak mau terjadi sesuatu hal buruk lagi pada calon cucunya.  “Hee Jung-ah,”  Panggil Nyonya Kim serak.  Isaknya sesekali terdengar dan Clara benci dengan itu.  “Hee Jung-ah lihat eomma.”

“Tidak mau.”  Putusnya sesenggukan sambil menutup wajahnya, kiranya wanita itu juga menangis dan bingung tentang harus bagaimanakah ia kini.  Menjadi pembunuh, anaknya sendiri.  Siapa yang lebih menyedihkan dibanding dirinya?

“Eomma bilang lihat eomma, Hee Jung-ah.”  Paksa Nyonya Song tidak mau tahu dan menarik kedua tangan putrinya, tersenyum menenangkan dihadapan Clara sambil menghapus air mata menggenang putrinya setelah menghapus air matanya sendiri.  “Dokter memberikan ini tadi pada eomma.”

Mengeluarkan map besar dari dalam tasnya, segera Nyonya Song buka map tersebut dan kemudian ditunjukkannya pada Clara.  “Ini bayimu, sudahkah kau melihatnya?”

“Kenapa eomma tunjukkan itu padaku?”  Rintih Clara kembali menangis tanpa menahannya sedikitpun seperti tadi, menyingkirkan map dihadapannya dan menutup wajahnya bersama tangis kencang mengeluarkan hal mengganjal yang sudah ditahannya berwaktu-waktu hingga sulit bernafas, Clara seolah menumpahkan semuanya.  “Aku tidak mau melihatnya.  Kenapa eomma tunjukkan itu padaku?”  Tanyanya berkali-kali bersama sesak yang datang, lehernya seperti dicekik hingga rasanya sakit dan pelukan Nyonya Song tampak seolah menenangkannya.  Mengusap pelan kepala anaknya yang masih menangis, wanita paruh baya itu tidak bisa menahan kesedihannya hingga ikut menangis dan Kai melihatnya dari balik pintu—merengut ikut merasakan sakit pada dirinya yang bahkan tidak bisa diungkapkan.

“Dia berusia 2 bulan satu minggu, apa kau tahu?”  Nyonya Kim bertanya disela tangisnya, anggukan kepala Clara dalam pelukannya makin menyayat hati.  Anaknya tahu dan bahkan tetap bersikukuh menggugurkannya, tidak mau melihat rupa bayinya, menghindari Kai saat dirinya bisa tetap bersama pria itu, sebab tidak ingin menjadi wanita ketiga.  Siapa lagi yang bisa disalahkan kecuali dirinya dan mantan suaminya—appa Clara?  Harusnya ia lebih memilih bertahan, harusnya ia tidak bercerai dan membuat Clara tahu semuanya.  Harusnya dirinya menulikan telinga dan membutakan matanya demi Clara.  Harusnya Clara tidak akan memiliki pemikiran begini andai hubungannya dan appa Clara tidak seburuk saat ini.  “Mianhe, maafkan eomma.  Maafkan eomma Hee Jung-ah, harusnya kau tidak seperti ini.  Harusnya kau melihat bayimu dengan bahagia tanpa sedih dan terluka.”

“Aku mencintai anakku, aku juga menginginkannya seperti Jong In.  Tapi aku tidak bisa, aku tidak mau seperti istri appa.  Aku tidak mau anakku lahir seperti anak appa.  Aku tidak mau memberikan nasib eomma pada wanita lain dengan tanganku sendiri.  Aku tidak mau eomma, aku tidak ingin itu semua.  Aku tidak ingin menjadi monster.”

“Kau bukan monster.”  Geleng Nyonya Song cepat, menangkup wajah anaknya yang menangis sepertinya dan inilah yang Clara benci ketika bertemu dengan eommanya, semua hal terlalu dibawa emosi dan ia bahkan tidak bisa mengontrol itu semua.  “Anak eomma bukan monster, anak eomma tidak sama seperti wanita itu.”

“Maka katakan padaku dimana bedanya.  Aku membuat seseorang bercerai, aku hamil anak suami wanita lain.  Dimana bedanya eomma?”

Entah.  Nyonya Song diam seribu bahasa dan hanya mengeluarkan tangisnya tidak menemukan perbedaan dari pertanyaan Clara.  Tidak bisa ia katakan bahwa pernikahan Kai dan Ji Eun tidak seharusnya terjadi karena itu sama saja mengusik takdir langit, tidak bisa juga dirinya berkata bahwa Ji Eun tidaklah sama dengannya sebab Ji Eun mencintai Kai dan menginginkan pernikahan ini terjadi.  Maka, dua wanita hampir sama rupanya itu kembali berpelukan dan saling menangis mengeluarkan emosi kecewa dan hancurnya tanpa kata apapun lagi.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Kai duduk didepan kamar Clara dengan bubur disampingnya yang sudah dingin, juga Nyonya Kim yang selalu setia menemani putranya.  Tatapan Kai nanar, pembicaraan dan tangis Nyonya Song bersama Clara tadi—bohong jika dirinya tidak mendengar.  Ia berdiri dibalik pintu dan melihat juga mendengar semuanya sejak tadi hingga eommanya menariknya untuk duduk.  Kai mendesah—berat.  Beban Clara, keputusan Clara, keinginan Clara, bagaimana cara mematahkan itu semua?  Seolah dirinya tidak berguna mengajukan pembatalan pernikahan jika Clara tidak mau kembali ataupun mempertahankan bayinya.

Mencaci Clara, Kai tidak bisa lakukan itu.  Alasan yang Clara buat terlalu menyulitkannya untuk bisa marah dan berusaha mencacinya.  “Eomma—.”

“Hm?”  Nyonya Kim langsung menoleh, menatap putranya yang setia dengan kepala tertunduk juga pandangan pias.

“Clara tidak akan mau kembali padaku.”

“Kau bicara apa?  Dia pasti akan kembali bersamamu.”

“Eomma ingat saat eomma begitu menolak Clara?  Saat eomma melarangku bersamanya?”  Tanya Kai bagai berbisik, sebelah sudut bibirnya tertarik dan itu bahkan bukan sebuah senyuman.  “Saat itu musim semi, minggu ketiga aku masuk Chunwaa untuk persiapan kuliahku pada tahun berikutnya.  Eomma ingat?  Saat aku bertanya apa arti dari mata yang tidak bisa teralihkan, diri yang tidak bisa dikendalikan, dan jantung yang berdegup kencang oleh hal sama?”

“Itu artinya dirimu telah dibawa bersamanya.”  Jawab Nyonya Kim mengulang percakapannya bersama Kai beberapa tahun lalu yang kemudian ia ketahui adalah Clara alasannya.

“Dimataku Clara adalah yang paling cantik meski beberapa gadis yang eomma berikan untuk mengalihkan perhatianku lebih cantik.  Dimataku Clara adalah sempurna meski dia bodoh dan tidak pernah mendapat juara.  Dimataku Clara baik meski dia mengucapkan kata-kata kotor beberapa kali.  Menurutku Clara lembut meski dia sering memukulku saat merusak lipatan bajunya, hh—.”  Kai tergelak tiba-tiba tanpa mengurangi satupun kesedihannya yang tampak.  “Dia menyebalkan karena aku tidak bisa tidak memikirkannya.  Dia jahat karena mengambil seluruh hidupku agar hanya menjadi miliknya.  Dia tidak memiliki hati karena mengambil semua kehidupan nyaman yang eomma berikan padaku dan aku serahkan padanya.  Dia—.”

“Dia yang membuat putra eomma bahagia, dia yang membuat putra eomma melakukan sesuatu hal dengan sungguh-sungguh, dia yang membuat putra eomma memiliki keinginan, dia yang membuat putra eomma menjadi seorang pria.”

“Aku mencintainya eomma….”  Adu Kai menoleh, menghadap eommanya yang sedih bersamanya dan Kai sudah tidak tahu harus bagaimana.  “Aku bingung, aku tidak tahu harus bagaimana.  Bantu aku, eomma kumohon bantu aku agar Clara kembali bersamaku.”

 

“Jong In-ssi—.”  Panggil satu suara menghentikan pembicaraan tidak kalah sedih yang Kai dan Nyonya Kim lakukan.

“Eomoni.”  Kai berdiri—segera, berhadapan dengan eomma Clara yang baru saja menutup pintu kamar anaknya dan tersenyum menatap Kai dengan mata berairnya yang masih tersisa.  “Bagaimana Clara?”

“Masuklah.”  Nyonya Song mempersilahkan, menatap bergantian sepasang ibu-anak dihadapannya dengan anggukan pelan yang sedikit melegakan Kai meski belum tahu apa artinya.  “Ini hampir lewat jam sarapan dan Hee Jung harus meminum obat demi anak kalian, bukan?”

“Nde—?”  Kai tercekat—melongo tiba-tiba.

“Masuklah.”  Ujar Nyonya Song lagi, mengangguk dan tersenyum pada Kai yang tentu langsung melakukannya—tanpa berpikir dua kali.

 

“Bagaimana?”  Nyonya Kim langsung menyambut Nyonya Song yang baru saja duduk dengan kekhawatiran berlebih—mengingat bagaimana cinta putranya dan bagaimana kerasnya Clara.

Sekali lagi, wanita bermarga Song itu mengangguk dan tersenyum.  “Semuanya baik-baik saja.  Hee Jung melakukan apa yang semua orang inginkan.”

“Syukurlah, terimakasih Tuhan……”  Lega Nyonya Kim sebanyak-banyaknya.  Bayangan anaknya yang akan melakukan sesuatu hal buruk andai Clara tetap bertahan dengan kerasnya sudah menghilang dari kepalanya dan ketakutan yang sejak kemarin menghantuinya juga menguap bersama angin yang menggantinya dengan bahagia.

Dua wanita paruh baya dengan usia yang tidak terlalu jauh itu berpandangan, saling melempar senyum lebarnya masing-masing.

 

 

 

 

 

***

Sejujurnya, Kai hampir tidak pernah meminta apapun dalam hidupnya—sedikitpun hampir tidak pernah.  Namun jika ia dipaksa untuk meminta sesuatu sebab waktu panjangnya yang hampir tidak pernah meminta sesuatu, maka Kai akan meminta Clara.

Sejujurnya, Clara hampir tidak pernah meminta sesuatu dalam hidupnya sebab permintaan pertama yang dibuatnya tidak pernah terkabul.  Clara pernah meminta agar appanya kembali namun appanya justru makin jauh.  Sejak itu, Clara tidak pernah meminta apapun sebab hanya percaya bahwa semua hal akan terkabul dengan usaha, bukan doa.  Maka saat eommanya berkata ‘eomma ingin kau bahagia, buatlah dirimu bahagia Hee Jung-ah.  Eomma tidak akan bisa tenang jika kau tidak bahagia, maka jika kau ingin melihat eomma bahagia, kau harus bahagia lebih dulu.  Lakukan demi eomma, lupakan rasa bencimu dan kembali bersama Kai juga bayimu.  Bukankah itu yang membuatmu bahagia?’ maka Clara tidak memiliki pilihan selain mengabulkan keinginan eommanya yang tidak setega itu ia tolak setelah tahu bagaimana sakitnya harapan yang ditolak, dan Clara-pun membuat dirinya bahagia seperti doa yang selalu digantikannya dengan usaha.

 

“Aku selalu berdoa dan berharap untuk memilikimu selamanya.”  Jujur Kai berjalan mendekat pada Clara yang sudah duduk diatas ranjangnya dengan pandangan mengarah padanya.  “Permintaan keduaku ini, aku harap tidak akan pernah ditolak.”

“Aku selalu berusaha untuk membuat diriku bahagia tanpa meminta ataupun mengemis melalui doa.”

“Maka apa yang membuatmu bahagia?”

“Kau.”  Ujar Clara tanpa ragu, menarik dua sudut bibir tertekuk Kai sejak beberapa hari lalu menjadi tawa cerah dengan gigi rapinya yang tampak.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Uchie vitria says:

    Bahagiakan intinya
    Pembatalan pernikahan sedikit bumbu cinta dari ji eun tapi juga karna alasan bisnis
    Jadi siapa yang jahat ya
    Clara hanya marah pada dirinya sendiri dengan keadaan yang membuatnya jadi wanita ketiga padahal seharusnya dialah sang ratunya
    Masih ada kan ya seriesnya vid….

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s