#1 Impossible (Reboot)

Ji Eun said

Aku percaya pada kesabaran dan kisah Tuhan, aku percaya pada segala yang terjadi padaku adalah apa yang memang harus terjadi dan pilihan terbaik diantara pilihan lainnya.  Menjadi seorang yang tidak diharapkan, pengganggu, siapapun tidak ingin dan mungkin kisahku akan terdengar menyedihkan.  Tapi percayalah, aku yang membuat pilihan dalam hidupku kali ini, bukan Tuhan yang sebenarnya memberiku jalan lain.  Percaya pulalah, bahwa aku yang bersalah dan bukan ia yang aku cintai, atau mereka yang kemudian membenciku.

 

 

 

Kai said

Aku percaya pada waktu panjang yang kami lalui bersama.  Aku percaya pada waktu yang melihat jelas bagaimana kebersamaan kami dan bagaimana harusnya kami berakhir.  Aku percaya pada hatinya yang tetap mencinta, terlebih pada hatiku yang tidak mendua.  Aku menyalahkan diriku sendiri untuk apa yang saat ini terjadi padaku, padanya, dan pada ia yang aku cintai.  Sebisa mungkin, janji yang telah aku lontarkan dan tercoreng, akan aku hapus coretannya hingga janji itu kembali utuh seperti semula.  Sebisa mungkin, ikatan yang membuatku kesakitan dan tidak bisa bergerak, sebab adalah salahku hingga kemudian terikat maka aku akan melepas ikatan ini tanpa melukai siapapun seperti ketika aku melukai banyak orang ketika mengikat ini.

 

 

 

Clara said

Aku percaya pada cintanya, dulu.  Aku percaya pada kesetiannya, dulu.  Aku percaya pada tiap janji dan katanya, dulu.  Dulu…. dulu aku mempercayainya.

 

 

*flashback

Pria itu memasuki keramaian yang mulai terbiasa dijadikannya tempat melampiaskan penat beberapa waktu belakangan ini.  Kedip lampu berwarna warni dengan bau kuat khas yang langsung menguar masuk dalam indra penciumannya.  Samar, keadaan tidak begitu bisa dilihat jelas dan memang tempat macam itulah yang dibutuhkannya untuk menyenangkan diri sekaligus menyembunyikan diri.  Lampu ditengah ruangan berbentuk bulat dengan  cahaya warna-warninya tampak mencolok, dibawahnya—kumpulan manusia beda gender saling menyenangkan dirinya masing-masing, menggerakkan tubuh sesuai irama musik yang berdentum hingga hampir memecah gendang.

Sofa setengah lingkaran di salah satu sudut gelap yang kosong menjadi tujuannya.  Pelayan dengan pakaian hampir bertelanjang mendekati ia, nampan berisi gelas kristal juga bermacam-macam minuman alkohol ditawarkan.

“Silahkan Tuan.”  Sambutnya bahkan saat tubuh sang calon pelanggan belum duduk.  Beberapa wanita, entah siapa—mendekatinya bergerombol.  Menggodanya demi lembar-lembar uang yang langsung tercium dari coats Clavin Klein pada tubuhnya.

Tanpa permisi, beberapa wanita dengan pakaian kurang bahan dan wajah merona itu langsung mengambil semua minuman dan gelas yang pelayan tadi tawarkan.  Mengapit lengannya—menggiringnya pada kursi yang memang menjadi tujuannya.

“Aku ingin sendiri.  Kalian pergilah.”  Pria itu berkata dengan tangan mengeratkan syal yang menutup setengah bagian wajahnya.  Topi fedora yang dikenakannya makin ia tarik kebawah menyembunyikan identitas.

“Hm…. sayang sekali.”  Satu wanita paling cantik bergumam manja, masih mencoba menyentuhnya namun tepisan tangan dan pandangan jijik dari pria itu sukses membuat ketiga wanita yang hendak menemaninya pergi, tanpa satu kalimat protes yang kembali terlontar.

Membanting tubuhnya, membuka beberapa botol minuman dan kemudian menuangkannya pada gelas.  Meneguknya sedikit demi sedikit hingga mulai tidak terkendali bersama kesadarannya yang lenyap sedikit demi sedikit.  Pria itu mendesah dengan tubuh bersandar dan mata terpejam, bau nafasnya bercampur dengan alkohol dan otaknya hampir tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan ia.  Bayangan seseorang, bayangan masalah yang membawanya pada keadaan macam ini—menari dalam benaknya.

 

 

Getar ponsel dalam saku celananya terasa, menyadarkannya dari lamunan tidak tentu bersama cairan alkohol yang mulai menyebar di seluruh tubuhnya.  Gelas kristal dalam genggamannya ia letakkan pada meja kecil hadapannya, merogoh saku celananya kemudian untuk mengambil benda elektronik yang terus bergetar seolah alarm agar dirinya berhenti melakukan hal macam ini.

Berusaha mengembalikan kesadarannya, mengedipkan mata beberapa kali dengan harapan pandangan buramnya menjadi lebih jelas—pria itu mengerut dengan layar ponsel menyala di hadapannya.

 

Clara calling…..

 

“Clara?”  Gumamnya seolah bertanya siapa Clara?  “Clara.”  Ucapnya lagi sambil tersenyum dan mengangguk-angguk seolah ingat.  Namun bukannya mengangkat seperti yang orang diinginkan oleh si penelfon, pria itu justru mematikan ponselnya dan kembali melanjutkan kegiatan sebelumnya.

Tidak jauh dari jaraknya, seorang gadis yang memang sejak tadi mengikutinya—duduk di kursi paling ujung pub.  Matanya tertarik lurus pada pria kecintaannya yang memakai penutup wajah demi menyembunyikan identitas artisnya.  Tautan dua alisnya yang tersambung miris menyaksikan keadaan pria itu saat ini membuatnya sedih.  Pikiran macam, bagaimana bisa aku pergi dengan keadaanmu yang macam begini?  memenuhinya.

Namun kemudian, satu pertanyaan dalam benaknya yang menghentak kembali muncul, memangnya siapa aku hingga bisa berucap macam itu?

 

Gadis itu tersenyum tipis.  Rambut panjang sebahu nan hitamnya begitu mempesona, kulitnya yang seputih porselen bahkan sangat mencolok dibanding rambut hitam pekatnya namun justru itulah yang membuatnya menarik.  Dirinya tidak menutupi wajahnya sedikitpun seperti pria yang sejak tadi diperhatikannya, dibiarkannya saja beberapa orang yang melewatinya berbisik dengan pertanyaan apakah itu benar dia?

Melihat keadaan pria kecintaannya yang makin tidak sadarkan, ia—gadis itu yang sejak tadi hanya duduk diam dan memperhatikan mulai mendekat.  Duduk disamping pria kecintaannya seperti memang keinginannya sejak lama dan balasan mata tajam dari pria tersebut menarik kedua ujung bibirnya.

“Aku ingin sendiri.  Pergi!”  Pria itu kembali mengusir, dengan sedikit bentakan sebab alkohol yang mulai menguasainya.

Tidak terpengaruh sedikitpun, gadis itu makin melebarkan senyumnya.  “Kai oppa, apa aku benar?”  Tanyanya seolah menebak.

Kai, pria itu—meliriknya makin risih.  Kepalanya yang berputar-putar juga pandangan tidak jelasnya terarah pada gadis yang masih menatapnya dengan senyum lebar.  Menurunkan sedikit syal yang menutup wajahnya, Kai menarik nafas seolah berusaha mengembalikan kesadarannya sendiri  “Aku tidak mengenalmu.”  Gelengnya, acuh dan tidak peduli.  Gelas yang tadi diletakkannya ia ambil lagi dan menghabiskan isinya dalam satu tegukan.

Gadis itu belum menyerah.  Dirinya akan pergi dalam waktu dekat ini dan ingin mengambil beberapa waktu Kai untuk sebuah perpisahan yang bahkan tidak Kai ketahui.  Mengambil botol dalam genggaman Kai, sukses gadis itu jika niatnya untuk menarik perhatian pria yang bahkan tidak pernah melihatnya kecuali dalam perannya di layar kaca.

“Apa-apaan kau?!”  Sungut Kai tidak suka, memfokuskan perhatiannya pada gadis didepannya yang mulai tersenyum agak lebar dan kesadarannya tentang siapa gadis ini muncul.  “Hwang Ji Eun-ssi?”

“Ne, oppa.”  Ji Eun menjawab riang.  Menuangkan sekali lagi minuman Kai pada gelas kecil yang kembali langsung dihabiskannya dalam satu teguk.  “Ingin bertaruh?  Siapa yang lebih kuat minum?”  Ji Eun menawarkan dan Kai tergelak, memandang remeh sekali lagi gadis dihadapannya dan botol dalam genggaman Ji Eun diambilnya segera.

“Kau meremehkanku ya?”

Ji Eun menggeleng pelan hingga Kai tidak akan mungkin bisa melihatnya mungkin.  Ji Eun ingin malam ini menjadi miliknya bersama Kai.  Bukan untuk sesuatu hal buruk.  Dirinya hanya ingin menghabiskan beberapa waktu berdua dengan Kai dan tidak peduli jika itu hanya untuk mabuk bersama.  Jika Kai berpikir bahwa dengan mabuk maka masalahnya akan selesai, dan jika Ji Eun berpikir bahwa dengan mabuk bersama Kai maka ia bisa merelakan kepergian pria itu nantinya—maka mereka salah.

Entah siapa yang lebih dulu memulai, dan entah siapa yang lebih mabuk dibanding yang lainnya.  Berita harian memuat mereka esoknya, dengan pakaian tersisa mereka melakukan sesuatu yang tidak seharusnya meski tidak sampai pada hal-hal menjurus.  Namun tetap saja, perilaku mereka menjadi viral apalagi saat kedua orang tua mereka melihat rekaman perilaku keduanya yang membuat mata membulat tidak percaya.

 

 

Kai tidak peduli pada reaksi keluarganya, Kai tidak peduli pada caci maki orang yang bahkan tidak mengenalnya, Kai bahkan tidak peduli pada namanya sendiri.  Pria itu hanya peduli pada bagaimana kekasihnya dan bagaimana pernikahan yang sudah dirancangnya sejak lama?  Bagaimana Clara?

*Flashback End

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Tidak akan ada yang menyalahkanmu saat kau berbuat salah dan kemudian menghukum dirimu sendiri saat tidak seorangpun berani melakukannya, atau bisa melakukannya namun diam dan tidak lakukan apapun, atau mungkin telah melakukannya namun menurutmu kurang sebab kesalahanmu terlampau berat untuk hukuman yang telah diterima dan orang yang harusnya benar-benar menghukummu pergi, menghilang—lenyap, entah kemana.  Tanpa pamit, tanpa beri hukuman, tanpa kata, bahkan tanpa kau tahu.  Membuatmu makin terombang ambing tanpa kepastian hingga makin tenggelam dalam rasa bersalah tidak berdasar.

Mungkin, memang benar bahwa orang itu tidak menghukummu seperti yang orang lain lakukan.  Tapi dengan keengganannya yang kemudian pergi, bisakah dikatakan bahwa ini merupakan hukum tersirat hingga membuatmu makin tenggelam dalam rasa bersalah sebab diamnya ia.  Mungkin, begini caranya menghukummu hingga tidak pernah ada rasa tenang, nyaman, bahagia, dan lega dalam hatimu.  Merasa bersalah, berdosa, kotor, itulah yang kau rasakan.  Tapi percayalah, meski ia hadir, memukul, memaki, atau bahkan melukaimu seperti yang lain, kau akan tetap merasa bahwa tidak ada hal yang bisa menebus salahmu padanya.

Orang itu pergi saat kau tahu bisa mencegahnya namun kau tidak lakukan apapun, diam bagai pesakitan di kursi terdakwa.  Orang itu pergi dengan kebodohan pertamamu yang nyatanya sangat fatal.  Bodohnya pula dirimu biarkan orang itu pergi dengan tangan kosong bersama perih dan luka tidak tampak yang semuanya sebabmu dan tidak sedikitpun kau bantu ia meringankan beban luka dan perih tidak tampaknya.

Pening, tidak mengerti, gagal paham.  Rangkaian kata yang sulit dicerna memasuki pikiran.  Entah bagaimana mengatakannya, entah bagaimana menuntaskan kalimat yang sulit diucap, entah bagaimana pula menyelesaikan masalah rumit tanpa ujung penyelesaian.

Pekatnya langit malam Seoul tanpa satupun bintang yang mau menampakkan keindahannya, bulan bahkan tidak mau sedikitpun menyembulkan dirinya, mewakili dirimu.

 

Langit gelap tanpa cahayanya.  Namun, manusia tidak mau semenyerah itu untuk menunjukkan keceriaan dan sinar buatannya sendiri.  Lampu-lampu yang menerangi kota Seoul seolah tidak akan pernah padam, dan itu bahkan belum cukup untuk menandangi kemeriahan langit yang menghilang saat ini.  Lampu-lampu kecil yang jika dilihat dari jauh tampak seperti bintang dan tampak paling bernafsu menggantikan peran cahaya langit, memenuhi satu kediaman mewah ditengah kota padat penduduk itu.  Sejak seminggu kemarin, rumah itu berbenah.  Mengecat ulang tembok, merapikan taman sekelilingnya, bahkan memberikan hiasan-hiasan cantik hingga tampak bagai istana dalam dongeng.

Beberapa orang lalu lalang keluar masuk rumah besar tersebut, entah mereka yang berseragam dan berjalan dengan banyak barang dalam tangan, entah mereka yang menaiki kendaraan mewah dan melangkahkan kakinya keluar dengan berbagai hal mahal dan mewah yang dikenakan, maupun segerombolan orang yang entah harus disebut pengganggu atau orang tidak beruntung sebab hanya bisa berada diluar gerbang tanpa bisa masuk dengan memegang benda yang tidak pernah berhenti mengeluarkan bunyi khas—kamera.

Ini sudah larut, sangat larut bahkan untuk sebuah pesta pernikahan yang masih saja tampak ramai seolah mereka semua begitu menikmatinya dan tidak ingin buru-buru pergi.  Kedua mempelai pengantin sudah tidak menampakkan dirinya lagi, tersisa keluarga dua belah pihak yang melayani tamu undangan dengan senyum paksa pada salah satunya.  Mata berair, namun dikatakannya bahwa itu sebab udara malam yang terlalu dingin bagi tubuh tuanya.

Sahabat dan para undangan saling bercengkrama, tawa tidak pernah hilang dari wajah mereka tanpa tahu ataupun peduli pada riak sedih sang empunya acara.

 

 

Awalnya, pernikahan ini tidak untuk publik.  Awalnya, pernikahan ini bersifat private.  Awalnya, pernikahan ini dirancang dengan cinta dan kebahagiaan.  Awalnya pula, pengantin wanita cantik dengan gaun dan segala hal indah lain yang dipakainya bukanlah ia, Hwang Ji Eun.  Bukan.  Bukan Hwang Ji Eun yang ingin Kai nikahi, bukan Hwang Ji Eun yang harusnya menjadi mempelai pada hari ini dan menyandang gelar Nyonya Muda Kim, bukan pula Hwang Ji Eun wanita yang harusnya memakai gaun rancangan Oscar de la Renta setelah hampir satu tahun dipesan dan ditunggu.

Pernikahan ini salah, begitu kata mereka yang tahu.  Namun, pernikahan ini adalah benar bagi mereka yang tidak tahu.  Dan pernikahan ini menyakitkan bagi yang mencintai Kai.

Bukankah dunia memang begitu, mata tidak selalu memandang jalan lurus.  Kerikil tidak selalu menjadi hambatan bagi seseorang.  Bahkan hujan disebut sebagai kebahagiaan untuk beberapa orang, namun juga masalah untuk beberapa orang.  Mungkin, begitulah Tuhan menciptakan manusia dengan segala perbedaannya.

Namun harusnya, seberbeda apapun isi kepala seseorang tidak menjadikan dia lupa pada batas mana harusnya ia boleh berada.  Melewati batas, tidak ada yang suka jika garisnya dilewati apalagi tanpa ijin maupun permisi.

 

 

 

 

Malam gelap tanpa satupun cahaya seperti yang sudah dikatakan tadi, mewakili gelapnya hati dan pandangan Jong In.  Pria tinggi yang oleh teman juga pemujanya dipanggil Kai itu berdiri pada balkon kamarnya dengan beberapa kancing kemeja yang terlepas asal habis dikoyaknya tidak peduli.  Angin malam menyapanya—dingin, namun Kai bahkan tidak ingin beranjak barang sedikitpun dari tempatnya.  Rambut hitam pekat Kai yang berantakan sebab sentuhan angin malam tidak pria itu indahkan sebagaimana tubuhnya yang hampir membeku sebab dengan mudahnya tersentuh angin musim dingin.  Kancing yang terlepas membuat bagian tubuh atasnya mengintip, mampu menyihir beberapa penggemarnya andai melihat.  Namun, Kai tidak sedang berada di panggung ataupun melakoni sesuatu hal yang digunakan untuk membius penggemar.  Pria itu berdiri dan melakukan apa yang kini dilakukannya sebab terlalu muak.  Pemandangan membahagiakan dihalaman belakang rumahnya menguliti dirinya sedikit demi sedikit hingga perihnya terasa.

Untuk kesekian kalinya, Kai menenggak champagne pada gelas yang dipegangnya dalam satu teguk dan langsung kosong.  Rasa-rasanya, gelas tidak mampu membasahi kerongkongan keringnya ataupun membantunya lepas dari beban yang membuatnya keskitan hingga satu botol tersisa diantara botol-botol champagne lainnya dia ambil, meneguknya kasar.  Mata Kai memburam, pandangannya tidak sejelas tadi begitupun tubuhnya yang hampir jatuh terhuyung andai tidak berpegangan segera pada pembatas balkon kamarnya.

Kemeriahan pesta, keceriaan orang dibawah sana, juga splash kamera yang entah kapan akan berakhir, mengiris-ngiris hati Kai—lagi.  Pria itu tersenyum, sulit untuk mengatakan apakah itu senyuman sedih atau sinis.  Beberapa kali, nafas kasar Kai terdengar.  Berhembus diantara angin hingga seolah ingin melawan arus.  Pria itu  menunduk perih, ponsel diatas meja tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupannya seperti biasa.  Menyala, Kai ingin ponselnya kembali menyala dengan nama Clara yang tertera.

 

 

 

Ji Eun, sang pengantin wanita hari ini muncul dari balik pintu yang baru saja ditutupnya rapat.  Angin dingin dari jendela dan balkon terbuka langsung menyambutnya, menerbangkan beberapa rambut halusnya, tudung penganting, dan rumbai gaun hingga tubuh kurus itu bukan hanya langsung merasa dingin, namun juga bisa jatuh akibat berat angin yang menjadi beban.

Pandangannya langsung berpusat pada punggung kuyu tidak jauh dari posisinya kini berada.  Seperti biasa memang, Ji Eun hanya melihat Kai.

Perlahan, Ji Eun melangkah—mendekati suaminya.  Gaun pengantin yang dikenakannya terasa makin berat dalam tiap langkahnya, kalung berlian yang mengalungi lehernya terasa mencekik seolah itu adalah ular yang terus menerus melilitnya dengan kuat,  begitupun segala hal indah lain yang dikenakannya.  Ji Eun tersiksa andai bisa mengatakannya.  Tapi, siapakah yang mau mendengarnya di rumah ini?  Tidak ada.

Bunyi ketukan sepatu Ji Eun yang beradu dengan lantai makin terdengar, mengusik pendengaran Kai seolah menajam.  Tanpa perlu bertanya, tanpa perlu melihat, jelas pria itu tahu siapa yang saat kini mendekatinya.

“Aku tidak mau melihatmu, pergi.”  Seloroh Kai tidak jelas dengan kesadaran tersisanya.  Matanya yang memerah, menoleh dan menatap Ji Eun lebih jijik dibanding saat berada di pub beberapa waktu lalu.  Tangannya yang memegang botol champagne tampak mengerat seolah mengingat bagaimana hal macam ini terjadi dan apa yang membuatnya bagai orang asing malam itu.

Ji Eun diam, mematung tanpa suara.  Wajahnya datar—tidak terbaca.  Sebelum memasuki kamar pengantinnya, tebakan mengenai penolakan dan segala hal menyakitkan lainnya sudah dirinya prediksi.  Hasilnya tidak mengecewakan, Kai tidak menginginkan kehadirannya.

Berbeda dengan keadaan di pub dimana ia menampakkan senyum cantik juga sikap menuntut agar Kai meghabiskan waktu dengannya, kali ini Ji Eun diam saja.  Berdiri sebagaimana posisinya tadi ketika Kai meminta pergi, gadis itu hanya melihat bagaimana suaminya tidak berhenti minum hingga tubuhnya merosot dan tidur berlapiskan lantai dingin.

Terjatuh lemas pada lantai marmer dingin yang makin membuat kulitnya serasa membeku, Kai memeluk botol champagne-nya tanpa peduli akan isinya yang tumpah mengikuti posisi tertidurnya hingga tubuh itu bukan hanya berbau alkohol, namun juga penuh dengan lumuran cairan champagne bagai mandi.

Ji Eun mengeraskan hatinya agar tetap diam tanpa sedikitpun mau menolong Kai meski hatinya terus menjerit agar kedua tangannya melakukan sesuatu pada Kai yang menggigil.  Lama wanita itu berdiri, menemani Kai yang mulai tidak bergerak dengan gaun dan segala hal yang melekat pada tubuhnya tanpa gerakan untuk melepas meski ingin.  Mata terpejam Kai setelah beberapa kali menggumam tidak jelas hingga akhirnya berhenti dengan tarikan nafas teraturnya, menjadi alasan Ji Eun bergerak—mendekati Kai seperti yang tadi tertunda.

Ji Eun mengingat-ingat, kejadiannya adalah seperti ini—persis.  Keadaan yang membuatnya dan Kai berada pada keadaan yang diinginkannya adalah keadaan macam ini, dipenuhinya Kai dengan alkohol hingga tidak sadarkan diri.

Tahu berat, ditambah gaunnya yang tidak kalah berat—Ji Eun menarik tubuh Kai seorang diri sebab terlalu malu jika turun kebawah untuk meminta bantuan agar membawa Kai ke atas ranjang.  Apa nantinya kata mereka jika tahu pengantin pria mabuk hingga pingsan di malam pertamanya?  Ji Eun tidak ingin lebih banyak menanggung rasa malu dan pandangan benci dari keluarga suaminya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Di antara kemeriahan pesta pernikahan Kai dan Ji Eun yang masih tampak sisanya, di tempat berbeda yang tidak kalah ramai dan tidak kenal waktu juga lelah, seorang wanita muda dengan pakaian indah yang membuatnya begitu cantik dan anggun membungkuk beberapa kali pada orang-orang disekitarnya.  Senyum palsu yang sudah biasa di tampakkannya benar-benar berguna untuk saat ini hingga tidak seorangpun curiga.

Wanita itu ucapkan terimakasih pada siapapun di tempat itu tanpa terkecuali hingga seorang wanita dengan pakaian sporty datang dan menariknya perlahan masuk ke dalam salah satu ruangan khusus disana, menyudahi dramanya.

Saat itulah, semua yang nyata tampak.

Mata berbentuk bulan sabitnya hilang, senyum riangnya pudar, segala hal tetek bengek sempurna dalam dirinya tadi lenyap, tanpa sisa.

 

Clara, begitu dirinya dipanggil.  Mengesampingkan segala hal yang orang inginkan darinya, Clara justru ingin memiliki apa yang orang lain miliki.  Wanita itu duduk berhadapan dengan kaca melebihi lebar tubuhnya hingga semua hal disekitar bisa dilihatnya jelas, tidak terkecuali dirinya sendiri.

Diam, Clara memperhatikan pantulan wajahnya dari cermin.  Melihat kedalaman matanya sendiri yang entah bagaimana membuat hatinya sesak.

Hye Mi—assistant pribadi Clara mendekat.  Wajahnya ikut memelas dengan kesedihan Clara yang tercetak jelas seolah ikut merasakannya.  “Clara-ya.”  Panggilnya selang beberapa waktu berusaha menenangkan dirinya sendiri agar Clara tidak merasa makin menyedihkan.

Clara mendongak, melihat Hye Mi yang juga melihatnya dan wanita itu perbaiki duduknya juga wajah pilunya.  “Aku bisa lakukan sendiri.”  Clara berucap, mengambil segala hal ditangan Hye Mi guna membersihkan wajahnya seolah mengerti kenapa wanita itu memanggilnya tadi.  Tentu, Clara mengabaikan kenyataan bahwa Hye Mi ikut sakit bersamanya.

 

 

Hye Mi menatap Clara makin sedih kala lingkaran hitam dimata wanita yang sudah dianggapnya adik sendiri itu mulai nampak bersama make-up yang menghilang, entah sampai kapan keadaan macam ini akan berlangsung.  Hubungan yang bahkan sudah dijalin semasa duduk dibangku sekolah yang kemudian berakhir sebulan lalu itu, siapapun tidak ada yang sangka apalagi hancur hanya dalam waktu semalam.

Hari ini, harusnya Clara yang menikah bersama Kai.  Hari ini, harusnya Clara tidak gila-gilaan bekerja hingga perutnya tidak terisi satu makananpun.  Hari ini, harusnya Clara tidak berada dalam ruang make up untuk bekerja, hari ini harusnya Clara tidak memunculkan wajah sedihnya.

“Kau masih belum mengaktifkan ponselmu?”  Tanya Hye Mi membangun suasana sepi diantara mereka yang sudah terjadi selama sebulan ini.

Clara melirik Hye Mi dari pantulan cermin.  “Tidak.”  Jawabnya pelan dan singkat seperti beberapa waktu ini dengan kapas yang masih menari indah disekitar pipinya.

“Orang tuamu menelfon.  Mereka bilang akan mengunjungimu minggu ini.”

“Aku sibuk.  Katakan pada mereka jangan datang.”

“Mereka rindu padamu.”  Desak Hye Mi untuk Clara menyetujui kedatangan orang tuanya.  Sayang, wanita itu menggeleng.

“Aku bilang tidak.”  Tegasnya dengan nada meninggi sebab ucapan sebelumnya tidak didengar.  Clara mendengus, melirik Hye Mi kesal dan melempar kapas dalam tangannya.  “Aku akan pergi.  Jangan ikuti aku malam ini.”  Ujar Clara lagi dengan mengeluarkan kaca mata hitam dari dalam tasnya kemudian pergi, secepat yang kaki jenjangnya bisa demi menghindari Hye Mi yang bisa saja mengikutinya kemanapun untuk menghindari hal tidak diinginkan.

 

 

Clara tidak bodoh, juga tidak ceroboh.  Dua kata yang melekat dalam diri Kai tidak ada padanya, dan Clara bertaruh untuk itu.  Dirinya hanya ingin bebas malam ini, tanpa tuntutan dan pandangan khawatir Hye Mi padanya.  Dalam benaknya, Clara selalu bertanya-tanya.  Jika pub memang begitu menyenangkan hingga Kai melupakannya, jika pub memang begitu menenangkan hingga Kai meninggalkannya, tidak bisakah dirinya juga merasakan semua itu?

Melepas semua atribut wanita baik-baiknya, Clara memasuki pub yang sangat ramai sebulan terakhir ini sebab Kai.  Wanita itu ingin tahu dan juga ingin merasakannya, kenapa begitu banyak orang yang datang kemari dengan alasan ingin melupakan masalahnya?  Lalu sebulan lalu, apakah Kai juga memiliki masalah sebulan lalu hingga kemari?  Masalah yang tidak diceritakan padanya dan sama sekali dirinya tidak tahu apakah itu berhubungan dengan dirinya atau tidak.  Jika berhubungan dirinya, mungkinkah mengenai pernikahan mereka?  Mungkinkah sebab Kai tidak mencintainya lagi?  Mungkinkah sebab Kai berakhir dengan Ji Eun adalah karena memang pria itu ingin menyingkirkannya?

Oh Clara……. kenapa pikiranmu jadi bercabang kemana-mana begini?

Satu teguk, dua teguk, tiga teguk, hingga entah berapa kali tegukan alkohol Clara masih belum merasakan hatinya yang baik-baik saja.  Wanita itu masih merasakan sakit dalam dirinya hingga semua minuman alkohol dipesannya dan diminumnya bagai kehausan.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Dingin, kaku.  Dua kata itu cukup untuk menggambarkan ruang makan kediaman Kim yang tidak semeriah semalam.  Jelas sepi, tamu-tamu undangan yang tidak tahu apapun sudah kembali ke kediamannya masing-masing.  Jikapun ramai, maka itu berasal dari beberapa pekerja yang dipanggil untuk membersihkan kediaman Kim, juga wartawan yang entah bagaimana bisa menginap didepan gerbang rumah Kai tanpa peduli sudah berapa kali mereka di usir.

Beberapa judul artikel serta berita harian menjadikan pernikahan Kai dan Ji Eun sebagai topik utama.  Mereka mulai menuliskan hal-hal tidak masuk akal mulai dari perilaku liar Kai dan Ji Eun, Ji Eun yang hamil dan karena itu mereka menikah di usia muda, hingga sampai pada Kai mencari perhatian publik atas scandalnya yang berlanjut dengan pernikahan.  Tidak ada satu judul artikelpun yang bahkan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka semalam, tapi jujur saja—Kai tidak ingin ucapan selamat dari siapapun atas pernikahan menjijikkannya ini.

Makanan di depan 3 orang itu, Ji Eun—Nyonya Kim—Kai tampaknya akan basi saking 3 penikmatnya tidak juga menyentuh.  Ketiganya saling terdiam bagai sedang mendengar pidato.  Mata memerah Kai terpejam beberapa kali, kepalanya masih sakit sebab dibangunkan paksa dan bahkan ia tidak sempat membersihkan diri sekedar untuk menghilangkan bau alkohol pada tubuhnya.

Ji Eun menarik nafas dalam, memotong keheningan dan suasana tidak mengenakkan itu—ia mulai menggerakkan tanganya, menyantap satu persatu menu yang sudah tersaji dihadapannya tanpa peduli lirikan tersinggung Nyonya Kim.

Kai tertunduk lesu, tanpa tenaga.  Tidak memperdulikan dua wanita hadapannya yang entah sedang melakukan apa dengan salah satunya makan dan salah satunya menatap tajam.  Pikirannya dipenuhi oleh Clara dan Clara.  Dimana Clara saat ini, bagaimana keadaannya, bagaimana caraku bisa bertemu dengannya, dan berlanjut dengan pertanyaan lain yang jawabannya adalah dirinya hanya ingin bertemu dengan wanita itu, menjelaskan semuanya, meminta maaf, dan berada disampingnya tidak peduli apapun.

Nyonya Kim mendesah, berat.  Wanita itu ingin hidup santai di usianya yang mulai menua.  Melihat Kai dan wanita yang dicintainya bahagia, hingga kemudian melahirkan cucu baginya.  Hidup sederhana seperti itu, yang dipikirnya mudah siapa sangka akan sulit?  Belum lagi omongan orang diluar sana tentang tingkah Kai, dan bagaimana masa depan putranya dalam industri layar kaca yang sudah digelutinya lama tidak akan secerah seharusnya.  Nyonya Kim menunduk seperti halnya Kai, dirasa ia telah kehilangan banyak hal.  Menantu, kebahagiaan, dan kehormatan.  Sejak sebulan lalu, kemanapun dirinya melangkah orang-orang selalu berkata mengenai Kai.  Bagaimana perilaku liar putranya yang bisa-bisanya melakukan hal tidak pantas bersama Ji Eun ditempat umum.  Dirinya, keluarga besar Kim…. malu tentu saja.  Tuan Kim bahkan membawa sesepuh keluarga itu untuk keluar negeri selama seminggu ini sebab tidak ingin mendengar tentang kabar memalukan dari Kai dan tidak ingin mengetahui bahwa Kai tidak menikahi Clara.

Tapi mau bagaimanapun menolak, nasi sudah menjadi bubur.  Menolak kehadiran Ji Eun saat telah menjadi bagian keluarga Kim—adalah lebih memalukan.

Maka, Nyonya Kim lunakkan pandangannya pada satu-satunya menantu yang ia miliki itu.  Tidak suka, kecewa, dan segala hal menyesakkan lain dalam hatinya ia pendam.  Mencoba menerima keadaan, itulah yang dilakukannya.

“Jong In-ah..”  Nyonya Kim memanggil putranya, menggenggam lembut tangan Kai yang terkepal diatas meja dan kepala yang sejak tadi merunduk—bergerak, terangkat.  Menampakkan wajah pucat, juga mata merah dan lingkaran hitam disekitarnya.

Perih batin Nyonya Kim, tidak pernah putranya tampak semenyedihkan ini.  “Makanlah.”  Wanita setengah baya itu melanjutkan perkataannya setelah beberapa lama berusaha menenangkan diri, ia ambilkan sendok tidak tersentuh Kai dan meletakkannya pada sela tangan putranya.  “Ayo, makanlah….”  Bujuk Nyonya Kim terus.

 

Ji Eun menghentikan kunyahannya, menelan makanan tersisa dalam mulutnya sekaligus dan melihat ibu-anak hadapannya sedih.  Andai aku tidak hadir, andai aku tidak menemani Kai saat itu, andai aku tidak pernah mendatanginya, hari macam ini tidak pernah terjadi.  Batinnya berucap tanpa suara, melihat seksama pada Kai yang bahkan tidak berniat melakukan satu keinginan eommanya untuk saat ini.

Mereka berdua, Nyonya Kim dan Kai saling berpandangan dalam diam.  Ji Eun tidak tahu dan tidak pernah mencoba untuk berbicara dalam pandangan bahkan saat bersama eommanya.  Untuk itu, saat mereka melakukan itu semua…. kembali Ji Eun gerakkan tangannya mengambil beberapa makanan dan melanjutkan sarapan tidak terasanya.  Biarkan saja, lagipula untuk apa kasihan?  Kau tidak bersalah sepenuhnya, kau bahkan tidak memaksanya melakukan semua itu.  Pernikahan ini bahkan terjadi tanpa tekanan ataupun paksaan.  Sedikit lebih lama, seperti yang kau inginkan Kai akan mencintaimu.  Dimulai dengan menjadikannya satu-satunya milikmu.  Pikiran berisik Ji Eun muncul, mengejutkan wanita itu tentang bagaimana bisa dirinya memiliki pikiran kotor seperti itu? Hentikan Ji Eun, hentikan.  Jangan jadi wanita jahat lagi.  Ucap wanita itu sekali lagi—tanpa kata.

 

 

Nyonya Kim memalingkan wajahnya, tidak sanggup berlama-lama menatap Kai yang bahkan seolah tidak bernyawa.  Dilihatnya Ji Eun, menantunya itu justru tengah makan dengan lahapnya seolah tidak ada hal buruk yang saat ini terjadi.  Padahal, selain nama Kai yang tercoreng…. namanyapun ikut tercoreng dan entah bagaimana masa depannya dalam dunia artis yang bahkan baru ditapakinya.

“Bagaimana karir keartisan kalian nantinya?”  Nyonya Kim bertanya tanpa menyebut nama dan itu jelas tertuju bagi mereka berdua secara tidak langsung.  Getar suaranya berusaha dihilangkan namun Ji Eun tidak tuli dengan itu.

Memelankan kunyahannya, Ji Eun berpikir—bagaimana ya?  “Entahlah.”  Jawab Ji Eun enteng, tampak tidak peduli seperti sebelumnya toh sebenarnya—ia ingin menjadi artis demi Kai dan kepergiannya beberapa hari lalu yang harusnya terjadi adalah sebab ia tahu pernikahan Kai juga Clara.  Cukup untuk membuatnya pensiun dari profesi artis yang sebenarnya tidak begitu diingikannya.  Kini, jika ada pertanyaan macam ini….. untuk ia yang tidak bernafsu pada profesi artis—salahkah?

Kemudian Kai.  Bukannya menjawab…. pria itu justru berbicara sendiri-dalam hatinya seperti yang Ji Eun lakukan tadi andai aku bukan publik figure maka melakukan apapun aku bersama seseorang…. orang-orang yang bahkan tidak mengenalku tidak akan menghujat juga mencaci.  Andai aku bukan seorang artis, hingga saat ini aku masih bersama Clara dan Clara-lah yang menjadi istriku seperti seharusnya.

“Jong In-ah.”  Nyonya Kim menggenggam sekali lagi telapak pucat anaknya, menggerakkan dua manik mata kosong Kai untuk kembali berpandangan dengannya, dan wanita itu—tidak kuasa ia melihat Kai seperti ini.  Tapi mau bagaimana?  Bisa apa dirinya?  “Makanlah, eo?”

Kai mengangguk, sekali.  Menoleh pada Ji Eun yang juga menatapnya sesaat sebelum kembali menunduk untuk melanjutkan sarapannya.

“Eomma pikir, ini saatnya bagimu mengambil alih perusahaan keluarga.  Lupakan mimpimu menjadi seorang artis hingga akhir.”

Kai menoleh lagi pada eommanya, wanita yang masih tetap cantik di usia paruh bayanya itu menunjukkan senyumnya—kecut.  Tahu ia bahwa Kai tidak terlalu suka bekerja kantoran dengan pakaian formal dan terkungkung dalam ruang kotak selama ber jam-jam.  Belum lagi penampakan file dan baris kalimat yang seolah menjadi teman kencannya sepanjang waktu.

Tarikan nafas panjang Kai dengan pundak menurun seolah mengiyakan bahwa masa depannya dalam industri hiburan memang sudah lenyap bersama skandalnya dengan Ji Eun, membuatnya tidak memiliki pilihan sebagaimana sebulan ini.  Bersiap menggantikan posisi appanya, Kai tahu tentang itu tapi tidak menyangka bahwa akan secepat ini.  Dalam pikiran Kai, nanti sajalah menggantikan appanya.  Saat dirinya sudah benar-benar matang.  Keinginan Kai, saat ini dirinya masih ingin bersenang-senang.  Namun bagaimanapun, keinginan dan rencana hanya tinggal kenangan.  Semuanya datang terlalu cepat dan bisa tidak bisa, mau tidak mau, dirinya harus lakukan apapun yang saat ini menjadi pilihan terbaik.

“Mm….”  Kai menggumam—iya, menunduk lagi dengan keningnya yang berkerut.  Entah memikirkan apa kali ini.

 

Nyonya Kim menarik dua sudut bibirnya agak paksa hingga tampak bergetar, mata berkaca-kacanya berusaha ia hilangkan dan Ji Eun yang melihat itu hanya bisa menelan semua rasa bersalahnya dengan makanan yang langsung ditelannya bulat-bulat.

Lama setelah pembicaraan terakhir tadi, ruang makan yang kembali sepi dan hanya berisik dengan denting alat makan Ji Eun juga Nyonya Kim, mendapat pencerahan dengan dering ponsel Kai diatas meja.  Seolah tontonan menarik, 3 pasang mata itu langsung melihat ponsel Kai yang tetap menyala bersama deringnya.

 

Clara calling…….

 

Kai membulatkan matanya seketika dengan nama yang tertera di layar ponselnya.  Gerak cepatnya tanpa pikir panjang hingga kemudian benda eletronik itu sudah menempel di telinganya, tidak mengurangi sedikitpun detak jantungnya ataupun menormalkan mata membulatnya.

“Clara-ya?  Yoboseyo, Clara?”

Ji Eun mengeratkan alat makan dalam genggamannya, matanya jelas-jelas tertuju pada Kai yang kini mengerutkan kening bersama panggilan gusarnya pada nama Clara dan pria itu—entah apa yang mantan kekasihnya katakan, segera Kai beranjak dari duduknya dan keluar, mengambil salah satu kunci mobilnya dan pergi tanpa mengindahkan panggilan eommanya yang berusaha menghalangi ia sebagaimana beberapa bulan ini agar tidak keluar rumah.

Ji Eun mengaduh tanpa suara, menangis tanpa air mata, terluka tanpa darah, dan tertatih tanpa penyangga.  Sebelah alis rapinya terangkat, menyaksikan mertuanya yang masih berada diluar setelah tidak berhasil menghalangi Kai, juga gerombolan wartawan yang langsung kebingungan sekaligus buyar beberapa untuk mengikuti mobil Kai meski tahu—rasanya tidak mungkin bagi mereka mengejar pria itu.

Sakit dalam hatinya, kembali Ji Eun rasakan.  Sama seperti ketika Kai tidak pernah memandangnya demi Clara, sama seperti ketika dirinya melihat mereka berdua selalu tertawa, dan sama ketika dirinya tahu bahwa Kai juga Clara tengah menyiapkan pernikahan.

 

 

-oo—oooooooo-

 

 

Kai memarkirkan mobilnya asal pada jalanan Gangnam, tepat didepan BlackPub yang salah satu pegawainya menelfon ia tadi melalui ponsel Clara.  Kai bingung, selama perjalanan tadi bahkan hingga sekarang Kai masih diliputi kebingung.  Ada apa?  Bagaimana bisa Clara tiba-tiba ada dalam pub yang bahkan tidak pernah dimasukinya?  Berada disini semalaman suntuk hingga kemudian mabuk dan tertidur sampai pagi?  Karena dirinyakah?

“Clara-ya………”  Panggil Kai tidak mengurangi kegusarannya, masuk segera tanpa halangan sebab keadaan sepi yang berbanding terbalik saat malam tiba.  Mengedarkan pandangannya pada kursi-kursi yang berada diatas meja sebab lantai yang tengah dibersihkan, beberapa kumpulan pelayan berpakaian rapi menarik perhatiannya.  “Clara-ya…………”  Panggil Kai sekali lagi dan mereka yang berkerumun menoleh pada Kai yang datang tanpa satupun penutup wajah, melihat terkejut sosok pria itu dan sayangnya Kai tidak peduli.

“K….Kkk—Kai?  Kai?”

“Ada apa dengannya?”  Serobot Kai memotong pandangan dan ucapan terkejut mereka padanya.  Didekatinya Clara yang tertidur pada salah satu sofa dan menyangga tubuh wanita itu kemudian, berusaha menyadarkan ia yang tampaknya masih belum juga sadar dengan bau alkohol seperti bau tubuhnya yang begitu melekat.  “Clara-ya, ada denganmu?”  Sesal Kai hampir menangis dengan terus mengguncang tubuh makin kurus Clara dibanding sebulan lalu.  “Kalian biarkan dia disini semalaman dan baru menghubungiku?!”  Bentak Kai menoleh pada gerombolan sekitar 5 orang dihadapannya yang langsung menunduk.

“Kami menemukannya di kamar mandi, kami tidak tahu bahwa Clara-ssi ada disini semalaman.”

Kai mendengus.  Dirinya paling tahu bahwa mereka bukanlah seseorang yang patut disalahkan.  Maka, Kai angkat tubuh lemah Clara keluar dari sana dengan ketidakpeduliannya pada bagaimana setelah ini, apakah kelima orang itu akan mengatakan pada wartawan mengenai ia yang menjemput Clara, apakah mereka akan mengatakan sesuatu yang membuatnya dan Clara terlibat skandal seperti halnya ia dan Ji Eun, ataukah mereka hanya akan diam saja.  Kai tidak peduli, dirinya sudah kehilangan terlalu banyak dan tidak mau kehilangan apapun lagi.

Dengan hati-hati, Kai masukkan tubuh Clara kedalam mobilnya dan sebab ia tidak tahu dimana kediaman baru wanita tercintanya ini, maka Kai putuskan untuk membawanya ke apartment yang seharusnya menjadi kediaman bersama mereka setelah menikah.

 

Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sebulan ini, tapi jika ditanya alasannya aku cukup tahu bahwa semua itu karenaku dan sama sekali aku tidak akan biarkan kau seperti ini lagi.  Sama sekali tidak akan aku biarkan kau jauh hingga berakhir seperti ini lagi.  Untuk kesekian kalinya, Kai mengucapkan janjinya, dan untuk kali ini…. Kai bahkan bersumpah tidak akan pernah mengingkarinya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Halaman belakang kediaman Kim yang semalam begitu ramai dan meriah, kini fungsinya telah kembali sebagai taman rindang yang hanya dipenuhi oleh warna hijau juga warna-warna cantik dari bunga yang sedang bermekaran.  Salah satu bunga kesukaan Nyonya Kim, lily—sedang mekar.  Wanginya menyeruak, mendominasi keadaan dan beberapa pohon dengan daunnya yang kecil berguguran.  Seperti menyampah, namun Nyonya Kim menikmatinya dan cukup suka dengan pemandangan macam itu sebelum nantinya beberapa orangnya akan membersihkan daun berguguran berwarna kuning yang tampak kontras dengan rumput hijaunya.

Nyonya Kim menarik nafas panjang, kedua tangannya memegang cangkir yang isinya baru saja ia minum sedikit.  Senyum di wajah tuanya tampak, garis-garis senyum pada kedua ujung bibirnya serta rona bahagia yang akhirnya terlihat, sedikit melegakan hati Ji Eun.

“Kenapa Nyonya baik padaku?”  Tanya Ji Eun penasaran setelah wanita berstatus mertuanya sejak kemarin itu tidak pernah marah dan bahkan mengajaknya menikmati teh bersama seperti saat ini.  Padahal, banyak salah yang telah dirinya lakukan.

Lupakan tentang bagaimana keadaan di pub sebulan lalu.  Keadaan setelah itulah yang Ji Eun maksudkan.  Appanya mendatangi keluarga Kim, meminta pertanggung jawaban dari sesuatu hal yang sebenarnya tidak perlu namun mendengar penjelasannya akan bantahan berita di luar tentang hubungannya bersama Kai yang kelewat batas appanya tidak mau hingga kemudian menuntut pernikahan demi nama baik keluarga.  Menyingkirkan Clara begitu saja, membuat pernikahan yang harusnya menjadi pernikahan Clara dan Kai menjadi pernikahannya bersama Kai.  Dirinya bahkan sudah membuat pria yang sejak dulu dicintainya diam-diam menderita.

“Aku banyak melakukan salah.  Kenapa Nyonya tidak sekalipun marah padaku?”  Usut Ji Eun.  Dirinya ingin tahu, apakah Nyonya Kim benar-benar menerimanya atau hanya berpura-pura dan kemudian mengajukannya surat perceraian hingga kemudian Clara bisa kembali lagi?

“Benarkah aku harus melakukan itu Ji Eun-ssi?”  Tanya wanita itu balik sambil mendesah lelah.  Cangkir berlapiskan emas di ujungnya yang sejak tadi Nyonya Kim pegang diletakkannya kembali pada meja kecil sisinya.  “Lalu jika aku marah, akankah semuanya kembali seperti semula?”

Ji Eun tertunduk.  Melipat bibirnya sendiri kedalam tanpa satupun jawaban untuk pertanyaan Nyonya Kim yang sebenarnya sangat mudah.

“Kalian melakukannya meski tidak seketerlaluan ucapan orang-orang diluar sana.  Tapi kalian melakukan hal yang seharusnya tidak kalian lakukan.  Appamu datang meminta pertanggung jawaban.  Pernikahan.  Andai aku bisa melakukan hal lebih selain menolak, akan aku lakukan untuk mencegah Clara pergi dan Jong In tidak semenyedihkan ini.  Semua sudah terjadi, akan bagaimanapun nantinya pernikahan kalian, aku tidak akan ikut campur.  Tapi melihat bagaimana pagi tadi Jong In langsung berlari tanpa bisa dicegah sebab berhubungan dengan Clara, aku pikir kau tidak berharap besar dari pernikahan ini.  Putraku itu, dia adalah orang yang mengikuti kemanapun Clara pergi selama bertahun-tahun agar dilihat.  Jong In adalah orang yang bahkan mau bekerja dengan gaji rendah supaya bisa bersama Clara.  Jika kau belum tahu, putraku menjadi seorang artis juga karena Clara.  Karena Clara bilang dirinya ingin menjadi artis, maka Jong In juga melakukannya.  Bisakah kau mengerti maksudku Ji Eun-ssi?  Sejak dulu hingga sekarang, hanya Clara yang anakku lihat.  Aku bahkan tidak mencegahnya untuk tidak menemui Clara.”

“Aku mengerti.”  Angguk Ji Eun.  Berdiri dengan menghadap Nyonya Kim untuk sekedar membungkuk sopan dan pergi kemudian dari taman belakang yang tidak bisa wanita itu lihat kecantikannya seperti yang Nyonya Kim lihat.

Mengeratkan kepalan tangannya, Ji Eun melangkah cepat menuju kamarnya bersama Kai yang tidak akan pernah menjadi kamar pengantinnya.

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

“Clara-ya.”  Panggil Kai pelan. Tubuh dihadapannya yang tidak bergerak sejak beberapa jam lalu mulai menunjukkan pergerakannya.  Mata yang sejak tadi terpejam mulai terbuka sedikit demi sedikit dan demi apapun, hal itu belumlah melegakan hati Kai sebab bagaimana reaksi Clara setelah ini, dirinya tidak tahu.

“Nghh…..”  Clara mengeluarkan suara khas baru terjaganya.  Sedikit kerutan muncul pada keningnya.

“Kau sudah sadar?”  Kai bertanya, menarik mata yang belum sepenuhnya terbuka menyorotinya langsung.

“Kim Jong In?”

“Eo.  Ini aku.”

“Apa yang kau lakukan disini?!”  Bentak wanita itu langsung.  Menepis tangan Kai yang semenjak tadi menggenggamnya lembut dan gerakan bangun dari tidurnya yang terlalu cepat membuat wanita itu mengaduh sambil memegang salah satu sisi kepalanya.

“Kau baik-baik saja?”  Kai bertanya khawatir, tidak peduli pada bagaimana Clara melihatnya tajam dan tidak suka.

“Aku membencimu.”

“Clara-ya.”

“Pergi.  Untuk apa kau bawa aku kemari huh?!”  Sungutnya menepis sekali lagi tangan Kai yang berusaha menyentuhnya.

Clara tidak tahu bagaimana rasanya melepas kemarahannya pada Kai yang melihat wajahnya saja membuat ia ingin menghambur dalam pelukan pria itu.  Clara tidak tahu bagaimana caranya memaki Kai sementara keadaan pria itu bahkan lebih menyedihkan darinya.  Clara juga tidak tahu bagaimana caranya melampiaskan semua perasaan menyiksa dengan status Kai yang bahkan bukan miliknya lagi.

“Maaf.”  Tunduk Kai.  Menahan sebisa mungkin air mata yang telah menggantung dikedua pelupuknya.

Pria itu tidak pernah merasa sejatuh ini, tidak pernah pula merasa sehina ini, dan tidak pernah pula merasa semalu ini.  Dirinya pernah melakukan hal lebih hina demi Clara, ketika memukul anak kecil yang mencuri permen Clara saat kencan pertama mereka dulu di taman kota.  Dirinya pernah mengalami hal memalukan saat bekerja sebagai tukang cuci piring di salah satu restoran demi bersama Clara dan mendapat makian beberapa kali sebab kurang bersih melakukannya.  Dirinya juga pernah mengalami kejatuhan yang membuatnya tidak ingin berdiri lagi seperti ketika meniti karirnya dan berharap agar Clara mau menikahinya.  Tapi diantara semua alasan itu, ada Clara.  Diantara semua hal memalukan, hina, dan putus asa itu, ada Clara bersamanya.  Ada wanita itu yang selalu berdiri disampingnya, didepannya, bahkan dibelakangnya.  Tidak pernah ada keadaan macam ini.  Tidak pernah ada kejadian dimana Clara tidak bisa dilihatnya selama lebih dari satu hari sejak matanya melihat sosok ini bersama degup jantung bertempo cepat 8 tahun lalu.

“Malam itu kau tidak mengangkat telfonku sebab kau bersama jalang itu.  Aku benar kan?”

“Keadaannya tidak seperti itu.  Setidaknya dengarkan aku dulu.”

“Untuk apa?”  Clara membulatkan matanya demi mencairkan air matanya yang sudah menggumpal dan siap untuk meleleh.  “Untuk apa aku mendengarkan semuanya jika kau sudah menikah dengan wanita itu?  HUH?!  UNTUK APA!”

“INI TIDAK AKAN TERJADI ANDAI KAU TIDAK MENGHILANG DAN MENGHINDARIKU SEBULAN INI!”

“SEBULAN LALU AKU TIDAK MENGHILANG DAN KAU MELAKUKAN HAL ITU BERSAMANYA!  LALU DIMANA SALAHKU!  KATAKAN!  DIMANA SALAHKU!”

“Maafkan aku.  Kumohon, kumohon maafkan aku.”  Aku Kai lemas.  Dirinya tahu dirinya salah, dirinya sadar tidak bisa salahkan siapapun bahkan Ji Eun.  Ini kesalahannya, murni.  Andai ia tidak mendatangi pub itu, andai ia tidak melampiaskan segala bebannya pada alkohol dan mendatangi Clara seperti biasa, semua ini tidak akan pernah terjadi.  Ini salahnya, salahnya.  “Aku salah.  Aku mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan dirimu.  Aku mohon jangan pergi.  Jangan menghilang lagi.  Aku akan mati Clara, aku tidak bisa jauh darimu.  Aku mohon.  Lakukan apapun tapi maafkan aku.  Lakukan apapun tapi kembali padaku.  Jangan menghilang aku mohon.  Aku mohon…. tolong.  Tolong jangan pergi lagi.”

 

Clara mendesah.  Membekap mulutnya dengan tangannya sendiri menahan isak sebab keadaan yang baru pertama kali ini dialaminya.  “Aku tidak bisa.”  Clara menggeleng pelan, menggantikan suara memohon Kai dengan isak pertama pria itu yang baru kali ini didengarnya setelah bertahun-tahun bersama.  “Appa dan eomma bercerai karena appa mencintai wanita lain.  Seumur hidup aku membenci appa yang menghianati eommaku.  Kau mengerti maksudku?  Aku tidak bisa bersama dengan pria beristri.  Aku tidak bisa.  Kita akhiri saja ini semua.  Hentikan kisah kita yang sudah berakhir sebulan lalu.”

“Aku akan ceraikan Ji Eun!”  Kai mendongak cepat.  Menatap mata berair Clara yang merontokkan sendinya hingga rasanya ia akan terkulai lemas.  “Orangtuanya memintaku untuk menikahi Ji Eun demi nama baik keluarga,  sekarang aku sudah menikahinya seperti keinginan mereka dan aku akan menceraikannya seperti keinginannku juga keinginannya yang sama sekali tidak ingin ini.”

“Kau yakin?”  Desis Clara, melirik mantan prianya sambil menghapus tetes air mata sebelum mengaliri pipi pucatnya.  “Dia mencintaimu.  Hwang Ji Eun, dia adik kelas yang dulu selalu mengirimimu surat.  Istrimu itu adalah adik kelas yang dulu selau aku ejek sebab pakaian dan tampilan kampungannya tapi kau bela mati-matian.  Dia adalah gadis yang selalu mendahuluiku memberiku kado ulang tahun, ataupun mendahuluiku saat akan mengucapkan selamat pada tiap pertandingan yang kau menangkan.  Kau lupa?  Atau sengaja tidak ingat dihadapanku?”

Kai tersenyum nanar, menggeleng tidak percaya pada tiap kata yang Clara ucap meski ia tahu bahwa Clara bukanlah seorang pembohong.  “Tidak mungkin.”  Desis Kai seolah menolak dan Clara tersenyum pilu.  Bisakah ucapan Kai barusan diartikan sebagai rasa tidak percaya padanya dan pembelaannya lagi pada wanita yang dulu juga selalu pria itu belas?  “Mereka dua orang yang berbeda Clara-ya.”

“Apa karena kau sudah menidurinya maka kau yakin dengan itu semua?”

“TIDAK!”  Bentak Kai langsung tanpa pikir panjang.  “Seumur hidup aku hanya pernah menidurimu!  Kau tahu itu!”

“Bagaimana bisa aku tahu jika perilakumu bersama Ji Eun sebulan lalu saja aku tahu dari tv.  Bagaimana bisa aku tidak tahu bahwa kalian sudah tidur bersama apalagi kalian sudah menikah.  Huh?!”  Clara menantang, mendongakkan kepalanya pada Kai yang menajamkan pandangannya pada ia.  Cengkraman tangan Kai yang tiba-tiba menarik dirinya hingga terseret bersama pria itu tidak bisa dilepasnya seperti tadi.  clara tidak tahu dan tidak mengerti, akan kemanakah Kai membawanya?  Akan kemanakah Kai menariknya dengan kasar dan marah seperti ini?  Apa ia melakukan salah?  Rasanya tidak.  Semua yang diriya katakan adalah kebenarannya.  “LEPASKAN.  KAU AKAN MEMBAWAKU KEMANA?!”

“Rumah.”  Jawab Kai sedingin ucapannya pada Ji Eun saat membangunkannya tadi pagi dan Clara tidak tahu, apa yang akan dilakukannya di rumah Kai sementara ada Ji Eun disana?

 

 

-oo—ooooooo-

 

 

Kai POV

 

Jangan tanyakan apa yang ada dalam benakku karena aku tidak akan membaginya.  Apa yang nanti akan aku katakan dan kenapa aku membawa Clara, menggenggam tangannya yang bergetar, menyaksikan bulir air matanya keluar sebabku, tidak akan pernah aku maafkan diriku sendiri atas apa yang terjadi sebulan ini hingga tubuh wanitaku mengurus bagai terkena busung lapar.

“Jong In-ah, apa yang akan kita lakukan di rumahmu?”  Tanyanya dengan suara bergetar dan sedikit kekhawatiran aku lihat pada pancaran matanya.  Mungkin dia tengah berpikir bahwa aku akan melakukan sesuatu yang membuatnya makin terluka, tapi percayalah… aku tidak akan lakukan itu.  “Jong In-ah!”

“Diam dan percayalah padaku seperti 8 tahun ini.”

Clara mendengus, mungkin kebersamaan panjang kami tampak bukan apa-apa baginya setelah ini semua.  Tapi aku tidak peduli dengan isi kepala Clara tentangku ataupun isi kepala orang lain dengan keadaan yang sebentar lagi akan aku munculkan.

Gerombolan wartawan didepan rumah masih dengan tidak tahu malunya berdiri, entah mereka menunggu apa aku tidak mengerti,  Tapi haruskah aku panggil pihak keamanan agar mereka semua menyingkir?

Clara menutup wajahnya dengan jacketnya, ia tampak berhati-hati dan tidak ingin hubungan kami diketahui seperti halnya beberapa tahun belakangan ini.

“Ayo keluar.”  Ucapku melepas genggaman yang sejak tadi tidak aku lepas sebanyak apapun Clara ingin melepaskannya.  Segera aku putari mobilku dan membukakan pintu bagi Clara.  Tangannya yang memegang tas aku pegang, seerat dan setakut tadi.  Aku benar-benar tidak ingin dia pergi.

“JONG IN-AH!”  Teriakan eomma dari dalam rumah terdengar, membuat Clara menghentikan langkahnya dan saat aku menoleh—gelengan kepala bersama mata berairnya kembali muncul seolah menolak dan tidak ingin melanjutkan langkahnya.

“Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan.  Tapi jika sebulan ini kau anggap aku pengecut, bajingan, sampah, hina, atau apapun…. biarkan aku menjadi diriku lagi hari ini.”  Jelasku cepat, kembali menarik Clara agar kembali mengikuti langkahku masuk ke dalam rumah dan eomma juga Ji Eun yang mengekori langkah eomma menjadi tanda bagiku untuk berhenti.

Beberapa orang akan berkata bahwa aku makin menyebalkan, makin brengsek, makin tidak tahu malu, makin menjijikkan, bahkan makin kelewatan.  Tapi toleransiku untuk batas kesabaran dan kebaikan sudah sampai dan tangis Clara juga hatiku yang sakit sebab ini semua, tidak boleh kembali terjadi.  “Tuan Hwang memintaku menikahi Ji Eun dan aku melakukannya, tanpa kekacauan sedikitpun.  Kini, setelah aku melakukan apa yang appamu lakukan Hwang Ji Eun.”  Sebutku dengan tunjukan padanya yang langsung mendongak, melihatku dengan kedua alis datarnya yang membuatku selalu tidak berdaya menolongnya sejak dulu… dan ya, Clara benar.  Dia adalah gadis yang dulu selalu diejek sebab tampilannya.  “Aku akan melakukan keinginannku sebab keiginan appamu sudah aku lakukan.  Aku ingin kita bercerai.  Sekarang juga.”

 

 

 

Tada……….. masih ingatkah dengan ff ini? Sempet ada di red list dengan label yang gak mungkin lanjut, ada seseorang yang nanyain ff ini mulu dan akhirnya aku baca ulang.  Pas awal2 rada bingung, kenapa aku gak lanjut ini ff dan malah masukin ke red list?  Dan akhirnya….. kebanyakan cast juga gak fokusnya konflik buat aku tarik kesimpulan kalo itu adalah alasanku kenapa dulu gak lanjut, terlalu bosen dan jenuh dengan banyakanya cast.  Karena itu, aku reboot ini ff dengan karakter utama dan konflik yang lebih jelas ^^

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Uchie vitria says:

    Hai vid… Long time no see
    Aku udah gk masuk grup line mu lagi ya abisnya hpku ngeblank dan datanya hilang semua
    Ini ff yang nikin aku tertarik ama blog mu awalnya dan dengan alurnya yang seperti ini bakal impossible banget kan ya buat kai dan clara bersama secara hwang jo eun yang udah lama memendam cinta lamanya pada kai dan menjadi orang yang selalu dibela kai dimasa sekolah
    Lepas dari chapter ya g udah gk akan dilanjut lagi sekarang jadi oneshoot atau series juga bagus kok

    Liked by 1 person

    1. Mrs. Bi_bi says:

      iya kak. kaget aku pas kakak left… kalo ada keinginan gabung lagi ya kak ^^
      kangen ngobrol sama kakak

      Like

  2. cerita2 mu selalu menarik…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s