Dan pada akhirnya kita memang terpisah, tanpa ada ikatan lagi, tanpa ada jembatan penghubung, bahkan tanpa suara dan keinginan.  Aku yang melepasmu, memintamu tinggalkanku, memintamu bersama orang lain.  Kau melakukannya dan aku tidak tahu, bahwa ternyata ini sakit.  Kau melakukan setiap keinginanku, begitupun permintaanku untuk berpisah.  Namun ternyata, aku baru sadar bahwa ini menyakitkan.

 

Dina duduk pada tepian ranjang yang sedingin es, entah apa yang terjadi…. namun harusnya ia tidak merasakan dingin ini setelah 5 bulan kepergian pemilik sisi ranjang yang lain.

Sakit.  Dina berucap dalam hati, memegangi sebelah dadanya yang perih sebab secarik foto yang baru saja diterimanya.  Foto mantan pasangan hidupnya bersama seorang wanita, berpelukan-mesra.

Revan tidak pernah melihat wanita selain dirinya, Revan tidak pernah menyentuh wanita selain dirinya, Revan tidak pernah memeluk wanita selain dirinya, Revan tidak pernah berhubungan lebih dari sekedar teman selain dirinya… atau lebih tepatnya Revan tidak pernah melakukan semua itu dengan wanita lain selama masih bersamanya.

Dina tersenyum kecut.  Gadis itu miris, menangis untuk dirinya sendiri, dirinya yang bodoh juga menyedihkan.

Tidak… tidak… jangan salah paham, jangan salah sangka.  Dina tidak menangis untuk Revan yang mungkin sekarang telah bersama wanita selain dirinya, toh Dina sadar bahwa cepat atau lambat… Revan juga pasti akan bersama orang lain.

Dina menangis untuk dirinya sendiri.  Untuk dirinya yang melepas Revan, meminta Revan melupakannya, memaksa Revan membatalkan pernikahan yang sudah berlangsung selama 2 tahun, melakukan hal menyakitkan untuk Revan selama pernikahan mereka.  Ya, Dina menangis untuk dirinya sendiri.  Untuk dirinya yang melepas Revan namun entah mengapa justru tidak menyukai hal ini.  Dina yang meminta Revan bertemu wanita lain dan saat itu terjadi, hatinya justru sakit.

Dina menggeleng, dirinya yakin…. ia tidak mencintai Revan.  Ia hanya merasa kehilangan orang sebaik Revan, ia hanya merasa bahwa tidak akan ada yang mencintainya lagi seperti Revan, ia hanya merasa bahwa Revan telah berhasil melupakannya.  Meski tidak rela untuk hal-hal itu, toh…. Dina mendongakkan kepala tegarnya kemudian.  Ia yang membuat keadaan ini terjadi, tidak ada alasan baginya untuk menyesal.

Selamat Revan, semoga kau bahagia dan dia bisa memberikan apa yang kau inginkan.  Semoga dia bisa berikan apa yang tidak bisa aku berikan padamu.

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. Fatir Oh says:

    Aduh eonnie…izin berselancar di WP eonnie…dan pas baca ini ga tau kenapa perasaan ngena aja…sedih…penasaran???Apa maksudnya disini dina ga bs ngasih keturunan makanya dy nyuruh revan sm wanita lain…

    Like

    1. Mrs. Bi_bi says:

      kamu stalking wpku hahaha 😀
      itu dina gak cinta sama revan, makanya minta pisah. tapi pas revan sama cewe lain, dia baru ngerasa kehilangan

      Like

      1. Fatir Oh says:

        hahaha…gumawo atas penjelasannya eonnie sayang…whaakakak #jijikmestibacanya

        Like

      2. Mrs. Bi_bi says:

        jijik mesti bacanya?

        Like

      3. Fatir Oh says:

        Maksudnya eoonie pasti jijik karena aq panggil eonnie sayang whakakak

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s