Teman, ada satu hal rumit untukku dalam hubungan itu.  Aku suka teman, atau sahabat yang orang sebut?  Ya, aku suka.  Sama seperti orang lain yang ingin memiliki seseorang untuk selalu ada disisinya, ingin seseorang untuk selalu menemaninya.  Teman.  Satu kata itu untuk beberapa hal aku suka, dan beberapa hal lainnya aku benci.

Sekali lagi, bukan karena aku tidak suka berteman aku berkata bahwa aku membenci beberapa hal dalam hubungan itu, tapi karena pandanganku sedikit berbeda dengan kebanyakan.  Setiap orang setidaknya butuh satu teman bicara, satu teman berbagi, dan satu teman untuk berkeluh kesah.

Aku, ingin seseorang yang tahu dimana batasannya.  Seorang teman yang tahu dimana tempat dia seharusnya.  Aku tidak pernah melewati garis batas yang orang buat, dan begitu pula keinginanku untuk orang-orang yang melihatku.  Tolong jangan lewati garisku!

Hidup sendiri untukku lebih nyaman.  Isi kepala tiap orang berbeda, pola pikir tiap orang berbeda, cara pandang seseorang juga berbeda.  Bagaimana mereka mengambil keputusan, bagaimana mereka tersinggung pada satu hal kecil yang menurut orang lain bukanlah apa-apa.  Memiliki hubungan pertemanan adalah lebih rumit dan sulit menurutku dibanding hubungan apapun.  Aku harus menjaga perilakuku, tidak membuat “teman” tersinggung sementara dia tidak mau mengerti beberapa hal tentangku.

Aku ingin sendiri.  Beri waktu aku untuk diriku sendiri.  Seorang teman datang ketika malam, melakukan sesuatu yang memaksaku untuk tidak melakukan apa yang aku suka.  Menulis, belajar.  Aku tidak bisa melakukan dua hal itu selain malam.  Kenapa?  Hingga saat ini aku belum tahu jawabannya kenapa otak dalam kepalaku hanya berfungsi ketika malam hingga dini hari.

Bisa menebak apa yang terjadi saat seorang temanmu datang ketika otakmu sedang bagus-bagusnya untuk berfungsi?  Dia mengambil waktumu, waktu yang sudah ditunggu-tunggu sepanjang hari.  Mengambil semua yang aku inginkan dan kemudian berkata, kau tetap bisa menulis meski aku disini.  Jawabanku dalam hati adalah tidak semudah itu.  Aku tidak bisa bekerja dengan hati dan otakku saat seseorang ada disampingku, aku tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan dengan seseorang yang selalu berbicara tanpa henti padaku dan bahkan menganggu tidurku kemudian.  Menginap, aku tidak masalah.  Hanya, Hei!  Tolong jangan ganggu aku.  Ada dua kepala yang sekarang dirimu miliki dan bersikaplah dewasa, jangan pikirkan dirimu tapi juga pikirkan diriku.

Teman adalah spesial, namun dari beberapa yang aku miliki, aku benci pengganggu satu ini.  Harapanku, karena semalam dia berkata kenapa wajahmu seperti itu?  Aku harap dia mengerti bahwa aku tidak suka kehadirannya yang selalu mengangguku, mengganggu jam produktivku.  Tapi sekali lagi, dia membuatku menggeleng karena nyatanya dia tinggal dan bahkan menginap.  Melarangku tidur sepanjang malam.  Doaku adalah, karena kami bersama selama beberapa tahun dan aku tidak bisa memberitahukannya langsung mengenai ini, semoga dia membaca tulisan ini!

Bukankah guna teman untuk menghilangkan stres?  Bukankah guna teman untuk bersenang-senang?  Bukankah guna teman untuk berbagi masalah dan bukannya menambah masalah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s