Dan dia tersenyum, menunjukkan rasa bahagianya dengan tangan putih melambai jauh….. sampai pada mata mereka yang bersorak bagai orang gila hingga menangis.  Dalam hati kecilnya ia berkata, mereka mencintaiku?  Menangis untukku, membelaku mati-matian ditengah kabar menyakitkan.  Mereka masih ada disini, mempercayaiku yang bahkan sudah dikatakan gila.

Panggillah ia Mac, pria dengan rambut sebahu yang ujungnya hampir melengkung layaknya rambut wanita.  Bibirnya lebih merah dibanding pria lain, jelas…. sebab ia menggunakan pewarna.  Tapi percayalah, dia pria normal.

Tongkat setinggi pinggang yang dijadikan pegangan sebab sebelah kakinya mengalami cidera menemani langkah tertatihnya diantara kerumunan manusia.  Sebelah tangannya lagi, memegangi payung berwarna hitam dan tepat di sisinya, wanita tercintanya… mama, ada disisinya.  Menguatkan anaknya, Nyonya Mac tidak pernah meninggalkan Mac sebentar saja.  Putranya banyak, 10.  Tapi Mac yang berbeda selalu ada dalam pengawasannya.

Tepat didepan tubuh Mac, pria yang dipanggilnya papa seolah memimpin jalan diantara kerumunan.  Pria dengan wajah menakutkan itu memang tidak pernah tidak berhasil menerjang sesuatu didepannya.  Hanya mendramatisir, Tuan Mac tidak mungkin menendang lautan manusia itu tentunya.  Haha, tertawalah.

Mac tertawa, masih setia tersenyum meski dirundung masalah.  Tangannya melambai keatas, menyapa orang-orang yang masih mengerumuninya dan diantara itu ada kamera sebesar tas yang selalu menyorot wajahnya.  Mac tidak suka disorot dengan benda itu, serasa mengambil dirinya.  Maka ketika mengarahkan matanya yang tertutup kaca mata pada kamera besar itu, senyum Mac menghilang.

10 orang berbadan besar dan berpakaian rapi mengelilingi Mac.  Bukan untuk melukainya, berbuat sesuatu hal yang tidak-tidak, namun untuk membuat langkahnya tidak terganjal apapun.  Mereka bagaikan pemecah kerumunan yang ampuh, begitupun saat salah satunya mengambil payung yang Mac pegang dan memayungi pria itu.  Mac menoleh dan tersenyum, “Terimakasih.”  Ucapnya sopan.

Tangan Mac makin bebas kini, jika tadi ia melambai sembari menghimpit payungnya, maka kini ia tidak perlu lakukan itu lagi.  Rasa terimakasih untuk dukungan orang yang mencintainya Mac tunjukkan dengan memegang dadanya, simbol ia merasa tersentuh dengan mereka.

Mac tersenyum lebar, sementara Nyonya Mac…. ibunya, tertunduk.  Mac mengatakan sesuatu pada kerumunan yang mengelilinginya.  Sayang, suaranya tidak terdengar.  Kerumunan itu bukan hanya menenggelamkan dirinya, namun juga suaranya.  Beberapa orang berkata, Mac mengatakan hati-hati, awas jatuh pada mereka yang mengelu-elukan namanya.  Beberapa orang lagi berkata bahwa Mac mengatakan pada ‘pelindung besarnya’ jangan lukai mereka, jangan sakiti mereka, hati-hati.. jangan sampai mereka terluka.

Oh Mac
Mac yang baik nan malang.

Nyonya Mac diam setelah berlama-lama bergumul dengan kerumunan dan teriakan kencang.  Kursi kayu yang kini menjadi tempatnya, juga suami yang duduk tepat disampingnya tidak tampak lebih baik baginya.  Kaca mata bening yang ia gunakan untuk meningkatkan penglihatan sebab seperti mata tua lain, ia tidaklah bisa melihat dengan baik lagi.  Mata tua itu, yang telah melihat banyak hal.. menunjukkan sorot lurusnya pada Mac dengan tegar.  Namun sebenarnya… bagi ibu manapun, keadaan seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa di-tegarkan.  Setidaknya, Mac yang masih bisa tersenyum di kursi pesakitan membuatnya lupa dimana saat ini dirinya berada berikut alasannya.

“Bisakah aku mendapatkan permen?”  Mac bertanya pelan pada polisi disampingnya yang langsung menoleh dan menunduk sebab Mac tengah duduk di kursi pesakitan dan lagi…. kakinya sedang tidak bagus untuk selalu digunakan dalam beberapa waktu kedepan hingga ia tidak mungkin berdiri.

“Sebentar.”  Polisi itu berucap.  Singkat, pelan, dan sopan.  Tidak seperti yang biasa ia lakukan pada terdakwa lainnya.

Mac tersenyum, kedua tangannya bertepuk tangan senang dan semua itu diabadikan oleh pewarta yang mengintip.  Tidak lama kemudian, satu toples besar permen yang Mac minta tiba.  Semburat senang pada pipinya hingga memerah tampak, segera ia ucapkan banyak-banyak terimakasih pada polisi tadi dan mulai memakan satu persatu permennya selama proses persidangan berlangsung.

 

Dalam hatinya, sembari melihat putranya yang memakan permen bagai anak kecil… Nyonya Mac berucap.  Bagaimana bisa orang sepertinya dituduh seperti ini?  Bagaimana bisa pria seusianya tetap menunjukkan keceriaan setelah apa yang terjadi?  Dan sekali lagi, Nyonya Mac mengingat pertanyaan putranya sebelum pergi ke pengadilan.  Pagi tadi, ketika Mac bangun tidur, ia langsung bertanya begini pada mamanya.  Ma, apakah seorang anak tidak boleh tidur bersama orang tuanya?

Nyonya Mac yang belum paham maksud putranya langsung berkerut bingung.  “Kenapa bertanya begitu?  Tentu saja boleh.  Sangat boleh bahkan, bukankah dulu… kau dan kakak-kakakmu, juga adik-adikmu sering tidur bersama mama juga papa?”

“Lalu kenapa mereka mengatakan tidak padaku?  Kenapa aku tidak boleh tidur bersama anak-anakku?”

 

Nyonya Mac menggeleng sembari menahan tangis diantara ramainya pengadilan yang hampir dimulai.  Tuan Mac yang melihat raut sedih istrinya hanya menepuk pelan tangan tua yang sejak dulu hingga sekarang menjadi favoritnya.  Pria berwajah menakutkan itu, sama seperti dulu… tidak terlalu pandai mengungkapkan perasaannya.

Mungkin Tuan Mac hanya berpikir bahwa istrinya selama berpuluh-puluh tahun ini sedih sebab apa yang menimpa Mac, namun sebenarnya.. andai saja Tuan Mac lebih peka.. ia akan tahu bahwa bukan karena itu.  Tapi karena pagi tadi, pertanyaan Mac yang ditujukan pada mamanya tidak terjawab.  Kiranya Nyonya Mac terlalu terkejut pagi tadi dengan pertanyaan Mac yang seperti itu hingga diam saja.. diam dan membuat Mac pergi dengan lesu.

Kini, Nyonya Mac sudah mendapatkan jawabannya dan karena itu ia menangis.  Bukan jawaban untuk Mac, tapi jawaban untuk dirinya sendiri… jawaban tentang betapa mereka lebih binatang dibanding binatang, jawaban tentang mereka yang menyakiti Mac bahkan tidak sadar tentang seberapa banyak luka yang ditorehkan.  Jawaban tentang bagaimana bisa mereka berpikir bahwa Mac yang tidur satu ranjang dengan anaknya adalah suatu kejahatan?  Toh, diantara manusia yang hidup dengan kabar buruk orang lain itu, manusia yang hidup dengan melampaui batasannya mengorek hidup seseorang, manusia yang bahkan tidak berhati dengan menuliskan hal jahat itu… adalah seorang anak dari orang tuanya, atau bahkan… mereka sendiri adalah orang tua dari anaknya.  Apakah mereka tidak penah tidur pada ranjang orang tuanya?  Apakah mereka tidak pernah tidur sembari dipeluk orang tuanya?  Apakah mereka tidak pernah tidur bersama anaknya?  Apakah mereka tidak pernah menina bobokkan anaknya?  Jika tidak pernah, Nyonya Mac akan sangat kasihan dan memakluminya.  Jika mereka pernah, jahat sekali.  Teganya mengatakan itu pada putranya, menjadikannya bahan candaan yang sama sekali tidak lucu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s